Dilansir World of Buzz melalui Haibunda, sebelum bunuh diri, remaja bernama Wang JiaLe tersebut bersikap normal. Bahkan ia sempat makan malam bersama keluarganya. Namun malam itu, 24 Oktober 2019, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di kamar. Sebelum bunuh diri, JiaLe sempat berteriak memanggil sang ibunda.

"Ibu aku menyayangimu!" teriaknya

Ibunya yang mendengar teriakan tersebut bergegas masuk ke kamar JiaLe. Namun sayangnya sudah terlambat. Nyawa JiaLe tak dapat diselamatkan. Dikamarnya, JiaLe meninggalkan dua catatan. Pertama, untuk sang ibunda, dan yang kedua untuk seorang perempuan yang dia takdi sekolah.

Bunuh Diri Karena Verbal Abuse, Ini Pesan Terakhir Seorang ABG Untuk Ibunya
source: https://www.mamansoleman.net/

Dalam catatan untuk sang ibunda dan keluarga, JiaLe menulis permintaan maaf karena melakukan tindakan bunuh diri. Dia pun berharap keluarga menghormati keputusan terakhirnya. Dalam suratnya, JiaLe mengungkapkan bahwa meski ia mempunyai banyak teman karena kepribadiannya yang kocak, nyatanya ia merasa sangat kesepian di sekolah. Dan sudah tak terhitung lagi saat-saat JiaLe menangis hingga tertidur.

Sementara itu, catatan kedua yang ditujukan untuk perempuan yang ditaksirnya di sekolah berisi tentang permintaan JiaLe untuk menyampaikan pesan berikut.

"Kekerasan verbal sangat menyakitkan. Entah itu disengaja atau tidak. Saya berharap 'seseorang' bisa lebih baik."

Tidak hanya tinggal diam, keluarga JiaLe pun mencari tahu perihal kematian anaknya ini. Beberapa saksi menyebutkan bahwa mereka melihat JiaLe berlari naik dan turun tangga sekolah dan bahkan beberapa melihatnya menangis.

Namun Moms, terlepas dari seperti apa kekerasan verbal yang diterima JiaLe, yang jelas perasaan JiaLe sangat terluka karena kekerasan verbal yang ia terima.

Bahaya Kekerasan Verbal Pada Anak

Moms, selama ini mungkin efek dari kekesaran verbal tidak terlihat secara langsung, namun justru bentuk kekerasan yang satu ini benar-benar mematikan. Berikut ini bahaya kekerasan verbal terhadap anak yang Moms wajib tahu.

Inferiority Complex
Anak yang sering mengalami kekerasan verbal akan mengembangkan inferiority complex alias minder (inferior) dan tak percaya diri. Akibat lanjutannya, ia akan menarik diri dari pergaulan.

Kondisi fisik dan mental menurun
Kurangnya kepercayaan diri akan membuat fisik dan mental anak terganggu. Anak bisa mengalami depresi, nggak mau makan, sehingga juga memengaruhi pertumbuhan fisiknya.

Merasa bersalah
Jika anak terus-terusan mendapat kekerasan verbal, ia akan merasa bersalah dan berpikir ada yang salah dengan dirinya. Ia akan menganggap orang lain jauh lebih baik daripada dirinya, sehingga di lingkungannya pun ia akan menerima kekerasan verbal serupa yang menambah parah kondisi mentalnya.

Bahaya Kekerasan Verbal Pada Anak
source: https://www.haibunda.com/

Pesimis
Anak yang secara konstan menerima kekerasan verbal akan gagal mengembangkan sikap positif, sehingga memandang semua urusan dengan kacamata pesimistis. Ini bisa memunculkan masalah saat ia dewasa kelak.

Kecanduan Obat Terlarang
Jika anak tak percaya diri, minder, dan pesimis, maka ia akan dengan mudah menjadi seorang pecandu. Maka dari itu, nilai-nilai positif dan semangat merupakan hal-hal yang mampu mencegah seseorang terjerumus ke dalam hal-hal negatif.

Antisosial
Dampak paling parah yang dialami anak yang mengalami kekerasan verbal adalah gagal menjadi orang dewasa dan gagal menjadi orangtua yang baik.

baca juga

Tips Orangtua Cegah Kekerasan Verbal pada Anak

Sebagai orangtua, sebaiknya Moms dan Dads dapat menjadi tempat berlabuh buah hati. Karena Moms dan Dads adalah orang terdekat mereka. Untuk itu, agar anak-anak Moms terhindar dari Verbal Abuse atau kekerasan verbal, yuk ikuti tips cegah kekerasan vernal pada anak berikut ini.

Stabilisasi
Saat amarah memuncak, segera lakukan stabilisasi. turunkan emosi dengan menarik napas dalam, memegang sesuatu yang ada di sektiar.

Positif
Moms, mengancam adalah bentuk lain kekerasan verbal dan tak dianjurkan diterima anak-anak. Ilmu psikologi saat ini berkembang ke arah psikologi positif, dan tak lagi mendukung konsep reward and punishment. Jadi sebaiknya Moms dan Dads memberikan komentar positif, pada situasi negatif.

Apresiasi
Tingkatkan kebersamaan dengan anak agar lebih mudah memberikan statement positif. Salah satunya dengan memberikan apresiasi, bukan hanya pujian tetapi lebih pada membaca situasi.

Tips Orangtua Cegah Kekerasan Verbal pada Anak
source: https://www.money.id/

Tragis sekali ya, Moms nasib JiaLe. Karena itu, sebelum terlambat mari lindungi anak-anak kita dari kekerasan jenis apapun, secara fisik maupun verbal. Karena keduanya sama-sama berbahaya.