Aloha Momssss...


Masih di bulan Desember nih, hehehe. Walaupun sebenernya agak telat tapi ga apa – apa yaa saya mau bahas dikit mumpung masih di bulan Desember. Hampir setiap hari saya  kerja satu lingkungan dengan beberapa anak disabilitas atau bisa disebut  dengan Anak berkebutuhan khusus (ABK) jadi saya sedikit mau bercerita tentang mereka. 

Saya bekerja di sebuah sekolah, yang juga termasuk sekolah inklusi. Apa si sekolah inklusi? Sekolah inklusi itu adalah sekolah regular yang menerima Anak berkebutuhan khusus (ABK)  sistem pendidikannya disesuaikan  dengan kebutuhan regular dan ABK. Pada Anak Berkebutuhan Khusus ada beberapa sistem pendidikan yang diadaptasi  seperti kurikulum, pembelajaran, penilaian, serta sarana prasarana. Sekolah inklusi pada dasarnya membuat Anak berkebutuhan khusus dapat layanan pendidikan yang sama dengan penyesuaian dan juga bisa bersosialisasi bersama teman – teman lainnya. Ada beberapa anak yang dikategorikan Anak berkebutuhan Khusus, seperti anak dengan hambatan penglihatan, hambatan pendengaran, hambatan bicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, slow learner, autis, gangguan motorik, korban penyalahgunaan narkotika, dan gangguan kesehatan.



Pertama saya masuk kerja disini, jujur saya kaget, belum terbiasa. Karena sedari kecil beberapa dari kita mungkin jarang bersosialisasi langsung atau pun jarang mendapatkan pengetahuan dan informasi tentang apa sih Anak berkebutuhan Khusus itu. Saya pribadi awalnya tidak paham sama sekali. Sebulan pertama saya kerja, saya selalu main ke ruang sentra  yaitu ruang khusus dimana anak berkebutuhan khusus biasanya memantapkan pelajaran atau mengerjakan program – program individu.  Saya jadi banyak tanya – tanya guru pendampingnya, tanya ke bagian program individu-nya juga tanya – tanya sama psikolog konsultan di sekolah yang menangani  dan terapis anak tersebut. lama kelamaan sedikit demi sedikit saya mulai paham.

Terkadang nih ada beberapa orang tua yang awalnya kaget, khawatir karena anaknya satu sekolah, satu kelas, atau bahkan satu jemputan sama anak berkebutuhan khusus. Tentu tugas sekolah untuk jelasin dan meyakinkan sama orang tua kalau mereka (Anak berkebutuhan khusus) pun butuh bersosialisasi dengan teman, mereka pun berhak dapat pendidikan yang sama.

Dalam sekolah inklusi ada banyakkk berbagai macam murid dari latar belakang berbeda dari mulai yang reguler hingga yang berkebutuhan khusus dan mereka mendapatkan layanan pendidikan yang sama. Sehingga antar mereka pasti saling bersosialisasi satu sama lain, ada nilai – nilai yang justru bisa kita tanamkan pada anak.  Anak jadi memahami perbedaan, bahwa gak semua temannya sama, mereka jadi jauh lebih berempati sama temannya.

Kenapa saya bilang mereka berhak sekolah dan berpendidikan? Kita lanjut di bagian kedua yaa