Ada dua masa ketika seorang wanita, terutama yang sudah menjadi ibu, terlihat sama berbahayanya dengan macan kelaparan. Pertama, waktu PMS datang, "senggol-bacok mode-on". Kedua, saat ia “kurang piknik”. Muncul sebuah istilah yang menjadi kebutuhan penting manusia, selain sandang-pangan-papan.

Sebut saja namanya : me time.
 
Pada dasarnya, me time ini bisa dibilang waktu rekreasi. Namun, sesuai kata 'me' yang menempel, fokus rekreasinya untuk menyenangkan hati sendiri. Nah, me time ini sekarang paling sering berkumandang dari mulut para wanita, terutama Moms yang terkenal dengan multi tasking-nya (baca : jumpalitan membagi waktu sampai tak sempat merapikan potongan rambut yang makin berantakan).
 
Seperti ibu lainnya, saya juga mendambakan me time sebagai penghuni tetap dalam jadwal harian yang padat. Sayangnya, tidak semua ibu bisa dengan mudah mendapatkan dan menikmati me time miliknya.
 
Kendala yang sering saya hadapi, ketika saya meminta me time, saya dianggap sebagai ibu yang egois dan tidak memikirkan tanggung jawab. Sergahan seperti ini datang dari beberapa pihak, yang sebalnya, seharusnya mereka menjadi support system saya. Sounds familiar, Moms?
 
Tidak sedikit curhat ibu-ibu lain yang saya dengar, meneriakkan masalah serupa. Mereka menginginkan kesempatan untuk rileks sejenak, namun keburu dikejar rasa bersalah. Bahkan, berpikiran kalau me time bisa dikategorikan dosa melalaikan keluarga. Jujur, saya pun pernah memikirkan hal ini.
 
Lebay? Norak? Sekonyol-konyolnya pernyataan itu terdengar, namun ini kenyataan yang sebenarnya terjadi, lo!
 
Sampai akhirnya, alarm berdering keras dalam hidup saya. Jenuh, tertekan, penat, mood saya naik turun begitu cepat, mengalahkan roller coaster. Rasanya, pekerjaan tak ada habisnya dan tak terselesaikan dengan benar (menurut standar saya). Suami, anak, keluarga, kerabat, bahkan kucing tak berdosa yang numpang lewat, seakan menertawakan dan menyudutkan saya. "Am I a bad mother?" Pertanyaan yang berulang kali terngiang-ngiang di benak saya.
 
Apa yang akhirnya saya lakukan, untuk mengembalikan kewarasan saya melalui me time?
 

1. Kenali karakter diri
Ibarat bisnis, saya melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) terhadap diri. Apa kekuatan dan kelemahan saya? Kapan saya punya kesempatan untuk membahagiakan diri? Tantangan apa saja yang mampu membuat saya terhalang merasa bahagia? Untuk contoh lebih sederhana, bisa juga kita membuat daftar hal dan suasana yang disukai serta tidak disukai. Sekarang banyak personality test bertebaran secara online. Patut dicoba, lo, Moms!
Kepribadian yang telah terkuak akan memudahkan Anda merancang rencana me time. Contoh, seseorang yang ekstrovert dan senang bergaul, tentu akan memiliki preferensi me time berbeda dari si penyendiri yang melankolis. Kesukaan Anda berada di dalam ruangan atau luar ruangan, juga bisa menjadi dasar penyusunan alternatif me time.

photo : www.pexels.com


 
2. Temukan 'passion' dan sumber kebahagiaan
Selanjutnya, saya menelusuri lebih dalam. Hal-hal apa yang membuat saya bahagia dan bersemangat? Saya mendalami ini karena saya percaya esensi dari me time adalah meringankan, bahkan menghilangkan kepenatan. Rasa berat pada pundak, itulah yang ingin saya angkat. Bukan dengan menambah ruwet pikiran dan mendatangkan masalah baru. Apapun yang menguras energi dan pikiran saya (secara negatif) tentulah bukan pilihan me time yang tepat.
Untuk kasus saya, passion saya adalah menulis. Memecahkan misteri dan bertemu dengan hal-hal konyol adalah sumber energi serta semangat saya. Camilan enak dan murah meriah, menjadi “bumbu” kebahagiaan saya.
 

