Apa itu Batuk Rejan?

Seperti dilansir HaiBundabatuk rejan ini juga dikenal sebagai pertusis, yang gejalanya mirip dengan batuk biasa. Tetapi bertahap menjadi lebih buruk dengan ritme cepat saat malam hari. Batuk ini biasanya terjadi 5 sampai 15 batuk staccato secara berurutan. Setelah batuk, anak akan bernapas dalam-dalam, kadang dengan mengeluarkan suara rejan.

Tidak tanggung-tanggung, Moms! Batuk rejan bisa terjadi selama tiga bulan lamanya, lho. Sehingga batuk ini disebut juga sebagai batuk seratus hari. Jika anak sudah menunjukkan gejala mengalami batuk rejan harus segera ditangani ya, Moms. Sebab, penyakit ini bisa mengancam jika terjadi pada bayi yang belum cukup umur untuk mendapatkan vaksin pertusis.

Apa itu Batuk Rejan?
source: https://www.haibunda.com/

Dikutip dari Web MD, batuk rejan pada bayi bisa menjadi penyakit serius. Pada beberapa anak bisa menyebabkan masalah pernapasan, radang paru-paru, dan kadang berujung kematian. Anak yang baru lahir sangat rentan mengalaminya, karena vaksin batuk rejan tidak diberikan pada bayi sampai mereka berusia 2 bulan.

Penyebab & Gejala Batuk Rejan

Batuk rejan terjadi akibat infeksi pada sistem pernapasan yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Biasanya akan rentan dialami anak-anak berusia di bawah 6 bulan, anak berusia 11-18 tahun yang kekebalannya berkurang.

Tanda dan gejala batuk rejan

  • Hidung beringus
  • Bersin
  • Batuk ringan
  • Demam ringan

Setelah sekitar 1-2 minggu, batuk berubah menjadi kering dan iritasi, lalu berubah menjadi batuk yang terus-menerus terjadi. Biasanya berlangsung lebih dari 1 menit, hingga wajah anak terlihat merah atau ungu.

Penyebab & Gejala Batuk Rejan
source: https://www.haibunda.com/

Di akhir batuk anak bisa saja mengeluarkan suara rejan atau mengejan. Bahkan bisa diikuti dengan muntah. Suara batuk rejan sangat khas karena menyerupai teriakan. Kadang-kadang bayi batuk seperti anak-anak yang lebih tua. Bayi juga akan terlihat terengah-engah dengan wajah memerah dan mungkin berhenti bernapas (apnea) selama beberapa detik.

baca juga

Batuk Rejan Menular?

Masih dilansir HaiBunda, pertusis dikenal sebagai batuk yang sangat rentan menular. Bakteri menyebar dari orang ke orang melalui tetesan kecil cairan di hidung atau mulut anak yang terinfeksi. Bisa terjadi saat mereka bersin, tertawa, atau batuk.

Orang yang berada di sekitarnya sangat mungkin menghirup tetesan yang mengenai tubuh mereka. Lalu, tanpa sadar menyentuh mulut dan hidungnya. Pada tahap awal orang akan tertular batuk rejan sekitar 2 minggu, dari mulai terjangkit. Antibiotik memperpendek periode penularan menjadi 5 hari setelah dimulainya pengobatan antibiotik.

Menurut Mary Anne Jackson, MD, kepala bagian penyakit menular di Children's Mercy Hospital di Kansas City, Banyak kasus (batuk rejan) tidak terdiagnosis dan banyak yang tidak terobati dengan antibiotik, sehingga penyakit ini terus menyebar.

Batuk Rejan Menular?
source: https://www.haibunda.com/
"Banyak kasus tidak terdiagnosis dan banyak yang tidak terobati dengan antibiotik, sehingga penyakit ini terus menyebar. Bayi berisiko paling tinggi menderita pertusis dan sakit parah, tetapi lebih banyak anak usia sekolah yang sakit daripada sebelumnya," ungkap Mary.
source: https://www.haibunda.com/

Pencegahan Batuk Rejan

Namun jangan khawatir, Moms. Batuk rejan dapat dicegah dengan vaksin pertusis, yang merupakan bagian dari imunisasi DTap (difteri, tetanus, aselular pertusis).

Vaksin batuk rejan
Perlindungan dari vaksin pertusis sangat memberikan perlindungan pada anak. Tapi sayangnya hanya berlangsung sangat singkat. Kekebalan anak terhadap batuk rejan mulai hilang 5-10 tahun, setelah vaksin diberikan.

Pencegahan Batuk Rejan

Bahkan, sebelum waktu tersebut kalau anak mengalami batuk rejan maka kekebalan terhadap penyakit itu pun akan hilang. Vaksin pertusis telah digunakan sejak tahun 2005. Satu suntikan akan bekerja sekitar 90 persen untuk membentuk kekebalan terhadap batuk rejan.

Meskipun digadang-gadang akan bertahan setidaknya 5 tahun, tapi sebenarnya tak pernah ada yang tahu pasti berapa lama bisa efektif melindungi. Namun, vaksin ini dapat melindungi anak-anak dari tetanus dan difteri.

baca juga

Mengatasi batuk rejan pada bayi dan anak-anak

Dilansir dari laman web Alodokter, pengobatan utama yang diberikan pada golongan usia ini adalah dengan antibiotik guna melawan bakteri penyebab infeksi. Kortikosteroid akan diberikan untuk mengatasi peradangan pada saluran napas. Baik antibiotik dan kortikosteroid bisa diberikan melalui infus. Sungkup oksigen dapat diberikan untuk membantu pernapasan.

Batuk rejan yang cukup parah pada bayi dan anak-anak bisa menyebabkan kerusakan pada paru-paru mereka. Penanganan khusus di rumah sakit akan berkonsentrasi pada pemakaian alat bantu pernapasan (ventilasi) dan pemberian obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah mereka.

Mengatasi batuk rejan pada bayi dan anak-anak

Pada keadaan yang lebih parah, dapat dilakukan oksigenasi membran ekstrakorporeal (extracorporeal membrane oxygenation/ECMO), dimana oksigen akan langsung dialirkan ke tubuh tanpa melewati paru-paru. Prosedur ini akan diberikan jika metode pengobatan lain tidak berhasil dan paru-paru sudah mengalami kerusakan cukup parah.

Nah Moms, bukankah lebih baik mencegah dari pada mengobati? Lebih baik memberikan vaksin lebih dini. Karena dengan vaksin 90 persen dapat membentuk kekebalan terhadap batuk rejan Semoga informasi ini bermanfaat, Moms.