Nah udah baca part 1 dan part 2 nya kan? Ini lanjutan nya ya.

LDR-an bersama suami memang gak semudah yang orang lain lihat. Sekuat-kuatnya perempuan, semandiri-mandiri nya perempuan, tetap saja membutuhkan suami. Dan sekuat-kuatnya seorang istri menjalani hubungan jarak jauh, pasti ada masa dimana merasa sedih-sesedih sedihnya dan rapuh serapuh-rapuhnya (oke maaf ini terkesan agak lebay ya tapi kadang bener sih). Dan sesedih-sedihnya LDR adalah saat dimana suami berpamitan pada kita dan anak (Duh sedih aku kalo lihat suami pamitan ke anak) . Tapi dibalik itu semua hal yang paling menyebalkan dan menambah sederetan kesedihan LDR adalah ketika orang sekitar atau keluarga bilang “Udah sabar aja, dia kan disana lagi cari nafkah....” atau “Yaudah yang sabar yaaa... nanti kan juga ketemu...” . Dan kalimat sabar sabar sabar sabar yang lainnya. Beneran deh, kalo dibilang kenyang aku tuh udah kenyang banget dibilangin sabar mulu. Hahaha. Orang bilang mesti sabar padahal mereka sendiri gak ngerasain apa yang aku rasa. Ya gitulah kalo LDR, sedih dan senangnya cuma bisa kita para pejuang LDR yang ngerasain, iya gak Moms?

Tapi ya dibalik semua kesedihan itu, ada hikmahnya sih yang aku rasakan. Jujur aku merasa jadi lebih mandiri, LDR-an sama suami bagaimana pun juga mengharuskan aku bisa ngapa-ngapain sendiri, jadi gak terlalu bergantung ini itu minta tolong sama suami. Mengurus anak benar-benar sendirian, mengurus rumah, dan kemana-mana sendiri (lah macam jomblo aja ya kemana-mana sendiri, hahaha). Ralat, kemana mana berduaan sama anak maksudnya. Selain membuat mandiri, ya memang sih LDR jadi membuat kita merasa saling rindu, rindu ingin bertemu. Ada perasaan ingin cepat-cepat bertemu, ada percikan-percikan lagi setelah tak bertemu sekian lama (duileeeh percikaaaan~) ya intinya seperti itu lah, aku agak susah juga jelasin nya, hehe. Dan satu lagi, LDR membuat aku semakin menghargai waktu ketika aku dan suami bertemu lagi. Quality time aku, suami, dan anak, benar-benar gak boleh ada yang ganggu! Haha.

Baiklah, akhir kata, teruntuk yang LDR-an dengan suaminya dimana pun berada, terpisah jarak ribuan kilometer, terpisah ruang dan waktu, semoga kita semua bisa melewati ini ya. Percayalah, semua akan indah pada waktunya. Percayalah akan ada hari dimana kita terbangun di pagi hari melihat suami. Percayalah bukan hanya kita yang berusaha untuk kuat melewatinya, tapi juga dia yang jauh disana pun pasti sedang berusaha juga sama seperti kita. Percayalah bukan hanya kita yang memendam rindu, melainkan dia pun juga pasti merasakan yang sama. Percayalah sejauh apapun dia melangkah mencari nafkah, ribuan kilometerpun dia pergi mencari sebongkah berlian dan sesuap nasi, dia akan tetap kembali pulang ke “rumah”. Ya, rumah tempat dia kembali pulang adalah istri dan anak. Percayalah, sesungguhnya kita dan suami itu tidak jauh selama masih berada di bawah langit yang sama dan selama masih menghadap kiblat yang sama. Percayalah :))