Saat tau saya hamil anak kedua selain senang saya juga khawatir, kenapa?  Karena pada saat itu Barra usia nya baru 2 tahun, rencana awal sih saya dan suami mempersiapkan diri untuk hamil anak kedua kalau Barra sudah 3 tahun, tapi ternyata saya diberi rejeki lebih awal, so... The only thing i'm commited to right now is bettering myself đź’Ş
Untuk apa? Untuk segala kemungkinan yang akan terjadi, ketakutan terbesar saya adalah "Barra sudah siap belum ya untuk punya adik" saat itu saya masih mengajar di sekolah, Barra saya tinggal dirumah jadi waktu kita untuk bertemu tidak terlalu banyak dan ada sedikit rasa bersalah karena tidak bisa banyak bermain dengan Barra, akhirnya setiap bertemu saya pasti Barra manja sekali. 


Siap tidak siap saya rasa Barra harus siap jadilah saya putar otak cari cara terbaik untuk memperkenalkan Barra si adik kecil yang masih di perut mamah, dengan segala macam kendala akhirnya saya memutuskan untuk berhenti mengajar di sekolah dan saya bisa lebih fokus ke Barra untuk mempersiapkan dia menjadi seorang kakak. 

Dengan komunikasi yang rutin antara saya dan Barra akhirnya saya pun berhasil membuat Barra percaya diri memanggil dirinya kakak, oke satu tahap yang membuat saya sedikit lega. 
Selanjutnya PR saya adalah bagaimana membuat Barra tidak cemburu dengan adiknya karena otomatis saya pun harus berbagi perhatian dengan adik bayi, awalnya sih agak sulit, meskipun tidak sampai memukul atau benci dengan adiknya tapi dia sudah merasa kalau mamahnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan adik dibanding bermain dengan Barra, sampai-sampai dia pernah bilang "ade main bobo sama guling aja, mama main sama baya" lucu sih tapi sedih juga saya dengan celotehannya itu.


Naaah....saya mau coba berbagi tips nih bagaimana cara saya mencegah agar Barra tidak cemburu dan juga sayang dengan adiknya: 

1. Coba dorong si kakak untuk mau bercerita tentang perasaannya dengan adik dan ibu setelah melahirkan, saat itu Barra terlihat senang sekali karena dia bisa melihat adik Bian yang sudah dia kenal selama di perut saya 

2. Berusaha untuk memberi simpati kepada kakak yang kesal apabila mendengar adik bayi yang terus menangis, saya selalu memberi pengertian bahwa hal ini tidak akan berlangsung lama, dan saya akan segera memiliki waktu untuk si bermain dan berbincang lagi dengan Barra

3. Ini yang paling penting saya dan suami selalu mencoba adil membagi waktu untuk Barra dan Bian, saya dan suami terus berkomunikasi untuk dapat berbagi tugas bergantian mengajak main Barra, jangan sampai dia merasa bosan dan terabaikan karena kedua orang tuanya sibuk dengan adik bayi (hal ini adalah pemicu utama rasa cemburu) 

4. Coba untuk selalu melibatkan kakak sebanyak mungkin ikut serta membantu saya merawat adik bayi, tapi jangan menggunakan kalimat perintah ya bu (ini sangat pentin), dan juga jangan memaksa jika si kakak tidak mau membantu, dan saya juga selalu mencoba menghormati segala alasannya untuk tidak mau membantu, tapi terus ajak si kakak untuk berpartisipasi tentunya dengan kalimat-kalimat positif misalnya "kakak...sini yuk bantuin mama pakein minyak telon buat ade"

5. Saya sering menerima tawaran bantuan yang ada dari orang-orang terdekat, misalnya saat uti nya Barra (nenek)  mengajak Barra jalan-jalan atau saat budhe mengajak Barra main dengan sepupunya, hal ini akan membantu si kakak menjadi lebih tenang.

Alhamdulillah saat ini Barra bisa jadi kakak yang baik buat Bian, dan mereka berdua sudah bisa bercanda meskipun Bian usianya masih 8 bulan, sebagai orang tua saya sangat bersyukur kalau melihat anak bisa saling sayang, semoga rasa sayang diantara keduanya bisa terus tumbuh seperti rasa sayang mamah dan ayah.