Akhir-akhir ini saya dan suami dibuat kewalahan dengan hobi baru anak kami yang sedikit-sedikit berteriak untuk menyatakan keinginannya. Entah apa yang menjadi pemicunya tapi sudah beberapa hari terakhir ini si anak hobi sekali berkomunikasi lewat teriakan yang memekakan telinga kami. Semula kami sepakat untuk mengajak anak kami berkomunikasi dengan baik-baik bahwa dia tak perlu berteriak untuk menyampaikan keinginannya pada kami. Sayangnya cara ini kurang efektif, karena si anak jadi semakin tidak sabar dan akhirnya berteriak lagi sesuka hati.

https://media.mnn.com/assets/images/2016/08/frustrated-dad.jpg.653x0_q80_crop-smart.jpg
Sebenarnya hal ini tidak terlalu menjadi masalah kalau ruang lingkup kejadian pada saat itu hanya di sekitar rumah saja. Tapi hal ini jadi berbeda apabila terjadi saat kami bertandang ke rumah saudara atau teman. Tak jarang hobi teriak si anak ini membuat kami dicap suka bertengkar sambil teriak-teriak di depan anak, orang-orang yang mencap hal tersebut berdalih bahwa anak adalah peniru terhebat di dunia. Jadi ketika dia punya hobi berteriak, pasti itu dikarenakan si orang tua juga mempertontonkan hal yang sama. Tanpa bermaksud denial, tapi labeling tersebut tidak tepat sama sekali. Pertama saya dan suami menjalani pernikahan jarak jauh jadi media komunikasi yang sering kami pakai adalah lewat aplikasi pesan dan yang kedua kalau pun pada saat bertemu kami berdua beradu pendapat, sebisa mungkin kami tidak melakukannya di depan anak. Lalu apa yang salah?

Setelah menyempatkan membaca sana-sini tentang perkembangan emosi anak, ada beberapa hal yang bisa menjadi petunjuk penyebab si anak jadi doyan berteriak. Pertama, kemampuan anak untuk berkomunikasi masih sangat terbatas. Dia belum bisa mengekspresikan perasaannya lewat kalimat-kalimat verbal yang terstruktur. Jadi besar kemungkinan berteriak adalah pola komunikasi termudah yang si anak rasa bisa menyampaikan maksud keinginannya. Kedua, ternyata tak perlu saling berteriak dengan pasangan di depan anak untuk membuat anak kita jadi hobi berteriak. Terkadang kita melakukan teriakan-teriakan yang tidak kita sadari di depan anak kita. Mau tahu seperti apa?

https://i0.wp.com/lenews.ch/wp-content/uploads/2015/03/Knife.jpg

Ketika anak kita memainkan benda tajam atau hal lain yang berbahaya, secara tidak sadar kita menghardik mereka dengan berteriak. Hal sekecil ini apabila dilakukan secara terus menerus maka akan terekam dan ditiru oleh anak. Jadi apa yang bisa kita lakukan? Evaluasi cara kita melarang anak dan belajar memberi konsekuensi negatif apabila si anak tidak mempan diberitahu dengan komunikasi lisan. Terdengar tega, tapi anak akan kesulitan menyadari kesalahannya apabila tidak diberi konsekuensi negatif. Pilih konsekuensi negatif yang ringan tapi mengena misal membatasi jadwal nonton Youtube atau mengurangi jam bermain. Semoga dengan dua cara ini si anak bisa mengerti bahwa teriakan bukan cara terbaik untuk mengeskpresikan keinginannya.