Dilansir melalui Insertlive, seorang psikolog Zoya Armin mengatakan, seseorang yang gemar berpenampilan terlalu seksi dan agresif memiliki penyimpangan seksual. Zoya juga menambahkan, orang-orang yang sering kali mengunggah foto seksi ke media sosial disebut Ekshibisionis. Mereka biasanya merasa bergairah ketika keseksiannya  menarik perhatian banyak orang.

Senang Umbar Aurat Di Medsos Termasuk Penyimpangan Seksual? Ini Kata Psikolog
source: https://www.insertlive.com/
"Karena kebanyakan Ekshibisionis memang adalah penyimpangan perilaku seksual. Misalnya, ada kegairahan tersendiri ketika bisa menampilkan keseksiannya dan menarik perhatian banyak orang." ucap Zoya Armin saat tampil di Insert Story, Selasa (29/10).
source: https://www.insertlive.com/

Menurut Zoya, komentar banyak orang baik positif dan negatif dapat membuat pengidap eksibisionis merasa gembira dan semangat.

Memang ya Moms, ada beberapa publik figur Indonesia, sebut saja Vanessa Angel, Nikita Mirzani, atau beberapa artis lainnya yang sering menampilkan tubuh seksi dan keseksian mereka melalui akun media sosial pribadi. Namun mereka mengaku bahwa hal tersebut hanyalah sebuah keisengan semata bukan untuk menarik perhatian banyak orang.

Gangguan Eksibisionis

Dilansir melalui laman web Kompasiana, gangguan Eksibisionisme merupakan penyakit kesehatan mental yang berpusat mengekspos alat kelamin seseorang untuk mendapatkan kepuasan seksual. Biasanya orang yang menderita Gangguan Eksibisionisme menunjukan Kemaluan nya kepada orang asing yang tidak dikenal dan tidak memiliki kecurigaan sama sekali, khususnya kepada kaum ibu-ibu dan anak –anak.

Tindakan yang memamerkan alat kelamin biasanya disertai dengan gerakan sugesti dan memunculkan kepuasan tersendiri. Seorang eksibisionis merasa mendapatkan kenikmatan seksual ketika ia menunjukkan alat kelaminnya di depan orang lain kemudian orang lain menunjukkan reaksi kaget ataupun takut terhadap kejadian tersebut.

Pada saat memamerkan alat kelaminnya, individu dengan gangguan eksibisionisme (eksibisionis) tidak mempedulikan konsekuensi sosial dan hukum dari tindakannya. Dalam beberapa kasus tindakan eksibisionis ini juga diikuti dengan tindakan masturbasi saat melihat ekspresi dari korban yang merupakan kepuasan seksual bagi pelaku tersebut.

Gangguan Eksibisionis
source: https://www.infia.co/

Dilansir Dosenpsikologi, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan eksibisionis, salah satunya dengan terapi psikologis. Begini Moms caranya:

  • Pengobatan dengan hormonal: Obat seperti: medroxyprogesterone dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah, tapi hasrat seksual dikurangi secara signifikan. Diberikan per-oral.
  • Pengobatan dengan neuroleptik, regulasi serotonin digunakan untuk menghambat tindakan seksual.
  • Pengobatan dengan obat penenang (transquilizer): Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejala kecemasan dan rasa takut yang menyertai gangguan parafilia.
Nah Moms, itu tadi sekilas tentang gangguan eksibisionis. Memang bisa dilakukan beberapa pengobatan, namun semua itu kembali pada diri masing-masing.