Hola Mommies!

Mungkin kita sering dengar pendapat orang mengenai wanita, seperti ini:

"Sudah punya suami, punya anak, ngapain kerja lagi? Lebih baik urus keluarga di rumah"

"Penghasilan suaminya sudah mencukupi, barang-barangnya mewah, mobil, rumah, sudah cukup. Ngapain lagi kerja?"

"Sudah jadi ibu, kewajiban utamanya ya ngurus anak, gausah lah kerja lalu menelantarkan keluarga"

Sayangnya pendapat-pendapat ini kerap kali diungkapkan oleh orang-orang yang kurang memahami kebutuhan si ibu. Kebutuhan manusia tidak berhenti di sandang, pangan, papan saja. Masih ada diatas itu.


Image Source: media.licdn.com
Setelah individu memuaskan kebutuhan pada tingkat paling bawah, individu akan memuaskan kebutuhan pada tingkat yang berikutnya.

Kebutuhan untuk Aktualisasi Diri atau kebutuhan yang paling tinggi yaitu dimana seseorang mengembangkan semaksimal mungkin segala potensi yang dimilikinya. Bisa berbagai macam bentuknya. Salah satunya, kebutuhan untuk berkarir di luar rumah. Lalu apa jadinya jika kebutuhan ini dilawan? Dipaksa untuk menjadi stay-at-home mom? Jenuh? Stress? Depresi? Merasa gagal berkembang? Kalau kondisi seperti ini apa masih bisa mengoptimalkan tumbuh kembang anak? Sepertinya tidak bisa.

Jangan juga menyalahkan kebutuhannya untuk berkarir, mungkin saja sejak kecil mereka dididik dan tumbuh di lingkungan yang seperti itu: wanita harus memiliki karir. Tidak ada yang salah dengan ini. Jangan lupa, setiap ibu (dan ayah) memang bertanggung jawab atas tumbuh kembang anaknya, tapi mereka juga punya tanggung jawab kepada diri sendiri untuk bahagia.



Jangankan yang memilih untuk bekerja, saya yang memilih untuk menjadi stay-at-home mom juga tidak luput dari komentar "gak sayang ijazah/ilmunya gak terpakai?" Hehehe... Terpakai kok ilmunya, tidak ada yang percuma dari menuntut ilmu kan?


Image Source: pamelapekerman.com

Alasan wanita memilih untuk berkarir, baik karena kebutuhan aktualisasi diri atau karena membantu perekonomian keluarga, keduanya tidak bisa disalahkan. 

Saya bisa membayangkan betapa sulitnya kembali bekerja setelah cuti melahirkan. Beratnya meninggalkan anak dengan pengasuh, melihat anak menangis saat pamitan, repotnya harus pumping ASI disela-sela kesibukan kerja, kangen anak tiap saat, merasa bersalah karena harus bekerja. Don't be. Jangan merasa bersalah.

Bagi wanita yang harus membantu perekonomian keluarga, aim for the future! Semua ini demi masa depan anak yang cemerlang. Bagi yang memiliki kebutuhan untuk aktualisasi diri, walaupun harus pergi bekerja tetap bisa dilakukan dengan penuh tanggung jawab kok. 
1. Tetap pelajari fase-fase tumbuh kembang anak serta tugas-tugas yang harus anak kuasai tiap fasenya.
2. Menitipkan anak dengan pengasuh yang kompeten, jika memungkinkan bisa ditambah supervisi dari pihak keluarga.
3. Membuat list kebutuhan anak selama ditinggal untuk dijalankan oleh pengasuh.
4. Quality time dengan anak sebelum pergi dan sepulang kerja.
5. Berpamitan dengan anak dengan cara yang benar dan jangan lupa pulang ya moms hehe (bisa dibaca DISINI moms untuk tips pamitannya).


Image Source: img.sxsw.com

Moms, memenuhi kebutuhan pribadi tetap bisa dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab kok. Jadi jangan merasa bersalah lagi ya. Sehat fisik, hati, dan pikiran demi masa depan keluarga. Peyuk atu-atu. ❤

Catch up later on my next post :)