Akhir-akhir ini, saya sering merefleksikan diri saya--yang kini sudah menjadi seorang ibu--dengan kehidupan saya di masa kecil, di bawah pengasuhan seorang Mama yang detail, kritis, dan berpikiran cukup modern pada masa-masa tersebut. 

Salah satunya, saat memilih dokter spesialis anak (DSA) bagi saya dan kakak saya. Mama sangatlah kritis. Dia nggak begitu saja menerima hasil diagnosa dokter yang menurutnya nggak "sreg" atau sesuai nalarnya. 

Alhasil, ketika kecil, saya sempat berganti-ganti dokter, hingga akhirnya, kami bertemu Dokter Kelly, dokter yang bisa menjawab keingintahuan Mama dengan solusi yang tepat. Pasalnya, saya itu alergi beberapa antibiotik, lho! Jadi, kebanyakan dokter pun bingung menangani anak dengan penuh "beban" alergi seperti saya. 

Saat itu, saya sering bertanya-tanya, kenapa Mama nggak membawa saya ke dokter lain saja, malah harus mengantri lama di dokter tersebut. Beliau tersenyum. "Soalnya, dokter ini "cocok" buat Kanne sama kakak. Nanti juga Kanne ngerti kok kalau sudah besar," ujarnya. 


Sumber: www.parenting.com

Setelah waktu berlalu, setelah saya beranjak dewasa, dan terlebih lagi setelah mama saya meninggal dunia, saya jarang "bertamu" ke dokter. Kalau merasa agak nggak enak badan, lebih memilih ke dokter kantor (yang gratis) atau dokter lain yang lokasinya deket dengan kantor atau kostan. Alhasil, saya nggak pernah merasa terlalu selektif dalam memilih dokter. 

Namun, hal berbeda terjadi ketika saya sudah memiliki anak. Sempat bertemu dengan beberapa karakter dokter--mulai dari yang santai, panikan, berantakan, semua-dihajar-pakai-dosis-obat, sampai yang pernah nyaris salah ngasih vaksin--saya belum pernah merasa sangat "pas". 

Nah, beberapa hari yang lalu, anak pertama saya, Si Kakakecil, BAB dan muntah secara terus menerus. Saya jadi trauma sendiri, mengingat bahwa Kakakecil pernah sampai dirawat inap selama 3 hari karena kasus ini, dan jadi dehidrasi. Tentu saja, hal ini nggak bisa didiamkan. 


Pemandangan menyakitkan saat Kakakecil pernah dirawat inap ini membuat saya trauma kalau Kakakecil mulai diare, muntah-muntah, dan nggak mau makan. 

Langsung saja, suami saya mendaftarkan diri ke dokter yang praktek malam di salah satu rumah sakit ibu dan anak (RSIA) terdekat, yakni Buah Hati Pamulang. Saya nggak berusaha milih-milih. "Siapa aja, deh, yang penting anak saya sembuh!" Begitu batin saya berucap. 

Ternyata, kami harus menunggu antrian konsultasi selama berjam-jam. Kami datang jam setengah 9 malam, karena nomor antrian kami masih jauh di belakang. Ternyata, DSA-nya belum datang, dong~

Akhirnya, setelah melalui dua jam yang cukup mengundang kantuk (apalagi melihat kedua anak saya tertidur pulas, aaaah mauuu!) dan disokong dopping sebotol kopi kemasan, nama anak saya dipanggil pada pukul 11 malam. Haa~ 


Sumber: Dreamstime.com

Setelah masuk ke ruang praktek dokter, saya melihat seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak kelelahan. Dia adalah Dokter Aditya, yang cukup populer dan difavoritkan di RSIA tersebut. Konon, sebelumnya, ia juga baru praktek di rumah sakit cabang lain. 

Tanpa berbasa-basi, ia langsung memeriksa kedua anak saya. Namun, satu hal yang menarik adalah ketika ia memeriksa Si Adikecil, yang memang masih bayi. Ketimbang menyapanya dengan verbal, Sang Dokter lebih memilih menggunakan gerakan dan bahasa tubuh untuk membuat Adikecil tenang dan tidak takut (padahal mau disuntik). Entah kenapa, saya merasa bahwa selelah apapun, caranya "berkomunikasi" dengan anak-anak menunjukkan rasa sayangnya yang tinggi pada mereka. Dan, otomatis, membuat kita percaya padanya.

Selain itu, cara menjelaskannya pun penuh dengan keyakinan, tanpa tersisip ragu di antaranya. Ia pun bukan termasuk dalam golongan dokter yang terlalu "mengagungkan" pemberian obat pada anak jika tidak diperlukan.

Dan, ia tidak sama sekali menyalahkan saya dan suami yang telat memberikan vaksin pada si Adikecil. Bahkan, ia sempat menjelaskan tentang keharusan vaksin serta tes yang dilakukan sebelum vaksin (karena sudah telat, ya, hehehehe), tanpa bersifat menggurui atau menghakimi. Dan, tentu saja, penjelasan serta caranya menjelaskan berhasil menenangkan rasa ingin tahu saya. 

Dan, banyak hal lagi yang membuat saya merasa "pas" dengan dokter yang satu ini. Pantas saja, ya, orang rela mengantri hingga berjam-jam, pantas saja~

Ternyata, memang nggak cuma jodoh aja yang milihnya harus pakai "chemistry" dan kecocokan, ya? Milih dokter anak juga begitu. Hehehe... Jadi curhat nih! 

Nah, adakah Moms yang juga sudah "menjatuhkan" hati pada satu dokter anak, yang cocok dengan kepribadian Moms dan anak-anak Moms?