Setelah dinyatakan Dokter bahwa saya positif hamil, saya dan suami membahas dimana nanti saya akan melahirkan? Berhubung kami tinggal jauh di perantauan yaitu di ujung timur Indonesia, maka kami merencanakan untuk melahirkan di Jakarta saja agar dekat dengan keluarga.  Namun, kondisi awal kehamilan saya yang bermasalah mengharuskan kami mengurungkan rencana tersebut. Pendarahan selama berbulan-bulan membuat saya trauma untuk terbang, naik pesawat selama berjam-jam dalam kondisi hamil. Jadi saya memutuskan untuk melahirkan di tanah rantau saja.  Saat itu, hanya ada satu Rumah Sakit saja yang mampu melayani persalinan SC dan sejujurnya saya kurang sreg dengan kondisi RS tersebut, sehingga saat itu saya sangat berharap bisa melahirkan normal saja di RS lain atau di Klinik Bersalin lainnya.

Namun di minggu 34 kehamilan saya mengalami ketuban rembes,  yang pada akhirnya Dokter memberi saya suntikan pematangan paru-paru untuk janin karena diindikasikan akan dilakukan operasi SC segera.  Saya sudah memasrahkan segala ketetapan, ketentuan dan takdir di tanganNYA.  Segala sesuatu yang saya inginkan, belum tentu yang terbaik menurutNYA.  Saya siap dengan segala bentuk persalinan, even itu harus melalui jalan operasi SC, insyaa Allah saya sudah ikhlas, yang terpenting adalah saya dan bayi saya selamat, sehat, dan sempurna.
Tiga hari opname di Klinik, dua kali suntikan pematangan paru-paru sudah diberikan rupanya Dokter masih optimis saya bisa melahirkan normal. Saya akhirnya diperbolehkan untuk pulang.

Melewati minggu ke 37 kehamilan saya sudah sangat siap untuk melahirkan kapanpun. Saya sudah mengambil cuti bersalin dan mulai memperbanyak jalan kaki setiap pagi. Ibu saya dari Jakarta pun sudah datang ke Manokwari untuk menemani saya saat persalinan. Saya selalu cermati setiap tanda-tanda kontraksi yang datang. Saat itu saya sangat sering mengalami tegang perut, rasanya seperti mengencang.  Anehnya saya tidak mengalami mules seperti sedang ingin buang air, lebih kepada rasa sakit kram di perut bawah seperti sedang haid.


https://id.pinterest.com/pin/355714070552944693/

Sabtu sore tanggal 19 September 2015 (satu minggu sebelum due date) saya kembali kontrol kehamilan ke Dokter.  Saya bercerita tentang tegang perut dan keram pada perut bawah yang saya alami dan bertanya kenapa saya tidak merasakan mules sama sekali.  Saya kemudian diperiksa dalam oleh Dokter.  Kaget bukan main saya saat Dokter katakan saya sudah pembukaan satu dan kemungkinan malam nanti sudah melahirkan.  Saya buru-buru pulang untuk memberitahu Ibu saya untuk bersiap-siap. Saya siaga satu menunggu tanda-tanda.

Selepas Isya saya merasakan sakit luar biasa di daerah pinggang. Entah karena memang sungguhan kontraksi atau hanya karena sugesti. Tetapi memang rasanya sangat sakit sampai membuat saya menangis. Kami kemudian segera pergi ke Klinik Bersalin. Iya, saya memutuskan untuk melahirkan di Klinik Bersalin saja karena kondisi rawat inapnya menurut saya lebih nyaman. Dokter kembali periksa dalam, dan memang saya sudah pembukaan 2.



Suster meminta saya untuk stand by di Ruang Bersalin namun saya menolak. Saya bilang nanti saja sus saat sudah dekat-dekat bukaan lengkap. Saya takut tidur sendirian di Ruang Bersalin. Akhirnya malam itu saya tidur dengan kondisi perut yang kencang, pinggang sakit, dan perut bawah yang keram.  Anehnya bukan rasa mulas seperti ingin buang air.  Setiap jam suster selalu memeriksa kemajuan pembukaan saya.  Sampai pada jam 9 pagi keesokan harinya, saya masih berada di pembukaan 2. Dokter datang visit dan memutuskan untuk menginduksi saya.

