Di akhir masa studi, memutuskan menjadi orang tua tunggal yang tangguh.  Saya menyebutkan demikian karena di masa-masa harus fokus menyelesaikan studi, membawa serta dua balita tanpa asisten di rantau adalah hal yang tidak mudah.  Dibutuhkan fisik yang selalu prima dan pikiran yang selulu  "on" terus dalam urusan penyelesaian draft disertasi.

Bila ada yang berpikiran bahwa dengan sendiri (tanpa bawa anak) bisa lebih fokus dan studi dapat selesai segera.  Hal ini dikarenakan pertimbangan pikiran tidak terbagi dan mengurus anak dapat memecah konsentrasi.  Tidak berlaku bagi saya, dengan kehadiran Fatih dan Ayesha justru menjadi penyemangat saya segera menyelesaikan studi dan kembali ke kampung halaman. Saya seolah termotivasi dengan adanya mereka membuat saya berusaha maksimal mengerjakan tahap akhir studi saya.  

Saya mensiasati tantangan selama di rantau bersama Fatih dan Ayesha dengan mendelegasikan banyak hal urusan domestik. Termasuk saat ke kampus, Fatih dan Ayesha harus di daycare yang letaknya berdekatan dengan ITB (tempat studi saya).  Urusan makan, lebih banyak dibantu dengan katering dekat tempat kost.  Mencuci dan setrika pakaian dibantu bibik yang juga bekerja di tempat kost.  

Stok harian saya siapkan setelah Fatih dan Ayesha di daycare, berbelanja kebutuhan harian selama sepekan (nggak bisa bulanan) karena pertimbangan tempat kost tidak terjangkau transportasi alias jalan kaki. Setelah membawa belanjaan pulang, saya pun harus balik ke kampus sampai sore. Setiap hari, Senin-Jumat setelah shalat Subuh dan menyiapkan sarapan (biasanya bubur atau roti, yang mudah penyiapannya) dilanjutkan mandi.  



Menghemat waktu, mandi kami lakukan bersama karena tidak memungkinkan meninggalkan mereka berdua bila saya mandi sendiri.  Berpakaian dan siap berangkat, tepat jam 6.30 kami keluar rumah. Menggendong Ayesha (waktu itu belum berjalan) dan menggandeng Fatih sambil menenteng tas bawaan untuk mereka di daycare.  Laptop dan buku-buku saya tinggal di ruangan di kampus agar tidak membawa bawaan yang banyak setiap hari.  Kami pun berjalan kaki sekitar 200 meter menuju jalan raya dan lanjut naik angkot.  Begitu pun saat pulang, berjalan kaki dari ITB ke daycare menjemput mereka, naik angkot lanjut jalan kaki hingga tiba. 

Hal dramatis bagi saya bila hujan turun, meski menggunakan payung tapi kami tetap akan basah.  Hanya bisa berdoa kiranya saya dan anak-anak tidak sakit. Saat di kost, aktivitas saya hanya fokus mengurus mereka. Karena hal yang berkaitan penelitian dan disertasi saya fokus kerjakan di kampus saja, tidak membawa pulang.  Saat akhir pekan, lebih banyak memanfaatkan layanan "Go Food" punya "Gojek" untuk keperluan makan. 
​​​​​
Pengalaman berharga ini semakin memperkuat bonding (ikatan batin) antara saya bersama Fatih dan Ayesha.