Dilansir CNNIndonesia, Kholifah (65), seorang guru PAUD di TK Kemala Bhayangkari, Jatinegara, Jakarta Timur, menceritakan keluh kesahnya selama menjalani profesinya. Dia mengeluhkan, banyaknya tugas atau laporan untuk puskesmas yang harus dibuat, padahal dia juga harus menyiapkan materi untuk mengajar keesokan harinya.

Kisah Guru PAUD yang Digaji Rp200 Ribu Tapi Dituntut Berkualitas
source: https://www.cnnindonesia.com/
"Keluhannya, suka banyak tugas. Harus buat laporan misalnya buat puskesmas, laporan kegiatan anak. Sedangkan kami persiapan buat besok juga repot. Sambil monitor anak-anak," ujar Kholifah.
source: https://www.cnnindonesia.com/

Wanita yang baru saja mengikuti kegiatan di Direktorat Jenderal PAUD Kemendikbud ini juga mengatakan meski banyak tugas yang membebani guru PAUD, dia tetap senang menjalani profesinya. Di kelas, Kholifah biasanya mengajar 10-15 anak didik. Usianya pun beragam, dari empat hingga enam tahun.

"Saya senang sama anak-anak, karena anak-anak itu unik. Mereka enggak punya dendam. Kalau dimarahin, hari itu juga sudah lupa lagi, langsung meluk bu guru," ujar perempuan berjilbab itu.

Narim (56), penilik guru PAUD di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat mengaku kebingungan jika harus mengevaluasi kinerja guru-guru yang dibimbingnya. Karena menurut Narim, dia sudah merasa beruntung masih ada guru yang mau mengajar di pedesaan.

"Sebagai pembina kami cuma mikir masih untung ada yang mau mengajar di pedesaan. kita enggak bisa maksa, ini tidak boleh, itu tidak boleh. Nanti siapa yang mau mengajar di sini," ujarnya saat ditemui di tempat yang sama.

Kisah Guru PAUD yang Digaji Rp200 Ribu Tapi Dituntut Berkualitas

Narim bercerita, kebanyakan murid di Setu memiliki latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa mengikuti pendidikan usia dini umumnya berkisar antara Rp50 ribu per bulan, bahkan kurang.

"Anak murid [di satu kelas] bisa cuma 10 sampai 15 orang. Satu anak bayaran sekolah Rp50 ribu per bulan. Kadang ada yang dibawah itu. Semampunya orang tua lah," kata Narim.

Jika dihitung-hitung dengan biaya itu, upah guru bahkan bisa kurang dari Rp200 ribu. Mengingat biaya sarana dan prasarana juga harus diperhitungkan selama proses belajar.

Apabila biaya sekolah dinaikkan, Narim khawatir orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya langsung ke sekolah dasar, tak usah lagi belajar di PAUD.

baca juga

Tak jarang profesi guru PAUD diisi mereka yang tidak memiliki gelar atau latar pendidikan yang memadai. Narim mengatakan mereka yang hanya lulusan SMA akhirnya diterima jadi guru hanya dengan syarat pelatihan mengajar sebelum terjun ke lapangan.

Selain itu, kata Narim, perkara keterbatasan sarana dan prasarana juga jadi persoalan yang banyak dikeluhkan guru. Sebab sarana dan prasarana yang memadai di sekolah merupakan poin krusial dalam proses belajar dan mengajar.

"Anak itu kan bermain sambil belajar. Jadi mengenal barang. Barang-barangnya beli atau buat sendiri. Kalau beli, dananya dari mana?" tambah Narim.

Kisah Guru PAUD yang Digaji Rp200 Ribu Tapi Dituntut Berkualitas

Ketika ditanya tentang hal tersebut, Direktur Pembinaan dan Pendidikan Anak Usia Dini Kemendikbud Muhammad Hasbi mengakui memang ada perbedaan kesejahteraan antara guru PAUD dengan guru satuan pendidikan lainnya.

Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, definisi PAUD dibagi menjadi dua. Yakni, PAUD formal termasuk taman kanak-kanak (TK), Raudhatul Athfal dan Bustanul Athfal. Ada pula PAUD nonformal, termasuk kelompok bermain dan taman penitipan anak (TPA).

"Hanya guru PAUD yang mengajar di satuan formal yang memiliki tunjangan sertifikasi profesi," tutur Hasbi.

Mengenai sumber pendapatannya, kata Hasbi, guru PAUD bisa memperoleh upah dari empat sumber. Di antaranya melalui alokasi dana desa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) dan pungutan dari orang tua murid.

Untuk alokasi dana dari APBN, guru PAUD dapat menerima sebesar Rp200 ribu per bulan dengan prinsip bergilir.

Kisah Guru PAUD yang Digaji Rp200 Ribu Tapi Dituntut Berkualitas
source: https://www.cnnindonesia.com/

Menanggulangi kesenjangan ini, Kemendikbud berupaya mendorong perbaikan legislasi terkait UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang mengatur persoalan ini.

"Kita mendorong agar UU ini memperhatikan pendidikan nonformal juga. Dengan jalan seperti itu, semua bisa terwadahi. Guru yang gajinya hanya Rp200 ribu per bulan bisa mendapat gaji sama dengan guru formal yang lain," tambah Hasbi.

Wah Moms, ternyata guru benar-benar profesi yang mulia, ya. Seperti Kholifah yang hanya digaji Rp200 ribu per bulan, tapi tetap senang menjalani profesinya. Semoga semua guru di Indonesia selalu diberi kesehatan ya, Moms.