“Umi, koq Doraemonnya gak pernah ganti baju? Nobita juga gak lulus-lulus SD nya? Penasaran pingin nonton Sailormoon lho Umi….”.  Itulah sekelumit pertanyaan yang sering diajukan Kamila kalo diajakin bahas film kesukaannya.  Moms, bahagia sekali ya Mommies yang lahir di akhir 80-an dan masa 90-an.  Kita disuguhi tontonan yang sangat berkualitas. Permainan tradisional yang kreatif dan beragam, serta persabahatan yang erat walau tidak kenal dengan yang namanya internet.  Kita masih merdeka dengan fikiran liar khas anak 90-an.  Bermain dengan aneka barang bekas namun mengasyikan. Menghabiskan waktu sepulang sekolah hingga maghrib menjelang, semua dilakukan bersama sahabat.


Saya sendiri sering sekali menceritakan kenangan di masa-masa kecil saya ke Kamila.  Tujuannya adalah, agar ia bersyukur karena hidup di zaman yang serba canggih dan berkecukupan seperti ini.  Saya sendiri lahir di sebuah kota kecil di Provinsi Lampung.  Ekonomi keluarga kami sangat terbatas sekali pada waktu itu.  Sehingga agara dapat menyaksikan film kesayangan kami, maka kami harus menumpang nonton di rumah tetangga yang memiliki parabola.  Tontonannya, Satria Baja Hitam, Sailormoon, Si Ular Putih, Kera Sakti, Doraemon. dan tentu saja yang Keluarga Cemara. 






Hingga saat ini, menurut saya Keluarga Cemara adalah film keluarga terbaik yang belum bisa ditandingi romansanya.  Saya masih ingat sekali theme song film ini,

Harta yang paling berharga, adalah keluarga. 
Istana yang paling indah adalah keluarga. 
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.
 Mutiara tiada tara adalah keluarga.
Terima kasih emak, terima kasih abah.
untuk tampil perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti…..

Ah, rindu sekali saya dengan film itu.  Masih terekam jelas dalam imaji ini, scene dimana Euis yang keliling jualan opak di terminal, atau Abah yang mengayuh becak serta Emak, Ara dan Agil dengan karakternya yang istimewa.  Saya akui, kenikmatan menonton suguhan film dimasa itu, jelas tidak akan sebanding dengan masanya anak saya sekarang.  Saya terkadang miris lho Moms kalo liat suguhan film “kids jaman now”.  Tiap hari disuguhkan drama sinetron, percintaan, perselingkuhan, dangdutan setiap hari, gossip, dan bullying, yang dibalut dengan tampilan seksi bahkan seronok.  Karena itu dirumah kami selau menerapkan jam nonton.  Kamila hanya boleh nonton tv dari pulang sekolah hingga maghrib.  Karena setelah itu, Kamila harus ngaji dan belajar.  Dan peraturan ini masih berlaku hingga hari ini.



Rindu sekali ya Moms, masa-masa dimana kita yang gembira bermain kaleng bekas dan bambu.  Bahagia saat mereview film kesayangan kita dimasa kecil itu.  Never ending story banget lah masa-masa itu.   Saking seringnya saya cerita tentang hal itu, suami biasanya ngeledekin, “Ayah ini udah sering denger cerita masa kecilnya Umi. Umi kalo cerita tentang masa kecil Umi ke Ayah, ujung-ujungnya Umi mewek sendiri”. hehehe…..

Semoga tontonan anak kita ke depannya dapat lebih baik ya Moms.  Saya salah satu ibu yang turut khawatir dengan perkembangan film akhir-akhir ini.  Karena bagaimana pun, anak itu sifatnya mencontoh.  Dengan tuntunan serta panutan yang baik, semoga anak-anak kita menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya.  Aamiin.....