Melihat kedua jagoan saya terlelap dengan wajah menggemaskan, rasanya tak menyangka, sudah 5 tahun saya resmi menjadi seorang ibu.
 
Anugerah ini tak jadi milik seluruh wanita. Di setiap kebahagiaan menimang Si Kecil pun, ada cerita dan perjuangan berbeda.
 
Saya akan berbagi cerita, tentang duka yang pernah saya alami di kehamilan pertama. Ya, kisah "kakak" dari Aryo Nara. Yang menghuni rahim saya, hanya selama 11 minggu.
 
Waktu itu, bulan Juli 2011, saya baru 3 bulan menikah. Di suatu pagi, testpack menunjukkan dua garis yang mencengangkan.
 
Ketika sadar saya hamil, perasaan saya campur aduk. Saya belum genap sebulan bekerja di kantor baru. Masih masa percobaan. Kalaupun saya lolos, atasan memberitahukan bahwa cuti melahirkan saya digolongkan cuti tidak berbayar, karena belum melewati setahun masa kerja. Hal yang sama juga dialami suami, yang baru bekerja di kantor sekarang selama 2 bulan.
 
Jujur saja, saya melalui kehamilan pertama dengan banyak keraguan. Entah kenapa, saya merasa takut, tidak siap, kepala selalu dipenuhi kecemasan.


pic : www,pexels.com

Belum lagi, saya kesulitan beradaptasi dengan kehidupan baru berumah tangga. Alhasil, kekalutan mental ini memengaruhi kondisi fisik saya pula.
 
Saya menderita batuk pilek berkepanjangan yang tak kunjung sembuh. Saking parahnya, saya nyaris tak bisa tidur sepanjang malam karena batuk melanda. Di siang hari, pilek membuat saya "meler" sepanjang kerja dan perlu memakai masker.
 
Belakangan, saya baru mengetahui, sepertinya pembangunan sebuah tempat makan di samping kantor, membawa debu sangat banyak. Kondisi udara kotor yang membuat alergi saya kambuh.
 
Hingga tiba hari tak terduga itu. Idul Fitri menjelang. Saya dan suami berencana mudik ke Bandung, sehari setelah kami mendapatkan cuti bersama. Malam sebelumnya, saya dan suami sedang bercengkrama, tertawa berdua menonton televisi. Tiba-tiba saya mengalami flek! Hati saya mencelos, firasat tidak enak menghampiri.
 
Segera kami pergi ke rumah sakit tempat saya biasa kontrol. Ternyata, dokter kandungan saya masih praktik.
 
Di ruang praktik, saya semakin tidak karuan rasanya. Benar saja, begitu USG dilakukan, dokter menyampaikan kabar buruk itu.
 
Janin saya sudah tidak berkembang. Gugur sejak kemarin atau kemarin dulu. Lemas rasanya mendengar berita memukul ini. Operasi kuretase pun dijadwalkan dua hari kemudian.
 
Begitu sampai di mobil usai kontrol, barulah saya menangis sejadi-jadinya. Dunia saya seakan runtuh. Meskipun hati saya kerap diliputi ragu, saya tak kuasa menolak naluri. Bahwa sesungguhnya, saya ingin melahirkan anak ini dengan sehat dan selamat.


pic : www.pexels.com 
 
Saya merasa sangat berdosa. Terpuruk di lubang hitam yang begitu dalam. Apakah Tuhan sedang menampar saya begitu murka? Itulah yang bersliweran di kepala saya.
 
Hingga kini, tahun 2011 adalah Idul Fitri terburuk dalam sejarah hidup saya. Melalui operasi kuretase dua hari menjelang Idul Fitri. Menghabiskan Idul Fitri di ranjang sendirian, sementara orang-orang pergi bersilaturahmi. Hanya seorang asisten rumah tangga (yang memang akan pulang setelah Idul Fitri) yang menemani saya.
 
Duka saya ternyata belum usai. Pasca keguguran, saya rupanya mengalami trauma. Kondisi mental saya terusik oleh rasa bersalah, tidak berdaya, dan penyangkalan.
 
Saya menutup diri dan hati. Setiap ada orang yang mendatangi, bertanya tentang keguguran, atau sekadar berkata, "Sabar, semua akan baik-baik saja pada waktunya.", rasanya saya ingin menjerit. Tahu apa kamu tentang derita dan duka saya ini? Begitu teriakan hati saya.
 
Hubungan saya dan suami sempat merenggang. Suami bingung menghadapi saya yang emosi dan moodnya tak stabil. Saya merasa dipersalahkan karena tak mampu menjaga calon anak kami dengan baik.


pic : www.pexels.com
 
Saya benar-benar lupa. Bukan hanya saya saja yang berduka. Suami saya pun sama terpukulnya. Ia juga sedih, kehilangan calon anak pertamanya. Keturunan yang ia dambakan mengisi bab kehidupannya.
 
Di saat saya sudah begitu larut dalam kesedihan yang membelenggu, muncul cahaya yang membantu saya berjalan keluar dari duka.
 
Saya akan lanjutkan ke bagian kedua cerita ini, ya!