Hak anak yang harus dipenuhi pasca perceraian kedua orangtuanya

Perceraian memang kadang menimbulkan polemik, terutama pada anak-anak korban perceraian tersebut. Karena selain ia tidak bisa tumbuh di tengah-tengah keluarga yang utuh, kadang banyak juga dari ayah atau ibu mereka yang abai terhadap hak-hak si anak.

Berkaca dari Layangan Putus, Anak Tetap Punya Hak Komunikasi dengan Ayahnya
source: https://m.fimela.com/parenting/read/3777166/memahami-lebih-jauh-perasaan-rapuh-amp-hancurnya-anak-korban-perceraian

Pada salah satu bagian dari cerbung Layangan Putus tersebut diceritakan bahwa sang ibu harus berjuang sendirian menghidupi ke empat anak kandungnya. Hal ini terjadi karena sang ayah memberhentikan fasilitas-fasilitas yang seharusnya di dapat sang anak dan juga menutup akses komunikasi terhadap mereka dan juga mantan istrinya.

Dilansir dari laman Haibunda, belajar dari kisah Layangan Putus, dalam keadaan sudah bercerai dengan mantan suami, seharusnya komunikasi antara ayah dan anak tak boleh putus. Sekalipun ada pihak yang tersakiti. Menanggapi hal ini, menurut psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi @ Brawijaya Clinic, Alfath Hanifah Megawati, M.Psi., Psikolog, setelah bercerai, yang terpenting adalah komunikasi yang terkait dengan anak.

Berkaca dari Layangan Putus, Anak Tetap Punya Hak Komunikasi dengan Ayahnya
source: https://womantalk.com/parenting/articles/lakukan-cara-ini-agar-anak-tidak-jadi-korban-perceraian-yLrBq

"Jika memang kita masih terasa sakit, batasi komunikasi kita dengan mantan suami. Tapi yang perlu diingat berkomunikasi dengan ayahnya adalah hak anak-anak kita. Sangat tidak adil bagi mereka jika hak mereka terenggut hanya karena sakit hati kita," ujar psikolog yang akrab disapa Ega tersebut.

baca juga

Jangan sampai anak jadi pelampiasan ego kita terhadap mantan suami

Ega melanjutkan, sebenarnya yang paling sulit pasca perceraian justru bukan di bagian di komunikasi dengan mantan pasangan. Akan tapi menahan diri untuk tidak membuat anak-anak terpapar oleh sakit hati kita kepada mantan suami atau istri tersebut. Misalnya bercerita hal negatif tentang mantan, ya walaupun hal itu memang terjadi.

Berkaca dari Layangan Putus, Anak Tetap Punya Hak Komunikasi dengan Ayahnya
source: https://cantik.tempo.co/amp/767763/4-kebutuhan-psikologis-anak-korban-perceraian

"Kembali lagi, apa yang kita tanamkan pada anak-anak kita tentang mantan suami kita, tidak akan mengubah pengalaman menyakitkan yang kita alami. Dari segi anak itu akan menjadi hambatan bagi diri mereka saat besar nanti," tutur Ega.

Permasalahan finansial terkait hak anak yang sering terjadi pasca perceraian

Sementara itu, terkait masalah biaya kehidupan anak usai bercerai dengan suami. Menurut Ega, permasalahan finansial, apalagi yang menyangkut anak adalah salah satu hal yang perlu disepakati bersama sebelum perpisahan dilakukan (perceraian), sedetail mungkin.

Hal ini karena jika sudah berpisah, komunikasi pasti sudah tidak seintens saat menikah ya, Moms. Dan masalah finansial menjadi sangat sensitif, sehingga bisa berdampak bagi kita dan anak-anak kita setelah perceraian.

Berkaca dari Layangan Putus, Anak Tetap Punya Hak Komunikasi dengan Ayahnya
source: https://www.hipwee.com/feature/tagar-savegempi-ramai-di-dunia-maya-ini-5-bukti-kalau-anak-nggak-selalu-jadi-korban-perceraian/
"Dalam kisah di cerbung (Layangan Putus), saya kurang paham apa yang terjadi sehingga suami lepas tanggung jawab dan langkah apa saja yang sudah dilakukan oleh sang istri," ujar Ega.
source: https://www.hipwee.com/feature/tagar-savegempi-ramai-di-dunia-maya-ini-5-bukti-kalau-anak-nggak-selalu-jadi-korban-perceraian/

Kembali lagi, jika perceraian adalah suatu hal yang tak bisa kita hindari, jangan rampas hak anak-anak kita. Perhatian juga untuk para Moms dan Dads, penuhilah hak-hak dasar si anak, seperti hak untuk tetap berkomunikasi dengan ayah atau ibunya, juga hak dalam memenuhi kebutuhan mereka yang sudah disepakati sebelumnya. Jangan sampai anak-anak korban perceraian tumbuh dengan tidak mendapat kasih sayang dari salah satu ayah atau ibunya, karena ini tentunya akan berdampak psikologis bagi sang anak di kemudian hari.