Heboh di Twitter

Sunat perempuan kembali ramai dibicarakan lantaran unggahan di Twitter yang mempertanyakan praktik ini. Adalah akun @raviopatra yang mengunggah berita tentang adanya praktik sunat perempuan di salah satu daerah di Indonesia. Sunat perempuan ini dilakukan secara masal pada salah satu yayasan pendidikan. Dalam tweet-nya, Ravio me-mention Kementrian Kesehatan, guna melaporkan adanya praktik sunat perempuan, karena sunat perempuan ini seharusnya sudah dilarang.
Heboh di Twitter
source: https://twitter.com/raviopatra/

Sunat Perempuan

Khitan atau sunat perempuan biasanya dilakukan kepada anak perempuan yang masih bayi atau beranjak usia 5 tahun. Sunat perempuan dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Umumnya, sunat perempuan dilaksanakan dengan cara memotong sedikit atau seluruh klitoris, menghilangkan labia dalam dan luar dan bahkan menutup vulva.

Di Indonesia, praktik sunat perempuan ini dapat dilaksanakan secara simbolis atau dengan memotongnya langsung. Bila secara simbolis, sunat dilakukan dengan menempelkan pisau atau silet pada klitoris atau alat kelamin perempuan. Bila dilakukan layaknya sunat laki-laki, sunat perempuan dilakukan dengan memotongnya sedikit kulit atau klitoris pada alat kelamin perempuan.
Sunat Perempuan
source: http://www.stellar.ie
baca juga

Permenkes tentang Sunat Perempuan

Pada tahun 2010, Kementrian Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 1636/MENKES/PER/XII/2010, mengenai sunat perempuan. Dalam Permenkes tersebut, Menkes memberikan perlindungan pada perempuan perihal sunat perempuan. Pada Permenkes tersebut, sunat perempuan boleh dilaksakan sesuai dengan ketentuan agama, standar pelayanan dan standar profesi untuk menjamin keselamatan anak perempuan yang disunat.

Selang 4 tahun kemudian, Kementrian Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 6 tahun 2014, tentang Pencabutan Permenkes Nomor 1636/MENKES/PER/XII/2010 perihal sunat perempuan. Pencabutan Permenkes mengenai sunat perempuan di atas didasari oleh tidak adanya indikasi medis dan belum terbukti bermanfaat bagi perempuan.
Permenkes tentang Sunat Perempuan
source: https://twitter.com/raviopatra/

Secara tidak langsung, Kemenkes tidak menyarankan dan tidak melindungi lagi praktik sunat perempuan. Dan Permenkes Nomor 1636/MENKES/PER/XII/2010 dipandang tidak sesuai lagi. Tidak hanya Kemenkes, WHO juga sudah melarang adanya praktik sunat perempuan,

"(sunat) tidak memiliki manfaat kesehatan sama sekali terhadap perempuan" dilansir dari laman WHO.

Dampak Sunat Perempuan

Justru sebaliknya, sunat perempuan dapat membahayakan alat kelamin perempuan. Hal ini disebabkan sunat perempuan merusak atau menghilangkan jaringan alami genital perempuan. Dilansir dari WHO, sunat perempuan memiliki risiko kesehatan berupa:
  • cedera, pendarahan, pembengkakan dan infeksi
  • masalah kandung kemih (infeksi saluran kandung kemih)
  • masalah vagina (keputihan, infeksi)
  • menstruasi yang menyakitkan
  • risiko komplikasi persalinan
  • risiko tertular HIV
  • masalah psikologis (depresi, trauma)
Dampak Sunat Perempuan
source: http://www.shutterstock.com
Saat ini, sunat perempuan dianggap tidak relevan lagi. Sebab tidak ada alasan medis bahwa perempuan harus disunat layaknya laki-laki. Kemenkes dan WHO menyatakan bahwa tidak ada manfaat kesehatan dari sunat perempuan.