Sejuta Syukur untuk Ananda (Hikmah yang Coba Saya Selami dari Kelahiran dengan Sectio Caesaria) - Ada yang berbeda dengan kehamilan kedua kali ini. Janin yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki ini sangat aktif bergerak. Saking aktifnya, saya jadi sering merasakan perut kram. Ulalaaa.. "Nak, lagi main sepak bola ya di dalam perut Bunda?". Dokter SPOG langganan kami pun memberikan resep obat yang harus saya minum saat perut terasa kram. "Jangan kram lagi, ya". Demikian pesan beliau. 

Anehnya, menjelang hari perkiraan lahir (HPL), saya justru jarang merasakan tendangan yang luar biasa. Bahkan, belum ada tanda-tanda kelahiran hingga hari H. Padahal, pengalaman kehamilan saya yang pertama, tanda-tanda kelahiran sudah muncul H-3 dari perkiraan dokter. Saya sempat panik., tapi mencoba tetap tenang. Karena, beberapa teman yang sudah berpengalaman melahirkan anak kedua dan ketiga bercerita bahwa bawaan tiap anak beda-beda. ada yang tanggal lahirnya maju, ada juga yang mundur dari HPL .


Oiya, saya pernah merasakan kontraksi yang luar biasa sih pas tengah malam. Tapi berangsur-angsur kontraksi itu menghilang. Dan tidak kembali lagi hingga due date. Akhirnya, saya putuskan untuk konsultasi pada dokter kandungan kami. Daripada saya bertanya-tanya dan nggak ada kepastian. Lebih baik kami cari tahu apa yang terjadi dan segera bertindak.
 
Di dalam ruangan dokter kandungan, saya terpekik tertahan. Dokter menunjukkan air kandungan di dalam rahim saya keruh. Beliau juga memberikan penjelasan beberapa resiko yang mungkin terjadi pada saya dan janin akibat air ketuban yang keruh ini.
 
Konyolnya, ketika dokter bertanya kenapa air ketuban saya bisa keruh, saya bisa memberikan jawaban yang ajaib. Jawaban saya, “Mungkin karena saya belum sarapan, Dok”.
 
Teeeett tooooott!!
 

Dan, yah, mungkin bisa Mommies tebak ending-nya. Dokter menyarankan untuk segera ‘mengeluarkan’ janin dari dalam perut saya. “Jangan dong, Dok”, jawaban saya memelas. Tiada jawaban dari beliau. Saya menerima surat rujukan untuk segera ‘mengeluarkan’ debay (dedek bayi) dari rahim ini.
 
Saya tidak menyangka kelahiran kedua ini akan berakhir dengan ‘jalan tol’. Anak pertama saya terlahir dengan spontan, normal, dan alhamdulillah berjalan lancar. Saya masih belum habis pikir. Saya sudah melakukan banyak hal untuk mengupayakan kelahiran normal untuk kehamilan kedua ini. Saya rajin senam hamil, jalan-jalan, dan berenang. Saya juga rajin bersujud untuk mengembalikan posisi bayi ke jalan lahirnya.
 
Anak saya yang kedua ini memang sempat nyungsang pada kehamilan tujuh bulan. Dokter menyarankan saya untuk rajin bersujud supaya bayi kembali ke posisi normal. Alhamdulillah berhasil.
 
Tapi, siapa sangka kami harus menjalani operasi sectio caesaria karena hal lain. Saat itu juga saya merasa semua yang saya upayakan terasa sia-sia.
 
“Tuhaaan...”, rintih saya dalam hati.
 
Well, life must go on.  
Mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus segera ambil keputusan. Sebelum terjadi dampak yang lebih parah. Kebetulan ada teman kami yang kurang beruntung, dengan kasus air ketuban keruh, terlambat penanganannya.
 

“Tuhan, kami mohon pertolongan-Mu”, rintih kami dalam doa. Sebelum memutuskan untuk masuk ke rumah sakit yang dituju, saya dan suami berdoa bersama. Suami memimpin kami sholat berjamah. Beliau menangis dalam doa. Saya terhenyak. Belum pernah saya lihat suami menangis seperti ini. Saya sendiri rasanya sudah mati rasa. Tinggal satu rasa saja yang tersisa. Pasrah.
 

“Tuhan, aku pasrahkan hidup dan matiku pada-Mu. Aku mohon pertolongan-Mu, Tuhan”. Dan syukurlah, hati saya terasa lebih tenang setelah memasrahkan segala sesuatu pada sang Penguasa Kehidupan.
 
(to be continued)