Kelahiran anak kedua (Ayesha namanya) memberikan saya semangat lebih dalam hal mengASIhi (memberi ASI).  Kegagalan memberikan ASI kepada Fatih seolah menjadi motivasi terbesar saya untuk melakukan upaya lebih di masa menyusui Ayesha. Karena sudah faham dan terlatih dengan memerah ASI membuat stok ASIP sangat banyak. 

Tiga bulan setelah melahirkan saya kembali ke Bandung dan membawa serta Ayesha.  Seperti saat Fatih dulu, Ayesha di daycare saat saya ke kampus.  Setelah beberapa kali bolak balik Bandung-Makassar, suatu masa saya pun memutuskan ke Bandung dengan tidak membawa Ayesha. Pertimbangannya karena hanya sepekan dan stok ASIP lebih dari cukup selama ditinggal.

Perjuangan mengASIhi saya diuji, karena suatu hal membuat saya harus tinggal di rantau lebih lama. Stok ASIP menipis, masa MPASI masih beberapa hari lagi, dan stok ASIP di rantau sangat banyak (selama Ayesha ditinggal, saya tetap disiplin memerah ASI).  Akhirnya memutuskan mengirim ASIP melalui udara, dari Bandung ke Makassar. Mulai lah saya mencari kargo maskapai yang bisa membawa ASIP dengan aman hingga mencari informasi tentang teknis pengemasan ASIP agar tetap aman dan kondisi yang sesuai selama durasi waktu tidak lebih 24 jam.  



Sepertinya inilah kisah mengASIhi ku yang paling dramatis sekaligus heroik