Bagi sebagian besar orang tua, tantrum ini benar-benar menghebohkan sekaligus menguji kesabaran. Bahkan anak bisa disebut nakal akibat kelakuannya ini. Padahal tantrum adalah fase wajar yang terjadi dalam perkembangan anak. Tantrum terjadi akibat keterbatasan kemampuan berbahasa anak dalam menyampaikan sesuatu atau mengekspresikan emosi. Maunya begini, namun belum bisa mengungkapkan dengan bahasa yang baik dan dapat dipahami orang tua, sehingga jadinya tantrum.

Masih banyak orang tua yang kurang tepat dalam merespon anak yang sedang tantrum. Memang gampang-gampang susah sih ya menangani tantrum pada anak. Terlalu keras (marah, ngomel-ngomel, ikut kepancing emosi) salah, sebaliknya terlalu lembek (menghiba, memohon-mohon, ujung-ujungnya mengabulkan keinginan anak) juga tidak tepat. Padahal jika tidak ditangani dengan tepat, tantrum ini berefek jangka panjang. Kita tentu pernah bertemu dengan orang yang begitu mudahnya tersinggung atau jika marah sampai berlebihan hingga tidak bisa mengontrol emosinya? Nah, itu akibat ada yang kurang beres dalam penanganan tantrumnya di waktu kecil. Moms tentu tidak ingin kan, anak kita kelak menjadi orang yang tidak matang secara emosional di waktu dewasanya nanti?

 

Pencegahan Tantrum


1. Beri special time

Salah satu penyebab anak bertingkah adalah kurangnya perhatian positif dari orang tua. Mereka jadi begitu karena minta perhatian saja kok. Caper istilahnya. Nah, supaya anak tidak perlu melakukan hal negatif untuk mendapat perhatian dari orang tuanya, kita harus lebih bisa menjadi orang tua  yang apresiatif dan responsif terhadap kebutuhan anak. Cara termudah adalah dengan memberikan anak special time setiap hari, di mana kita benar-benar fokus untuknya tanpa distraksi apapun dari gadget atau TV. Temani ia bermain, hadirlah seutuhnya, biarkan ia yang menentukan bentuk permainannya seperti apa. Tidak perlu lama, 10-20 menit sudah cukup asal kita konsisten melakukannya setiap hari.

2. Kenali pemicu, lalu antisipasi

Kita tentu tahu, jika dalam kondisi lapar, mengantuk, atau bosan, si kecil pasti lebih mudah rewel. Oleh karena itu, sebaiknya tunda dulu rencana bepergian atau berkegiatan bersama anak jika anak tidak dalam kondisi good mood. Tunggu sampai kantuknya reda, biarkan ia cukup tidur dan istirahat. Untuk meminimalisir rasa lapar dan bosan anak yang juga berujung pada tantrum, kita bisa menyiapkan cemilan dan mainan favorit anak sebelum bepergian atau berkegiatan.

3. Buat kesepakatan di awal

Sebelum mengajak bepergian, baiknya kita membuat kesepakatan dulu tentang hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ceritakan rencana dan harapan kita. Kita perlu terus mengulangi dan mengingatkan si kecil hingga waktu pergi tiba.

4. Konsisten dalam penerapan

Setelah membuat kesepakatan, kita perlu konsisten memegang poin-poin kesepakatan tadi. Jangan sampai kelihatan plin-plan di depan anak. Awalnya dilarang ujung-ujungnya diizinkan. Konsistensi akan membuat anak lebih percaya dan menghargai kita sebagai orangtua. Hal ini juga melatih kepercayaan diri dan keteguhan anak memegang prinsip.

source: http://i.huffpost.com/gen/3882356/images/n-GIRL-TANTRUM-628x314.jpg

Penanganan Tantrum



1. Tetap tenang dan tidak terpancing emosi

Ketika anak sudah tantrum, kita jangan sampai ikut tantrum juga. Sering terjadi jika anak tantrum orang tua terpancing emosi sehingga jadi ngomel panjang lebar, nada suara meninggi, membentak dan melakukan kekerasan seperti mencubit atau mengurungnya di kamar mandi. Wah, jangan sampai ya. Anak memang jadi diam namun diam-diam ia juga mempelajari model pengelolaan emosi negatif dari orang tuanya. Jika ubun-ubun mulai berdenyut, suara mulai tercekat, pertanda emosi kita meningkat, segera tarik nafas panjang, berdzikir, minta kekuatan pada Allah supaya diberi kesabaran dan ketenangan menghadapi anak. Usahakan suara kita tetap tegas, berwibawa, jangan lupakan juga kontak mata dengan anak. Pegang bahu atau tangan anak jika ia mulai melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau bahkan menyakiti kita. Wujud lain dari terpancing emosi juga bisa dengan membujuk-bujuk anak dengan suara memelas dan menghiba. Wah, bisa-bisa kita kalah dengan tantrumnya dan malah meloloskan keinginan anak yang disampaikan dengan cara yang tidak baik itu.

2. Bawa anak menyepi

Enggak dipungkiri, tantrum di tempat umum memang berpotensi membuat kita kehilangan muka sebagai orang tua. Tapi lagi-lagi, jangan tergoda untuk menuruti permintaan anak demi menyelamatkan muka kita di depan orang lain. Jika memang sudah malu banget, segera bawa anak ke tempat sepi, lalu temani tantrumnya di sana. Anak yang tantrum tidak perlu disuruh diam sebelum emosinya mereda. Lama-lama dia juga capek sendiri dan emosinya stabil kembali.

Pasca Tantrum

Nah, jika tantrum anak sudah mereda, emosi anak sudah stabil, baru kita perlu mengajak anak bicara. Selama ia tantrum, nasihat sedahsyat apapun tidak akan nyantol di otaknya. Sampaikan harapan kita, sampaikan pesan bahwa lain kali ia tidak perlu mengamuk seperti itu jika menginginkan sesuatu. Jelaskan padanya bahwa sangat perlu untuk bicara dengan baik dan jelas supaya orang lain dapat memahami keinginan anak. Sambil mengungkapkan harapan kita, kita bisa memberi anak pelukan atau sentuhan lembut. Ulangi terus cara ini jika anak lagi-lagi mengamuk. Lama-kelamaan ia akan paham bahwa mengamuk tidak akan menyelesaikan masalahnya dan tidak akan membuat orang tua menuruti keinginannya.

Level berikutnya, anak akan bisa menyampaikan emosi negatifnya dengan cara yang tepat. Misalnya dengan mengatakan, “Ma, aku nggak suka kalau Mama main hape terus, aku nggak diperhatiin.” Nah, jika anak sudah bisa bicara seperti itu, beri pujian atas keberhasilannya. Tentu saja, kita perlu responsif terhadap permintaan anak yang sudah disampaikan dengan cara yang baik itu.

Yang perlu diingat, tantrum itu bukan suatu hal yang emergency sehingga kita harus buru-buru bertindak tergesa yang malah membuat penanganan menjadi kurang tepat. Kita juga harus tahu bahwa tantrum itu bukan perilaku nakal, atau anak sengaja memancing emosi kita. Mereka melakukan itu karena belum paham cara menyampaikan keinginan dengan baik. Jadi, jangan sampai kesalahan penanganan tantrum pada anak malah membuat ia menggunakan tantrum sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain, atau lebih parah lagi, menjadikan tantrum sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya.