Nitta Story kali ini merupakan lanjutan dari Pengalamanku Transfusi Darah Saat Hamil Aruna (Bagian 1)...

Sebenarnya dokter kandungan saya sudah meresepkan suplemen penambah darah yang mengandung zat besi untuk pembentukan hemoglobin namun sepertinya suplemen tersebut belum dapat membantu saya mendapatkan kadar hemoglobin yang diharapkan. Kadar hemoglobin saya hanya naik 0.5-1 gr/dl saja dari yang awalnya 7 gr/dl menjadi 8-8.5 gr/dl, padahal suplemen itu sudah saya rutin konsumsi setiap hari. Sedih dan cemas rasanya karena hasil tersebut masih jauh dari yang diinginkan.

https://www.instagram.com/p/BULHdZNAs0F/

Makanan yang mengandung zat besi juga sudah saya rutin konsumsi, seperti daging merah, sayur bayam, telur, buah bit, dan lainnya tetapi belum juga mendapatkan kadar hemoglobin sesuai target, yakni 11 gr/dl, padahal hari semakin dekat dengan waktu persalinan. Entah sudah berapa kali saya bolak-balik melakukan pemeriksaan darah lengkap di laboratorium rumah sakit hanya untuk memastikan kadar hemoglobin.

​https://www.instagram.com/p/BTCnsEtgGxJ/

Akhirnya dengan penuh keyakinan dan kepasrahan saya benar-benar memutuskan untuk segera dilakukan tindakan transfusi darah. Saya dan suami menyetujui saran dokter kandungan, saya percaya bahwa setiap dokter kandungan selalu mengusahakan yang terbaik untuk pasiennya, yakni untuk ibu dan bayinya.

Setelah kami menyetujui saran dokter untuk tindakan transfusi darah, kemudian saya dirujuk untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dr. Hadianti, Sp.PD. Selama menjalani tindakan transfusi darah sampai dengan selesai hingga mendapatkan hasil sesuai harapan, saya berada dalam pengawasan beliau dan dokter kandungan saya tentunya.

Sebelum tindakan transfusi darah awalnya saya merasa sangat khawatir kalau proses transfusi darah tidak akan berjalan dengan lancar sebagaimana mestinya. Hal-hal negatif dan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi selalu ada dalam pikiran saya. Misal darah yang akan ditransfusi aman atau tidak, cocok dengan mekanisme tubuh saya atau tidak, ada penyakit yang dapat ditularkan atau tidak, dan ada resiko maupun efek samping lain atau tidak di dalam tubuh saya.

Saya dan suami hanya berusaha sebaik mungkin, berdoa tiada henti, dan pasrah menyerahkan semuanya yang terbaik menurut Allah untuk saya dan Aruna dengan berpikiran positif bahwa semua akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar sesuai kehendakNya.



Alhamdulillah, tindakan transfusi darah akhirnya berjalan dengan lancar, total ada tiga kantung darah orang lain yang sudah melewati proses screening oleh pihak PMI (Palang Merah Indonesia) yang dipindahkan ke dalam tubuh saya. Saya menjalani rawat inap selama kurang lebih tiga hari dan segala kekhawatiran saya mengenai resiko transfusi darah yang berlebihan tidak terjadi, semoga seterusnya juga tidak akan menimbulkan resiko. Aamiin !

Moms, jangan pernah takut untuk melakukan tindakan transfusi darah jika dokter kandungan menyarankan. Melalui tindakan transfusi darah, manfaat yang diberikan jauh lebih besar dibandingkan dengan resikonya. Kita harus percaya bahwa pihak PMI sudah menscreening darah dari para pendonor dengan prosedur yang terbaik agar terhindar dari hal-hal yang merugikan diri kita.

Dan hal paling penting dari sharing saya kali ini adalah penuhi kebutuhan zat besi selama masa kehamilan itu wajib, disamping ada zat gizi lain yang memang harus dipenuhi oleh ibu hamil, seperti asam folat, protein, kalsium, dan lain-lain. Ibu hamil jangan mengabaikan pentingnya kebutuhan zat besi yang sangat besar perannya pada masa kehamilan hingga persalinan.

Kadar hemoglobin saya tentunya sudah sesuai dengan harapan setelah tindakan transfusi darah, meski begitu saya tetap saja diresepkan suplemen zat besi penambah darah untuk saya rutin konsumsi di rumah. Setelah itu kesehatan saya semakin membaik dan keadaan tubuh saya rasanya segar bugar semakin bertenaga, mual muntah dan hypersalivasi semakin berkurang bahkan perlahan-lahan hilang. Nafsu makan semakin lahap dan banyak porsi makannya, wajah dan telapak tangan serta kaki menjadi merah merona, tidak pucat seperti sebelumnya. Karena pengalaman hamil dengan anemia, saya jadi tidak perlu menurunkan berat badan terlalu banyak pasca melahirkan karena pada saat hamil berat badan saya cenderung turun tetapi berat badan bayi sesuai dengan usianya.

Tepat 38 minggu kehamilan, 12 September 2016, Aruna lahir dengan sehat dan selamat melalui persalinan sectio caesaria dengan berat badan 3.32 kilogram dan tinggi badan 50 centimeter. Alhamdulillah ibunya juga dalam kondisi sehat dan selamat.
​​​​​
"Sebesar & seberat apapun ujian kehamilan, jika Allah berkehendak Aruna menjadi rezeki bagi saya maka ia akan lahir dengan sehat dan selamat, berada dalam dekapan saya, berjuang dan merencanakan masa depan bersama !" (Nitta Story)

Sampai bertemu kembali di Nitta Story selanjutnya ya, Moms ! Senangnya dapat berbagi pengalaman mengenai rendahnya kadar hemoglobin saat hamil Aruna dan diharuskan untuk transfusi darah sebelum persalinan. Ditunggu share dan komennya ya, Moms.

Trims,
Nitta Yunitasari