Sejarah batik di Indonesia

Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Sejarah pembatikan di Indonesia sendiri berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

2 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Batik Nasional, Simak Sejarah Singkatnya Yuk!
source: https://bobo.grid.id/amp/08677979/sejarah-batik-di-indonesia

Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX, dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia I habis atau sekitar tahun 1920. 

Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

Semakin hari batik semakin dikenal, kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangga untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Batik di jaman Majapahit

Batik m telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majapahit, terutama di daerah Mojokerto dan Tulungagung. Batik Majapahit berkembang di daerah Tulungagung, hal ini dapat dibuktikan dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa yang dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, pada saat bekembangnya Majapahit dikuasai seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

Diceritakan bahwa ada aksi yang dilancarkan Majapahit untuk melengserkan Adipati Kalang, ia pun tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluarga kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal di Bonorowo yang sekarang bernama Tulungagung membawa kesenian membuat batik asli.

2 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Batik Nasional, Simak Sejarah Singkatnya Yuk!
source: https://m.utakatikotak.com/kongkow/detail/8089/Sejarah-Asal-Usul-Batik

Daerah pembatikan sekarang di Pada akhir abad ke-XIX ada beberapa orang kerajinan batik yang dikenal di Mojokerto, bahan-bahan yang dipakai waktu itu kain putih yang ditenun sendiri dan obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tinggi dan sebagainya.
 

baca juga

Batik cap dikenal bersamaan dengan masuknya obat-obat batik dari luar negeri. Cap dibuat di Bangil dan pengusaha-pengusaha batik Mojokerto dapat membelinya di pasar Porong Sidoarjo, pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar yang ramai, dimana hasil-hasil produksi batik Kedungcangkring dan Jetis Sidoarjo banyak dijual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik Mojoketo ikut lumpuh.

Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Jepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Jepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muncul lagi sesudah revolusi dimana Mojokerto sudah menjadi daerah pendudukan.

2 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Batik Nasional, Simak Sejarah Singkatnya Yuk!
source: https://infobatik.id/amp/sejarah-singkat-batik-cap/

Ciri khas dari batik Kalangbret dari Mojokerto adalah hampir sama dengan batik-batik keluaran Yogyakarta, yaitu dasarnya putih dan warna coraknya coklat muda dan biru tua. 

Meskipun pembatikan dikenal sejak jaman Majapahait namun perkembangan batik mulai menyebar sejak pesat didaerah Jawa Tengah, Surakarta dan Yogyakata. Hal itu tampak bahwa perkembangan batik di Mojokerto dan Tulung Agung berikutnya lebih dipenagruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Batik di jaman penyebaran Islam

Riwayat perkembangan batik di daerah Jawa Timur lainnya adalah di Ponorogo, kisahnya berkaitan dengan penyebaran ajaran Islam di daerah ini. Konon, di daerah Batoro Katong, ada seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang namanya Raden Katong, adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo.

2 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Batik Nasional, Simak Sejarah Singkatnya Yuk!
source: https://infobatik.id/amp/batik-tulis-di-jaman-penyebaran-islam/

Perkembangan selanjutanya, di daerah Tegalsari, Ponorogo ada sebuah pesantren yang diasuh Kyai Hasan Basri atau yang dikenal dengan sebutan Kyai Agung Tegalsari. Pesantren Tegalsari ini selain mengajarkan agama Islam juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan, ilmu perang dan kesusasteraan. Kyai Hasan Basri ini diambil menjadi menantu oleh raja Kraton Solo.

baca juga

Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena putri keraton Solo menjadi istri Kyai Hasan Basri, maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring-pengiringnya. 

Selain itu, banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren ini. Peristiwa inilah yang membawa seni batik keluar dari kraton menuju ke Ponorogo. 

2 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Batik Nasional, Simak Sejarah Singkatnya Yuk!
source: https://www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/lifestyle/read/2018/10/02/050500320/perjalanan-panjang-batik-dari-kraton-hingga-produk-mode-kekinian

Daerah perbatikan lama yang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke desa-desa Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Waktu itu obat-obat yang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kayu-kayuan antara lain: pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Sedangkan bahan kain putih juga buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import baru dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.

Pembuatan batik cap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama yang dibawa oleh seorang Cina bernama Kwee Seng dari Banyumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknya dalam pewarnaan nila yang tidak luntur dan itulah sebabnya pengusaha-pengusaha batik dari Banyumas dan Solo banyak memberikan pekerjaan kepada pengusaha-pengusaha batik di Ponorogo. Akibat dikenalnya batik cap, Ponorogo terkenal dengan batik kasarnya yaitu batik cap mori biru. Pasaran batik cap kasar Ponorogo kemudian terkenal ke seluruh Indonesia.

2 Oktober Ditetapkan Sebagai Hari Batik Nasional, Simak Sejarah Singkatnya Yuk!
source: https://m.blanja.com/katalog/p/fas/-produk-ukm-bumn-kain-batik-cap-motif-semen-romo-ponorogo-15701445

Berikut tadi asal mula batik bisa masuk dan berkembang di Indonesia. Sampai dengan hari ini batik sudah ditetapkan menjadi warisan budaya dari UNESCO lho, Moms. Wah, kita juga harus bangga menggunakan batik Indonesia ya, Moms!