Sebagai seorang Ibu, menghadapi tangisan anak tentu adalah rutinitas yang mau tidak mau harus kita hadapi setiap saat. Tangisan anak sendiri sebenarnya bisa berarti banyak hal, mulai dari tanda rasa lapar, bosan, kelelahan atau bisa jadi ia tak memiliki arti spesifik sama sekali. Hal terakhir ini lah yang menjadi momok bagi banyak Ibu, karena dengan tidak memiliki arti, sang Ibu akan merasa kebingungan dan kewalahan menghadapi tangisan si anak.

Tangisan anak yang tidak diketahui penyebabnya, bisa terjadi karena dua hal. Pertama, bisa jadi si anak ingin menyampaikan maksudnya tapi sang Ibu gagal menangkap maksud si anak. Kedua, bisa jadi si anak memang simply mencari perhatian si Ibu tanpa ada keinginan khusus apapun. Masalahnya adalah, apa yang harus kita lakukan ketika menghadapi kedua situasi tersebut? Apa kita harus bertindak tegas dengan menyuruh anak kita diam dan berhenti menangis? Cara seperti ini dijamin akan gagal dan membuat si anak semakin menangis menjadi-jadi. Apa kita perlu mengalihkan perhatian si anak ke hal-hal yang membuatnya senang meskipun itu sebenarnya itu dilarang untuknya? Ini hanya akan membuat pola asuh kita menjadi tidak konsisten dan anak kebingungan.

http://images.parenting.mdpcdn.com/sites/parenting.com/files/styles/story_detail_enlarge/public/baby-crying-mom-shoulder_AG.jpg?itok=KIcTUcle

Anak pertama saya –Ayas-, baru-baru ini sakit flu yang membuat tidurnya menjadi tidak nyenyak dan terbangun beberapa kali di tengah malam. Setiap kali ia terbangun, dia menangis sampai meronta-ronta tanpa bisa memberi petunjuk apa yang ia inginkan atau apa yang ia rasakan. Hal ini membuat saya senewen dan kelelahan fisik luar biasa, jujur beberapa kali saya sempat meluapkan emosi dengan memarahi Ayas dan menyuruhnya untuk berhenti menangis. Sudah diduga cara tersebut malah jadi senjata makan tuan untuk saya, tidak hanya tangisan Ayas jadi semakin kencang, saya pun jadi diliputi rasa bersalah karena memarahi anak yang tidak tahu apa-apa.

Sebelum memarahi Ayas, saya juga mencoba mengalihkan tangisannya dengan menonton tayangan kartun di Youtube yang biasanya saya larang. Ternyata hal ini juga tidak mampu membuat Ayas berhenti menangis. Akhirnya fisik saya yang juga sedang drop membuat saya menyerah dari segala teori parenting tentang menghadapi tangisan anak secara baik-baik. Setelah berusaha tetap kuat menggendong Ayas sampai tidur (Ayas sama sekali tak mau digendong orang lain selain saya), seolah-olah menjinakan sebuah bom, saya alihkan Ayas dari pangkuan saya untuk ditidurkan dengan Ibu mertua.


http://www.bluntmoms.com/wp-content/uploads/2014/10/bigstock-Stressed-Mother-Holding-Baby-I-13901690.jpg

Saat itu saya harus berpikir egois untuk kesehatan diri saya dulu, tak mungkin saya bisa mengasuh Ayas dengan baik kalau saya saja kelelahan luar biasa. Meskipun tengah malamnya Ayas masih terbangun dan rewel, tapi setiap kali ia bangun dan saya tidurkan kembali ke Ibu mertua saya, saya bisa kembali ke kamar dan tidur dengan cukup leluasa tanpa takut bergerak dan membangunkan Ayas. Hasilnya? Perasaan saya esok paginya menjadi lebih tenang dan saya merasa lebih waras untuk menghadapi tangisan-tangisan Ayas yang belum diketahui penyebabnya.

Menghadapi tangisan anak memang perlu kesabaran, tapi kesabaran saja tidak cukup. Perlu stok kewarasan yang cukup supaya para Ibu tidak berakhir dengan uring-uringan dan ujungnya menyesal karena memarahi anak. Untuk itu, pastikan kita bisa memaintain kewarasan yang kita punya demi menghadapi tangisan-tangisan selanjutnya.