Sejak awal saya menikah dengan suami, kami sudah terpisah jarak lebih dari 700 km. Saat itu saya bekerja di Jakarta dan suami bekerja di Surabaya. Jarak yang jauh ini berarti intensitas saya dan suami tidak bisa sesering suami istri lain yang tinggal dalam satu atap. Hal ini juga berlaku pada saat saya hamil, tidak hanya menjadi terbiasa menjalani kontrol kandungan seorang diri, saya juga lebih mengandalkan Abang Ojek Online untuk memenuhi semua keinginan ngidam saya ketimbang suami saya sendiri. Bagaimana rasanya hamil anak pertama dengan tinggal sendirian di sebuah kamar kosan? Tentu ada rasa sedih yang saya rasakan pada saat itu, tapi kesedihan itu tentu tidak bisa saya rasakan berlarut-larut karena bisa berefek negatif pada kandungan saya. Jadi ketimbang merasa galau gak karuan, saya memilih untuk menikmati masa kehamilan pertama saya dengan lebih intim bersama si jabang bayi.


Ngidam

Kebetulan saat itu di kantor saya ada dua perempuan lain yang juga sama-sama hamil perdana (bahkan salah satunya juga menjalani pernikahan jarak jauh dan tinggal di kosan yang sama dengan saya). Akhirnya saya dan teman saya ini jadi kompak saling berbagi segala sesuatu tentang kehamilan kami, mulai dari pergi kontrol kandungan ke dokter yang sama sampai sharing ongkos ketika memesan makanan hasil ngidam ke tukang ojek online hihihi. Jadi lumayan lah, kami jadi punya tempat untuk saling berkeluh kesah tentang kehamilan dan suami yang jauh.

Setiap kehamilan pasti punya karakter yang berbeda-beda, kehamilan pertama saya termasuk yang tidak rewel dan gampang diajak kompromi. Tidak ada mual-mual yang parah, ngidam pun tidak ribet-ribet amat. Hal ini membuat saya memiliki waktu lebih banyak untuk mencari tahu segala sesuatu tentang kehamilan anak pertama. Hal pertama yang saya sering lakukan adalah belajar tidak panik, sebagai calon Ibu baru yang belum mengerti apa-apa, seringkali saya dilanda panic attack yang tidak perlu ketika terjadi sesuatu yang sedikit aneh pada kehamilan saya. Pernah suatu kali perut saya bentol-bentol merah, ketika saya mencari tahu soal itu di google saya hanya bisa ketakutan sendiri, karena hasil pencarian yang saya temukan semua mengarah pada penyakit Rubella. Akhirnya setelah berkonsultasi dengan Dokter, diketahui kalau bentol itu hanya bentol biasa.


Ibu Hamil Sedang Memasak
Selain itu sebagai calon Ibu yang tinggal jauh di perantauan, saya juga mulai membeli alat masak dan bahan masakan sendiri. Hal ini saya bela-belain demi menjaga agar asupan gizi si jabang bayi tidak melulu berasal dari pecel lele dan nasi padang warung sebelah kantor hihi. Hasilnya lumayan, selain asupan gizi jabang bayi dan calon Ibu lebih terjamin, kemampuan memasak saya pun jadi mengalami peningkatan. Hal krusial terakhir yang saya lakukan dalam menjalani masa kehamilan pertama saya adalah, menyibukan diri dengan kegiatan-kegiatan yang positif. Daripada galau gak jelas dan berpengaruh ke jabang bayi, lebih baik saya menghabiskan waktu dengan nonton film atau pergi makan di luar.

Menjalani kehamilan sendirian, apalagi kehamilan pertama sendirian bukan lah hal yang patut ditangisi. Kalau kita jeli, ini justru bisa menjadi ajang persiapan kita untuk menjadi Ibu yang lebih kuat.