1. Batasi Kebiasaan Menghisap Jempolnya

Hentikan Kebiasaan Anak Menghisap Ibu Jari dengan Cara Ini
source: https://www.bustle.com/

Mungkin akan sangat sulit dan menyiksa jika Mommy langsung memberikan larangan keras bagi anak untuk menghentikan kebiasaan menghisap jempolnya. Namun, cobalah secara perlahan mengkomunikasikan ini padanya. Mommy bisa memintanya untuk mengurangi kebiasaannya untuk menghisap jempol. Cobalah batasi waktu anak menghisap jempolnya hanya saat ia berada di di rumah. Tentu ini artinya ia dilarang untuk menghisap jempol di depan umum.


2. Bangun Kesadaran Anak

Hentikan Kebiasaan Anak Menghisap Ibu Jari dengan Cara Ini
source: https://cmgstatesmanparenting.wordpress.com/

Memang akan sangat mengganggu melihat anak yang sudah besar tidak bisa lepas dari kebiasaan menghisap jempolnya. Namun, ini sebenarnya dapat dibicarakan dengan anak untuk membangun kesadaran yang lebih baik. Bantu anak untuk lebih memahami bahwa kebiasaan itu dalam waktu cepat harus segera dihentikan dan Mommy siap untuk membantunya. Berikan kepercayaan padanya bahwa ia akan mampu melalui tantangan ini. 

baca juga


3. Jangan Membentak atau Memarahinya

Hentikan Kebiasaan Anak Menghisap Ibu Jari dengan Cara Ini
source: https://oralb.com/

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kebiasaan menghisap jempol sebenarnya merupakan bagian dari cara anak mendapatkan kenyamanan dan rasa aman. Jika Mommy membentaknya dan memarahinya karena tidak berhenti menghisap jempol, ia akan semakin takut dan cemas. Inilah yang nantinya malah membuatnya semakin sulit menghilangkan kebiasaan ini untuk mendapatkan rasa nyaman dan aman dari ketakutannya.


4. Jangan Menjebaknya dengan Hal-Hal Menjijikan

Hentikan Kebiasaan Anak Menghisap Ibu Jari dengan Cara Ini
source: https://www.kidskintha.com/

Sebagian orangtua berpikir bahwa memberikan kopi pada puting susu dapat menghentikan kebiasaan menyusu anak dengan singkat. Mereka pun mempraktikan hal yang sama pada anak yang terbiasa menghisap ibu jari. Sayangnya, hal ini ternyata dapat berisiko membuat anak trauma. Ia juga sebenarnya tidak berhenti di waktu yang memang seharusnya. Risikonya anak bisa kembali pada kebiasaan ini kapan pun saat ia sedih, panik, atau takut.