Caesar menjadi pilihan saya demi keselamatan kami berdua, saya dan bayi saya.

Selama kehamilan, Ibu juga Ayah tentu sangat berhati-hati menjaga si jabang bayi dengan sekuat mungkin. Tapi, suratan takdir tidak mungkin kita tolak. Ada saja cerita yang membuat si Ibu harus melahirkan tidak sesuai rencana, bahkan sebelum waktu nya.

Kisah Bunda Tri Wijayanti yang harus melahirkan Caesar karena penyakit hernia yang dideritanya semenjak SMA. Selain itu, dia juga mengalami pendarahan di usia kehamilan 7 bulan lebih satu minggu karena terpeleset, dan selang beberapa menit terjadi kontraksi dan pendarahan. Sehingga si bayi harus lahir sebelum waktunya, tanpa rencana.

Cerita lain adalah bunda Yanti yang diindikasi mengalami plasenta previa totalis, plasenta menutupi jalan lahir yang menyebabkan Bunda Yanti harus bed rest selama kehamilan. Usia 8 bulan, Bunda Yanti harus mengantarkan bayinya ke dunia melalui caesar karena pendarahan yang ia alami. Sebuah kejadian yang tidak pernah diinginkan ya Moms.

source: http://showandtellonline.s3-ap-southeast-2.amazonaws.com


 

Upaya sehari semalam tidak membuat bayi saya segera lahir ke dunia, maka saya memutuskan operasi!

Ibu-ibu ini bahkan sudah mengusahakan dengan segala cara agar bayi mereka dapat lahir spontan, mulai dari senam hamil, jalan kaki, bahkan rela menunggu beberapa hari karena harapan akan kelahiran normal sangat besar. 

Seperti yang dialami bunda Anik yang dua anaknya dilahirkan secara caesar. Kelahiran si kakak yang mundur dari tanggal kelahiran ditambah si Ibu yang tidak juga mengalami kontraksi membuat bunda Anik memutuskan untuk menjalankan operasi. Sebelumnya Bunda Anik telah menunggu beberapa saat dan masih berharap si kakak lahir dengan normal.

Lamanya bayi di dalam perut memungkinkan bayi teracuni air ketuban yang menjadi keruh dan menurun fungsinya. Hal inilah yang menyebabkan Bayi Bunda Anik harus dirawat di rumah sakit selama satu minggu.

Ada pula kisah Bunda lain yang sudah menjalankan induksi selama lebih dari 12 jam dan tidak ada pembukaan, sehingga detak jantung bayi menurun, tidak ada pembukaan dan air ketuban sudah keruh yang tentu akan membahayakan bayi. Maka, Caesar adalah pilihan terbaik!
 


 

<baca juga>

Saya pernah melakukan operasi normal dan caesar, keduanya sama-sama bertaruh nyawa!

Cerita Bunda Fitta sangat menyentuh hati dan bisa menguatkan Ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. Dari ke tiga anaknya, satu anak lahir normal dan dua anak berikutnya lahir caesar. Anak kedua Bunda Fitta lahir secara caesar karena berat badan yang besar dan posisi yang sungsang.

Usia 8 bulan sebenarnya sudah ada indikasi sungsang, tapi Bunda Fitta tetap berusaha sekuat tenaga untuk membuat posisinya siap lahir normal. Sampai saat hari kelahiran tiba, posisi bayi tidak berubah sehingga diputuskan caesar.

Tapi takdir berkata lain, bayi yang sudah diperjuangkan kelahirannya ternyata di ambil kembali oleh sang Pencipta karena ada kelainan di paru-paru bayi. Bagi bunda Fitta, yang kemudian melahirkan caesar lagi untuk anak ketiganya, melahirkan normal atau caesar tetaplah berjuang, keduanya sama-sama bertaruh nyawa!
 

source: https://onlinedoctor.lloydspharmacy.com


 

Indikasi Pre eklampsia membuat saya harus berjuang untuk melahirkan bayi saya dengan caesar

Seorang Ibu dengan indikasi komplikasi pre-eklampsia sangat beresiko jika harus mengalami persalinan normal, karena dapat melalui kejang dan koma. Hal yang sangat tidak diinginkan ya Moms? Oleh karena itu, ibu-ibu dengan gejala pre-eklampsia disarankan untuk menjalankan operasi caesar ketika persalinan. Tekanan darah yang tinggi adalah salah satu tanda pre eklampsia, selain itu kejang saat kehamilan juga menjadi indikasi pre eklampsia.

Seperti yang dialami bunda Sita yang mengalami persalinan dengan tensi 170, berat badan bayi kecil, dan ketuban pecah dini sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan tindakan lain. Hal yang sama dialami Bunda Ika, dengan tekanan darah 150 dan kondisi bayi sungsang, Bunda Ika sudah jauh hari merencanakan caesar karena resiko-resiko yang sudah dijelaskan dokter sebelumnya. Bunda Dewi bahkan mengalami kejang di usia delapan bulan, sehingga mau tidak mau menjalani caesar demi sang bayi dan tentu saja keselamatan Ibu.

source: https://thumb.guucdn.net


 

<baca juga>

Setelah berjuang sampai bukaan lengkap, akhirnya saya harus caesar demi keselamatan bayi saya.

