Beberapa orang tua dari Anak berkebutuhan khusus ini sempat cerita mereka pernah mengalami kejadian Bully di sekolah anaknya dulu, sehingga anaknya serta keluarga jadi minder dengan keadaan, sempat stop sekolah karena trauma, menjauh dari lingkungan karena merasa sedih, malu,  dan gagal L. Ini yang selalu buat hati saya sedih, sedih banget. Buat saya pribadi mereka sama seperti kita, mereka bahkan bersosialisasi sama teman – teman seperti biasa.
 
Saya akui beberapa dari mereka lebih hebat dari pada teman – teman lainnya yang reguler di beberapa bidang (bukan bermaksud untuk membanding – bandingkan). Alhamdulillah beberapa dari anak berkebutuhan khusus di sekolahmendalami bakatnya, ada yang jago di salah satu mata pelajaran tertentu (biasanya IPA, B. Inggris, Matematika, atau Hafalan), ada yang lancar di bidang bahasa, ada yang jago menggambar, sampai ada yang lebih cepat untuk menghafal Al – Qur’an, duh malah kita aja susah buat hafal. Salah satu murid  di sekolah berangkat sekolah dan pulang sekolah sendiri pakai sepeda, yang mungkin kalau kita jadi orang tua pasti khawatir banget tapi dia bisa lakuin itu sendiri, takjublah saya.  Saya selalu menyayangkan ketika ada yang memandang sebelah mata, ada orang tua lain yang mengecilkan mereka, karena tujuan sekolah inklusi adalah semua anak berhak untuk mendapat pendidikan yang sama tanpa membeda – bedakan atau mendiskriminasi mereka.



Ada beberapa orang tua juga yang suka tanya, kenapa sih Anak berkebutuhan khusus ga sekolah di SLB aja? Nah Sekolah inklusi ini ada beberapa perbedaan dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) kalau di sekolah luar biasa sistem pendidikannya lebih khusus  sesuai dengan kebutuhannya dan terpisah dari anak umum lainnya. sedangkan pada sekolah inklusi anak berkebutuhan khusus disatukan dengan anak reguler lainnya, sehingga mereka dapat interaksi satu sama lain. Semua sekolah ada kelebihan dan kekurangan pastinya, tapi selama itu mendidik dan mengembangkan potensi anak Tentu hal ini dikembalikan lagi sama orang tua masing – masing, pendidikan dan sekolah mana yang dirasa dibutuhkan oleh anak.

Ada beberapa orang tua dari ABK ini yang kadang bingung gimana ya nanti anaknya ketika mereka udah ga ada? nerusin sekolah mana ya? Apa potensi atau keahlian yang harus mereka gali supaya mereka bisa terus survive di dunia yang rimba ini? Duh sejujurnya saya pun suka sedih waktu orang tua-nya luar biasa mikirin masa depan sang anak. Di beberapa workshop selalu dihadirkan anak – anak berkebutuhan khusus yang juga berhasil meraih mimpi mereka. Jadi saya fikir mereka pun berhak atas pendidikan yang sama dan juga punya cita – cita. Saya selalu berharap mereka bisa jadi seseorang nantinya, dengan bakat – bakat yang mereka punya, jujur lho saya kagum ketika lihat mereka yang berhasil jadi chef, punya band, bisa mandiri untuk sehari – hari, dan menghasilkan karya sendiri. Buat saya mereka luar biasa, dan pendidikan salah satu jalan mereka menggapai mimpi dan cita – cita (menurut saya).



Semoga dengan semakin banyak literatur, bacaan, pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus juga membuka mata orang tua semua bahwa mereka juga anak kita yang patut kita jaga dan tidak membedak – bedakan, mereka pun berhak atas pendidikan, mereka berhak sekolah dan menggali potensi diri. Karena menurut saya dengan membatasi dan bilang “eh jangan main sama si itu dia mah abk” itu pun sudah tindakan yang kurang baik dan bully-ing secara verbal. Jangan takut ketika anaknya harus sekelas dengan Anak berkebutuhan Khusus, justru ajarkan pada anak untuk berteman dengan siapapun dengan keadaan apapun, tidak membeda  - bedakan.