Haloo moms, bu'az mau berbagi cerita lagi nih. Dua bulan yang lalu aku datang bulan dengan hal yang tidak wajar. Kenapa tidak wajar ? Karena datang tak kunjung selesai sampai 20 hari. Begini nih cerita lengkapnya.

Tanggal 23 September 2017 saya datang bulan. Seharusnya datang bulan tanggal 25 nya, saya pun tak ambil pusing mungkin karena hormon atau faktor pikiran dan kelelahan datang bulan bisa maju mundur. Tapi dihari ke-7 datang bulannya tidak kunjung selesai malah tidak seperti biasanya lebih banyak darah segar yang keluar serta gumpalan-gumpalan darah kecil-kecil. Sayapun masih acuh dan suami bilang "de, kamu belum selesai haidnya ? Lama banget berarti subur banget kamu lama haidnya". Saya pun hanya menanggapinya seperlunya.

Datang bulan tak kunjung henti pada hari ke-12. Saya pun menanyakan ke teman yang sedang main kerumah. Diapun menjawab "memang begitu kalau kecapean atau stress hal yang wajar buat ibu ibu yang baru punya anak, apa lagi anaknya aktif. Coba ditunggu aja sampai hari ke-15 kalau tidak berhenti juga datang bulannya ke dokter. Karena batas terlama datang bulan itu 15 hari"

[Datang bulan hari ke-15]
Sudah risih dengan datang bulan yang tak kunjung selesai akhirnya memberanikan diri untuk ke dokter kandungan di hermina. Setelah antri dan diperiksa dalam melalui transvagina. Dokter bilang kalau rahim saya menebal hinggal 10cm. Dokter berkata "ibu yakin gak hamil" saya cuma blg "gimana hamil dok kan ini darahnya keluar terus" akhirnya saya disuruh tes urin untuk menunjukan saya positif hamil atau karena faktor hormonal saja. Setelah hasil laboratorium selesai balik lagi ke dokternya. Dan hasilnya negatif, saya dikasih obat untuk memberhentikan pendarahannya kalau 1 minggu minum obat tidak berhenti juga jalan satu-satunya adalah kuret untuk memberhentikan darah tersebut.



[Datang bulan hari ke-20]
Sudah satu minggu saya minum obat dari dokter hermina tidak ada tanda-tanda berhenti. Saya tidak yakin dengan rs itu akhirnya saya minta ke dokter Fachrudin di Rs.Duren Tiga yang menangani saya melahirkan Azka. Diperiksanya tidak memakai alat apapun, saya cuman disuruh berbaring dengan posisi mengangkang. Dibantu dengan lampu yang mengarah ke vagina. Dr. Fach hanya bilang "ini mah keguguran bu". Saya dan suami saya kaget. Diambilnya janin yang sudah hancur untuk membuktikan ke saya dan suami. Rasanya saat diambil dengan pinset panjang itu rasanya perut langsung mules-mules. Setelah diperiksa dokter menyarankan untuk di kuret agar bersih. Tapi saya pribadi takut untuk dikuret dan meminta untuk dibersihkan pakai obat saja. Dan dokterpun mengiyakan tapi jika 3hari gumpalan darahnya masih keluar harus dikuret.

[Tiga hari setelah meminum obat]
Kontrollah saya dengan suami beserta membawa mama papa. Kenapa bawa mama papa karena saya persiapan untuk dikuret hari itu juga. Memberanikan diri untuk kesehatan saya pribadi. Setelah diperiksa oleh dokter Fach dia bilang kalau masih ada sedikit yang tertinggal. Saya pun bilang "kuret aja gak apa apa dok supaya bersih sekalian dan selesai deh" dokter fach bilang "oke bu lebih bagus dikuret memang, coba dari kemarin".



[Persiapan untuk kuret]
Saya diambil darah terlebih dahulu dan langsung masuk kekamar bersalin. Saya berbaring dan dimasukkan obat anti nyeri dan obat bius total (anastesi)  dari tangan. Saya diajak ngobrol dan tiba-tiba pandangan menjadi kabur dan gelap. Tiba-tiba ada suara dan saya masih tutup mata takut kalau dokter masih kuret saya. Pas lihat kesebelah kanan ternyata suami sudah ada suami saya. Dan saya nanya "udahan belum a ? Azka rewel gak" Suami saya bilang "udah de emang gak berasa, azka gak rewel kok" saya cuma bisa bilang "gak tau apa-apa semuanya gelap kayak tidur aja gitu. kok cepet banget cuma 20 menit sih kirain belom dikuret".
Rasanya dikuret sakit gak ? GAK SAMA SEKALI karena berasa tidur aja gituu. Cuma masa pemulihannya abis dikuret butuh 5 jam berbaring ditempat tidur. Bosennyaa minta ampun. Dibolehkan pulangnya setelah pengaruh obat biusnya rada ilang. Setelah jam 7 malam saya berjalan dituntun oleh mama karena benar lemas banget buat melangkahnya.



[Sampai dirumah]
Sampai dirumah saya hanya bisa menangis karena menyesal tidak bisa menjaga apa yang dititipkan sang pencipta. Andai saja saya tau kalau waktu itu saya hamil. Saya tidak akan gendong-gendong terus Azka dan tidak turun naik tangga dirumah. Tidak lari-larian bermain dengan Azka. Pukulan besar untuk saya kehilangan calon anak. Dan untuk mencegah kejadian seperti itu akhirnya saya memberanikan diri untuk ikutan KB IUD sebulan setelah kuret langsung pasang. Tapi yang namanya trauma tidak begitu saja ditelan waktu. Trauma itu selalu datang setiap saya datang bulan. Setiap ke toilet pikiran saya selalu "yaah keguguran lagi" alhasil langsung sedih bila dari toilet :(