Kata orang, melahirkan dengan induksi lebih sakit daripada melahirkan normal. Tapi yaa saya juga tidak bisa membandingkan karena baru merasakan persalinan pertama. Saya membaca doa dimudahkan dalam segala urusan, tidak lupa ibu saya selalu mengingatkan untuk berdzikir. Setengah jam pertama setelah diberi suntikan induksi saya tidak merasakan perubahan sama sekali.  Dokter datang dan mengatakan, jika tidak ada perubahan sampai sore, mau tidak mau saya harus SC.  Saya masih bisa Whatsapp-an dengan teman-teman saya waktu itu, ada yang menyarankan saya untuk tidur miring kiri agar cepat proses bukaannya.



Ternyata benar! Tidak lama kemudian saya dengar ada suara “dub” dari perut yang ternyata pecah ketuban saya karena setelahnya kain sarung yang saya gunakan menjadi basah kuyup akibat mengalirnya air ketuban. Setelah itu, pembukaan terus bertambah, terus mengalami kemajuan.  Jam 10 pecah ketuban saya sudah di pembukaan 3.  Sempat saya tersendat di pembukaan 4 ke bukaan 5 karena saya menahan BAK.  Akhirnya suster memasangkan selang pispot agar saya bisa buang air.  Entah tapi saya trauma dengan pispot karena perihnya bukan main. Alhamdulillah setelah BAK, bukaan terus bertambah dengan cepat seiring bertambahnya gelombang cinta dari dalam perut saya.

Mulas datang dan pergi secara teratur.  Saya menikmati proses itu, sangat menikmati.  Saya menggenggam tangan ibu yang duduk sambil membaca Al-Qur'an di samping kiri saya. Saya menangis dan meminta maaf pada Ibu karena saya baru merasakan bagaimana perjuangan saat melahirkan. Suami yang duduk di sisi kanan saya pun menggenggam tangan saya untuk memberikan dukungan dan semangatnya.  Saya semakin merasakan dorongan-dorongan dari dalam dan semakin dekat dengan pintu lahir. Jujur menahan mengejan adalah hal tersulit yang harus saya lakukan saat itu. Suster bilang, ibu boleh teriak tapi tidak boleh mengejan.  Sulit sekali rasanya harus menahan sesuatu yang terus menerus mendorong ingin keluar.


https://id.pinterest.com/pin/388224430359555247/

Jam 13.30 waktu Indonesia Timur saya merasakan kepala bayi saya sudah sampai di pintu lahir.  Suster memeriksa, dan benar saja sudah bukaan lengkap.  Suster meminta saya untuk bertahan sampai Dokter datang. Tak lama kemudian Dokter datang dan saat itu saya merasa sangat lega karena pada akhirnya saya bisa mengejan sekuat mungkin.  Saking semangatnya mengejan sampai Dokter bilang, rileks saja bu atur nafas. Alhamdulillah, anak kami Muhammad Abrizan Akmal lahir selamat, sempurna di usia kehamian 39minggu 5 hari. Masyaa Allah.

Jangan tanya berapa jahitan setelah persalinan ya, saya juga sulit membayangkannya. Karena kalau menurut suami saya, saya sudah seperti diobras saking banyaknya jahitan.  Mungkin karena saya sering ‘curi-curi’ mengejan saat masih bukaan 7 – 8. Tapi sakitnya jahitan tidak lagi terasa sakit karena rasa penasaran saya ingin melihat wajah bayi kami.  Sayang sekali proses IMD atau Inisiasi Menyusui Dini tidak dapat dilakukan karena terakhir air ketuban saya berwarna hijau menandakan adanya infeksi.  Mungkin ada kaitannya dengan kejadian rembes ketuban pada usia 35 minggu kehamilan saya.


Post berikutnya insyaa Allah saya akan bercerita tentang pengalaman menyusui saya yang juga diawali drama dan juga baby blues yang yang sempat saya alami.