YSS ditemukan telah tewas gantung diri pertama kali oleh Cristofel Key yang saat itu hendak memberi makan ternak kambing, tak jauh dari lokasi kejadian. YSS tewas di bekas rumah milik keluarganya sendiri yang sudah tidak ditempati lagi sejak 7 tahun lalu. Rumah tersebut tak berpenghuni sejak ibu YSS tewas dibunuh ayah kandungnya sendiri, Antonius Sinaga, dengan cara dicor dalam bak semen, tepat di samping rumah tersebut. Saat ini, ayahnya masih mendekam di penjara.

Jadi Korban Bully, Bocah yang Pernah Dapat Sepeda dari Jokowi Bunuh Diri
source: https://www.solopos.com/

Seperti dilansir Vivanews, awalnya Cristofel mencium aroma tak sedap di sekitar rumah tersebut. Ketika mendekati rumah yang telah kosong itu dan mengintip lewat celah jendela, ternyata ada seseorang telah tewas tergantung. Kejadian ini langsung dilaporkan ke pihak berwajib. Saat ditemukan, korban sudah dalam kondisi membengkak.

Pesan Korban Sebelum Bunuh Diri

Sebelum melakukan aksi bunuh diri, korban sempat membuat sebuah pesan yang dituliskan dalam buku. Dalam pesan itu, korban mengutarakan isi hatinya dan meminta maaf kepada keluarga dan bibi korban yang telah mengasuh dia sejak ibunya tewas dibunuh.

Pesan Korban Sebelum Bunuh Diri
source: https://www.finansialku.com/

Dalam suratnya, korban berjanji akan menghabisi ayahnya sendiri karena merasa dendam pada sang ayah yang telah membunuh ibunya. YSS pun juga mengeluh kerap menjadi bahan olok-olokan sebagai keturunan pembunuh dan anak tukang cor.

baca juga

Pernah Mendapat Sepeda dari Jokowi

Padahal semasa hidupnya, YSS pernah menerima hadiah sebuah sepeda dari Presiden Joko Widodo, saat melakukan kunjungan kerja di Kupang. Dia mendapat sepeda karena mampu menjawab pertanyaan Jokowi dan mampu menghafal Pancasila secara baik dan benar. Saat itu, korban masih duduk di bangku sekolah dasar.

Pernah Mendapat Sepeda dari Jokowi
source: https://www.viva.co.id/

Hingga akhir hayatnya, sepeda itu masih dalam keadaan baik. Sepeda itu biasanya digunakan korban untuk berolahraga ataupun bermain bersama teman-temannya.

Dimata keluarga, korban dikenal sebagai anak periang namun sedikit tertutup. Selain itu, YSS juga dikenal sebagai siswa berprestasi dan selalu mendapat juara di kelas sejak masih SD hingga kelas 1 SMP. Tak hanya juara, korban juga pernah mengikuti olimpiade matematika dan IPA saat kelas 5 SD hingga ke tingkat Provinsi NTT. Keluarga tidak pernah menyangka korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara tragis.

Bahaya Bullying Pada Mental Anak

Bullying merupakan tindakan penindasan yang dilakukan seorang oknum hingga korbannya mengalami kesulitan untuk mempertahankan dirinya. Pelaku biasanya lebih kuat dibandingkan korbannya, sehingga tindakan bullying akan dilakukan secara berulang.

Dilansir Klikdokter, di Indonesia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melaporkan bahwa pada 2015 sekitar 79 kasus perundungan terjadi di sekolah. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bullying masih menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap anak.

Sayangnya, masyarakat masih sering bersikap tak acuh terhadap bullying dan menganggapnya sebagai bagian dari sosialisasi. Bahkan ada yang percaya bullying harus dilalui setiap anak agar memiliki mental yang kuat saat ia dewasa.

Bahaya Bullying Pada Mental Anak
source: https://tuturma.ma/

Padahal jika dibiarkan berlarut-larut, bullying akan memberikan dampak secara mental pada seseorang yang mengalami bullying pada masa anak-anak. Diantaranya adalah:

  • Rendahnya rasa percaya diri
  • Rentan mengalami depresi
  • Gangguan kecemasan
  • Hiperaktivitas
  • Sulit berkonsentrasi
  • Kemampuan dan prestasi akademis menurun
  • Cenderung menyendiri dan sulit bersosialisasi.
Masalah mental tersebut tidak hanya dialami ketika anak berusia remaja saja, tetapi bisa bertahan hingga puluhan tahun setelahnya. Seperti YSS yang tidak tahan karena harus menjadi korban bully, sebab kejadian yang dilakukan ayah korban pada ibunya.

Semua pasti setuju bahwa bullying itu merugikan bagi korbannya. Bahkan bisa berujung bunuh diri. Disini peran orangtua tentu sangat penting. Ajarkan pada anak-anak kita sejak dini bahwa mengolok-olok atau mem-bully bukanlah perilaku yang baik bahkan merugikan.