Jika cerita sebelumnya tentang Bunda yang telah usaha jauh hari sebelum kelahiran tiba demi lancaranya proses persalinan, cerita dua bunda berikut sedikit berbeda. Tentu saja segala cara telah ditempuh demi lancarnya persalinan dan dilakukan secara alamiah. Tahapan bukaan demi bukaan dari bukaan satu sampai dengan bukaan lengkap telah ia rasakan.

Bunda ini tentu saja merasakan kesakitan yang sama dengan bunda lainnya saat kontraksi berlangsung, meski begitu mereka terus berjuang untuk mengirimkan malaikat kecilnya ke dunia dengan kelahiran normal. Tapi apa mau dikata, ke dua bunda ini harus memilih jalan caesar saat bukaan sudah lengkap karena berbagai alasan/

Kisah Bunda Ning Lestari dan bunda Nura yang tidak pernah membayangkan akan melahirkan caesar, karena semua syarat untuk kelahiran normal sudah terpenuhi, bayi tidak sungsang, tekanan darah normal, dan terjadi bukaan, Selang beberapa jam bukaan semakin bertambah, kontraksi pun semakin kuat, hingga bukaan 10 posisi bayi tidak kunjung turun. Ketuban pun pecah, padahal kontraksi tidak berhenti dan tetap tidak ada perubahan sehingga diputuskan SC.
 

source: https://www.thesun.co.uk


 

Kondisi mata saya tidak memungkinkan saya untuk melahirkan normal.

Mata minus dan melahirkan normal masih menjadi pro-kontra di kalangan medis. Meskipun begitu, Ibu dengan kondisi mata minus di atas ambang batas yaitu di atas 5 atau 6 dioptri, memiliki resiko komplikasi untuk melahirkan normal.

Banyak Ibu dengan kondisi minus tinggi akhirnya memutuskan melahirkan caesar setelah sebelumnya si Ibu mengecek kondisinya ke dokter mata. Hal ini seperti yang dialami oleh Bunda Rahma, yang memiliki minus 7 dan kondisi retina tipis. Atas rujukan dokter spesialis mata, Bunda Rahma tidak boleh mengejan terlalu kuat karena dikhawatirkan merusak retina mata yang sudah tipis. Jika tetap dipaksakan, maka dikhawatirkan Bunda Rahma akan mengalami mata juling, retina sobek.

Selain retina lepas, ibu hamil dengan kondisi minus juga dikhawatirkan mengalami ablasio retina, peradangan mata, rusaknya syaraf mata, dan kebutaan sementara.
Maka, Seperti apa yang Bunda Rahma katakan, bahwa Caesar adalah keputusan paling tepat untuk perempuan dengan kondisi sepertinya, Ibu sehat, Anak bahagia!


 

Operasi caesar mengantarkan saya bertemu bayi yang saya harapkan kehadirannya

Kelahiran bayi sudah dinantikan oleh kedua ini selama sekian waktu. Berbagai cara telah mereka lakukan untuk bisa menimang si buah hati. Bunda Vie yang tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayinya yang telah diharapkan kehadiranya bertahun-tahun, akhirnya memutuskan caesar saat megetahui posisi bayi dengan kepala mendongak ke atas.

Hal ini sejalan dengan cerita bunda tiur yang telah tiga tahun berharap akan kelahiran buah hati. Setelah mengalami ketuban pecah dini (KPD) dan bayi tidak segera turun karena terlilit pusat, maka operasi caesar akhirnya dilaksanakan. Demi keselamatan sang bayi yang sudah kami tunggu lama, kata Bunda Tiur.
 

source: http://www.precisionvaccinations.com


 

Operasi caesar membuat saya melihat wajahnya meski dia sudah tidak bernyawa

Cerita Bunda Intan sungguh mengharukan, setelah delapan bulan bersama dengan buah hati yang amat dinanti kelahirannya, Bunda Intan terpaksa harus menjalankan operasi Caesar. Saat itu, kondisi bayi sudah tidak bernyawa, karena IUfD (internal uterus fetal death) di UK 31 weeks dan posisinya yang melintang sehingga tidak bisa dipacu untuk lahir spontan.

Moms, bisa dibayangkan kan perasaan Bunda Intan saat itu? Sedih dan tentu saja tetap berusaha untuk mengeluarkan si bayi meski sudah tidak ada. Tapi, kabar bahagia datang ke keluarga kecil bunda Intan, enam bulan berikutnya Bunda Intan dinyatakan hamil anak kedua, dan sekarang telah lahir dengan caesar karena luka caesar pertama yang belum pulih dan terlalu berisiko untuk melahirkan normal

source: http://woman.mynavi.jp


 

Semua kisah yang saya ceritakan di atas berdasarkan kisah nyata. Sebelumnya saya telah melakukan wawancara terbuka kepada beberapa Ibu yang melahirkan secara caesar. Semoga kisah mereka bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap memberikan support atas apapun pilihan kelahiran yang dijalani para Ibu.