Hari itu dengan perasaan bahagia dan bersemangat didampingi keluarga (suami, anak, dan kedua orang tuaku) menuju Gedung Rektorat ITB.  Hari itu adalah tahap akhir rangkaian studiku, "promosi doktor" begitu dunia akademik menyebutnya. Saya memaparkan hasil penelitian yang dilakukan kurang lebih empat tahun di depan para akademisi, rekan kuliah, dan keluarga.

Sebelum sidang promosi doktor dimulai, saya harus mengkondisikan Fatih dan Ayesha agar bisa berpisah sejenak. Menenangkan mereka yang belum biasa berpisah fisik di saat saya berada di ruang yang sama. Sedikit saja kerewelan mereka akan membuyarkan konsentrasi saya. Kedua orang tua dan suami secara bergantian menenangkan Fatih dan Ayesha selama saya memaparkan hasil temuan selama studi. 



Menjelang akhir presentasi, konsentrasi saya mendadak buyar mendengar Fatih menangis. Untunglah tidak berlangsung lama, sesaat kemudian Fatih tertidur karena kelelahan bermain. Alhamdulillah saya dinyatakan lulus dengan hasil "sangat memuaskan", yang terbayang saat itu adalah kebahagiaan berkumpul kembali bersama keluarga kecilku. Lega seakan beban di pundak terangkat dan membuat langkah terasa ringan. 

Dengan selesainya sidang promosi doktor, saya telah menyelesaikan masa studi dan meraih gelar Doktor.  Gelar tertinggi di bidang akademik, tapi bagi saya lebih dari itu.  



Karena.....

Simak tulisan berikutnya ya