Orang tua mana sih yang tidak panik kalau anaknya sakit, apalagi kalau si anak sakit demam. Terkadang kita sebagai orang tua menganggap anak demam karena kecapekan atau ada anggapan anak masuk angin. Padahal demam disebabkan adanya infeksi virus atau bakteri dalam tubuh anak.

Namanya anak-anak virus dan bakteri ada di sekelilingnya, jika kondisi badan menurun pasti virus dan bakteri cepat hinggap. 

Setahun yang lalu, tepat beberapa hari setelah anak saya merayakan ulang tahunnya, dia demam, saya melakukan hal-hal seperti biasa dengan memberikan bawang merah yang dibalur ke badan, termasuk juga memberikan obat jika suhunya diatas 38 derajat. Kalau siang, demamnya turun tapi kalau malam demamnya naik. 

Saya tidak menyangka, sore hari anak saya demamnya sempat turun, sempat saya bawa ke depan rumah sambil menyuapi makanan, namun setelah itu ketika suami saya mau mandi dan saya sedang nonton tv, tiba-tiba anak saya kejang-kejang, seluruh badan panas tinggo dan kaku, bola mata terus melihat keatas, posisi kepala terus ditarik-tarik keatas, bibir biru dan anak saya setengah sadar. Jangan ditanya apa yang kami rasakan, saya teriak memanggil suami, kami panik, reflek saya angkat anak saya dari kasur, padahal yang benar jika anak kejang adalah “ POSISI BADAN DIMIRINGKAN lalu dimasukkan obat penurun kejang melalui dubur dan segera bawa ke UGD “.  

Ya apalah kami, tidak ada pengalaman dan tidak tahu awalnya penanganan kejang sebelumnya. Kami langsung naik mobil dengan pakaian seadanya menuju RS terdekat. Di dalam mobil saya tidak berhenti berdoa dan menepuk pelan pipi anak saya agar sadar, tidak lama kurang dari 10 menit anak saya menangis, itu tandanya anak saya sudah sadar. 

Di UGD anak saya langsung mendapat obat penurun panas melalui dubur dan di berikan bantuan oksigen, lalu dokter UGD menghubungi dokter anak dan hasilnya anak saya harus di rawat inap. Bagi saya tidak masalah yang penting anak saya mendapat penanganan yang terbaik. 

Selama di UGD anak saya lemas, mungkin efek dari kejang, seluruh kepalanya panas tapi telapak kaki sangat dingin, akhirnya saya gendong dan selimuti sambil menunggu kamar. Dokter memberikan infus agar anak saya tidak dehidrasi ( part ini jangan ditanya ya susah sekali pasangnya karena anak saya berontak ), Selain itu anak saya pun di ambil darah untuk melakukan tes laboratorium. Tidak berselang lama anak saya mulai tidur. Sungguh perjalanan paling menyakitkan buat saya selama hidup, melihat anak saya seperti ini. 

Anak saya dirawat selama 3 hari, namun sudah 4 kali berganti jarum infus karena infusnya dilepas dari tangan :)). Hasil tes laboratorium anak saya alhamdulillah tidak ada yang mengkhawatirkan hanya leukositnya sedikit tinggi. 

Rincian dari cerita saya adalah jika anak mengalami kejang demam maka yang dilakukan orangtua pertama kali adalah :

Orangtua harus tenang jangan panik ( walaupun kenyataannya agak sulit ya, tapi sebisa mungkin untuk tenang )
Memiringkan tubuh anak, hal ini dilakukan jika anak muntah, maka tidak akan masuk ke pernafasan.
Jangan memberikan minum saat anak kejang
Pindahkan benda berbahaya disekitar anak yang sedang kejang
Jika ada obat kejang makan berikan melalui dubur
Segera bawa ke Rumah sakit, jangan menunggu lebih dari 15 menit jika anak kejang, jika tidak ada tanda anak muntah maka bisa segera dibawa agar langsung mendapat penanganan, karena jika terlambat diatasi maka kejangnya akan berpengaruh ke otak anak.
Selalu sedia obat kejang dan obat penurun panas.

Pada dasarnya kejang demam tidak berbahaya dibanding kejang yang tidak disertai demam. Namun jika tidak cepat ditanganin kejang anak akan mengganggu fungsi otak. Jangan anggap sepele anak demam, semenjak kejadian kejang yang dialami anak saya, jika diukur suhu sudah lebih dari 38 derajat maka saya tetap memasukkan obat penurun panas, namun jika lebih dari 3 hari saya segera bawa ke dokter. Karena lebih baik melihat anak gak bisa diem dari pada anak sakit kan buibuk.