Crosshijaber Bukan Penyimpangan Seksual, Benarkah?

Dilansir dari WolipopDetik, seorang pria yang mengaku sebagai crosshijaber bersedia untuk diwawancarai untuk mengungkapkan pikiran dan pendapatnya mengenai fenomena perilaku crosshijaber. Dalam wawancara ini, ia menggunakan nama samaran, yaitu Dini. Menurut Dini, perilaku cross​​​hijaber bukanlah sebuah penyimpangan seksual atau penyakit mental. Baginya, ini adalah hal yang normal sebagai bagian dari ekspresi berpakaian seseorang. 

Dituding Melecehkan Agama, Ini Pembelaan Pria Crosshijaber
source: https://wolipop.detik.com/


"Tidak Semua Crosshijaber itu LGBT"

Dini juga mengungkap bahwa tidak semua crosshijaber datang dari kelompok LGBT. Ia mengaku bahwa ia memiliki orietasi heteroseksual di mana ia juga memiliki pacar. Bahkan, pacarnya pun mengetahui bahwa ia memiliki kebiasaan menjadi seorang crosshijaber. Menurutnya, ini adalah bagian dari ekspresi dirinya dalam berpakaian.

Dituding Melecehkan Agama, Ini Pembelaan Pria Crosshijaber
source: https://wolipop.detik.com/
baca juga

Meskipun begitu, Dini juga mengakui bahwa tidak sedikit orang-orang yang melakukan aksi cross hijab untuk melakukan aksi kejahatan seperti tindakan asusila atau bahkan mencuri. Akan tetapi, ia menggarisbawahi bahwa ia sama sekali tidak memiliki niatan untuk melakukan hal-hal tersebut. Sayangnya, ia memang kerap masuk ke toilet perempuan saat menggunakan pakaian perempuan ke luar rumah. Alasannya tentu karena ia tidak bisa masuk ke toilet pria dengan pakaian wanita.

Dituding Melecehkan Agama, Ini Pembelaan Pria Crosshijaber
source: https://nasional.okezone.com/

Selain itu, ia juga tidak merasa menghinakan atau menistakan agama. Baginya hijab dan gamis adalah bagian dari tren berpakaian dan tidak ada hubungannya dengan keyakinan dan hubungannya dengan Tuhan. Ia juga berargumen bahwa Tuhan tidak akan menilainya dari apa yang ia kenakan, melainkan berdasarkan amal perbuatannya.

Dituding Melecehkan Agama, Ini Pembelaan Pria Crosshijaber
source: https://www.viva.co.id/

Di sisi lain, dilansir dari Tempo, seorang psikolog dari RS Fatmawati, Widya Shintia Sari, M.Psi, mengatakan bahwa  fenomenadapat menjadi tanda bahwa adanya gangguan psikologis pada sekelompok orang. Namun, untuk memastikan hal ini diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. 

Jadi, bagaimana menurut Mommy?