3. Mencari kesempatan untuk me time
Dari dua langkah sebelumnya, setidaknya saya sudah punya bayangan, apa yang ingin saya cari atau malah saya kerjakan untuk me time. PR selanjutnya, menciptakan kesempatan untuk me time. Berapa lama waktu yang saya punya? Seberapa banyak “modal” yang tersedia untuk mewujudkan me time? Adakah support system yang memungkinkan saya bisa leluasa selama me time?
Moms, di sinilah biasanya kita akan terbentur oleh keadaan. Terbangun oleh realita, tak jarang menjadi titik beberapa orang menjadi putus asa. Saran saya, keep your positive thoughts! Kita sudah tahu diri kita, apa yang kita perlu, apa yang kita mau.
Mari kreatif membuat peluang membahagiakan diri.
Misalnya, saya tidak bisa pergi jauh-jauh karena ada si bayi yang butuh disusui setiap dua jam. Berarti, saya bisa melakukan me time ketika ia terlelap. Saya memilih menyisihkan 30 menit sampai 1 jam untuk membaca novel favorit sambil menyeruput teh hangat. Setelahnya, saya malah jadi punya inspirasi untuk mengetikkan sekelumit cerita untuk blog post atau Instagram caption.
Inilah tanda kalau me time yang saya lakukan sudah tepat sasaran. Saya bahagia dan bisa menghasilkan sesuatu yang bermakna serta bermanfaat dari me time saya.


photo : www.pexels.com
 

4. Sederhanakan cara berpikir
Moms, sepertinya sudah mendarah daging ya, seorang ibu akan mencemaskan banyak hal dan malah melupakan dirinya sendiri. Namun, percayalah, me time memang kita perlukan dan sangat penting untuk dilakukan.
Mantra saya sewaktu rasa bersalah dan keraguan mulai menyelinap :
a happy mom will make a happy family. Sepanjang yang dilakukan sesuai aturan dan takaran, “melemaskan otot” sesekali tentulah bukan sebuah kesalahan. Lupakan nyinyiran, lupakan penilaian orang lain. Ingatlah, kesehatan mental ibu begitu berharga. Baby blues dan post-partum depression, jujur saja, lebih menakutkan ketimbang dihakimi dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang tidak memahami perjuangan pengasuhan kita.
 

5. Carilah dukungan
Katanya, butuh satu desa untuk membesarkan anak. Dalam kamus saya, butuh satu kompi untuk membuat ibu tak putus harapan. Beruntungnya saya, ada tangan-tangan tak kasat mata membantu saya melalui masa-masa berat. Find your support group. Bisa dari sahabat setia, sesama ibu yang memiliki anak seumuran, keluarga yang perhatian. Anyone who genuinely willing to give a helping hand. Saya bersyukur menemukan sisterhood of moms dalam birth club, sekumpulan ibu dengan anak yang lahir di bulan yang sama dengan anak saya. Kurang lebih, kami mengalami masalah serupa, meskipun datang dari latar belakang yang beragam. Mereka pula yang saling mengingatkan untuk menyempatkan me time atau malah menciptakan me time menyenangkan melalui meet-up dan chit-chat seru di grup WhatsApp. Ingatlah selalu, Moms : you are not alone in this journey.
 
Setidaknya, apa yang saya ceritakan ini, semoga bisa mengurangi kegalauanmu, Moms. Semua orang punya hak untuk bahagia dan mencari kebahagiaannya. Termasuk para ibu, pahlawan keluarga yang menjadi jangkar rumah tangga. Jadi, apa rencana me time-mu hari ini?