Hola Mommies!

Sudah paham banget dong kalau area bermain anak, saat ramai, bisa jadi arena yang brutal. Ada yang berebutan, gak mau antri, lari-lari lalu tabrakan terus jadi berantem, dll. Biasaa.. anak-anak..

Semenjak Raline mulai terampil main perosotan dan ayunan, biasanya saya mengawasi dia cukup dari jarak 2-3 meter. Selain jaga-jaga kalau dia jatuh, jaga-jaga juga kalau dia gak mau antri (langsung tiup periwitan) atau mengganggu anak lainnya. Menurut saya penting sih ini, jangan sampai dia melukai atau merugikan anak lain. 


NAH! Pernah saat usianya 2 tahun 10 bulan, Raline mengalami insiden di playground salah satu mall di Jakarta. Tau kan ibu-ibu, perosotan yang suka ada di tengah-tengah mall, yang gratis dan bisa dimainkan anak-anak sepuasnya sampai mall tutup (mungkin maksudnya biar ibu-ibunya belanja, anaknya main. Tapi kok gak berlaku ya buat saya. Yang ada tiap lewatin itu perosotan, transitnya jadi lama banget nungguin main dulu haha).


Waktu itu malam minggu. Mall ramai pengunjung, playground juga ramai pengunjung cilik-cilik. Jadi ceritanya, ada anak laki-laki usia 3,5 tahun yang meluncur di perosotan. Mungkin dia lelah, gak langsung berdiri tapi duduk-duduk santai dulu di ujung perosotan. Saya minta Raline untuk tunggu dulu, jangan langsung meluncur, tapi telat. Anaknya keburu syuuurrrr meluncur. Ketemu mereka di ujung perosotan. Gak ketendang kok, karena perosotannya juga gak licin, cuma kesentuh aja punggung anak laki-laki itu dengan kaki Raline. Anak itu langsung balik badan dan MENAMPAR Raline dengan keras. Iya keras banget sampai berbekas merah di pipinya.

Gak ada foto kejadian yang sebenarnya ya buibuk. Boro-boro kepikiran foto-foto. Mall dan perosotannya juga bukan yang ini.

Kaget, marah, kecewa, sedih? Iya semuanya saya rasain 😢. Saya lari, gendong Raline sambil tanya ke anak itu "nak, mama kamu yang mana?" Saya gak mungkin ngomelin atau nasehatin anak orang, bukan hak saya. Mungkin dia diajari untuk gak bicara dengan orang asing, jadi dia diam saja gak jawab. Gak mungkin juga saya ajari Raline untuk membalas, karena saya gak mau kekerasan dijadikan pilihan solusi untuknya. Saya tanya satu-satu ibu-ibu yang ada disana, tetap gak ketemu ibunya yang mana. Yaudah saya tungguin.

Image Source: gettyimages.com

Mungkin ada yang berfikir "Buuuk yaudahlah buuukk, anaknya juga gak nangis, lupakan saja, biasaaa namanya juga anak-anak"

OooWw Tidak bisaaa tidak bisaa!

Gak kok, saya gak mau marah-marah atau nuntut apa-apa. Lagian mau minta ganti rugi berupa apa? Secara materi gak ada yang dirugikan, secara emosi iya rugi banget tapi mau diganti dalam bentuk apa? Masa mau minta diajak jalan-jalan liburan? Hahaha.

Lah terusss mau ngapain?
Saya merasa wajib untuk memberitahu ibunya. Walau tidak akan menuntut apapun, tapi tiap orangtua berhak mengetahui perilaku kurang baik anaknya. Bukan juga untuk menghakimi, tapi agar orangtua dapat segera mencari solusi untuk menanganinya. Demi masa depan si anak, karena masalah besar, akarnya dari masalah kecil.



Setelah kurang lebih 10 menit akhirnya datang juga ibu dari anak itu beserta suami dan anak-anaknya yang lain. Saya temui dan ceritakan kejadiannya. Responnya positif. Awalnya, saya kira ibu ini akan marah atau sakit hati anaknya dituduh, tapi gak, si ibu meminta anaknya untuk minta maaf ke Raline. Tapi anaknya tidak mau. Yasudahlah, ucapan maaf dari si anak gak terlalu penting buat saya dan Raline. Cukup dari si ibu saja dan yang penting ibunya merespon baik bahkan sedikit bercerita kalau perilaku ini 'sudah biasa' terjadi.

Dari kejadian ini saya banyak belajar, ada beberapa hal baru yang perlu saya ajarkan ke Raline :
1. Apa yang harus Raline lakukan kalau dia lagi marah atau kesal sama orang.
2. Apa yang harus Raline lakukan kalau dipukul, dicubit, dll oleh orang lain.
Untuk 2 hal di atas, sejauh ini saya baru mengajarkan untuk langsung 
katakan tidak suka tapi jangan memukul/ mendorong/ dll. Kalau marah sekali mau mukul, lebih baik lari dan bilang ke memi. Mending ngadu aja deeehhh daripada ribut.


Dan untuk diri saya sendiri, walaupun Raline sudah bisa main sendiri, tetap harus ditemani. Untuk keamanannya sendiri dan anak lainnya. Anak tetap harus dibantu untuk memahami aturan bermain.

Karena yang mamak butuhkan hanyalah WORLD PEACE *lebay*, bermain aman, tentram, dan nyaman.❤


Catch up later on my next post :)