Hal-hal yang membuat anak balita merasa bahagia bisa jadi adalah sebuah kejutan tersendiri bagi para orang tua. Para ahli perkembangan anak yang meneliti mengenai hal tersebut menyatakan bahwa, happiness isn't something you give toddlers – it's something you teach them. Edward Hallowell, salah satu dari pakar tersebut mengemukakan sebuah fakta bahwa anak yang masa kecilnya dihujani berbagai macam mainan cenderung tumbuh menjadi remaja yang mudah merasa bosan, sinis dan kurang bahagia. Hasil penelitian tersebut sekilas terdengan menyeramkan bagi sebagian orang tua yang merasa tidak punya pilihan banyak dalam mengajarkan kebahagian kepada anaknya selain melalui beragam mainan. Tapi ingat, kita selalu punya pilihan ... begitu pun dalam mengajarkan kebahagian pada anak-anak kita. Berikut adalah hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membaca apakah anak kita merasa bahagia atau tidak.

Belajar Membaca Emosi Anak
Anak memiliki kemampuan berkespresi yang sangat hebat dalam menunjukan emosi yang ia rasakan, ia bisa tersenyum begitu lebar ketika merasa bahagia dan ia bisa menangis meronta-ronta ketika ia tak mendapatkan hal yang ia inginkan. Tapi meskipun demikian, orang tua kadang masih bertanya-tanya, apakah anak kita bahagia?



Sebenarnya tanda seorang anak merasa bahagia cukup kasat dilihat mata, dia senang tersenyum, bermain, punya rasa ingin tahu yang tinggi, tertarik berinteraksi dengan anak seumurannya dan dia tidak memerlukan stimulasi yang terus menerus. Begitu pun dengan tanda anak-anak yang tidak merasa bahagia, hal ini dapat dilihat melalui karakter anak yang pendiam, susah makan, tidak bisa berinterasi secara spontan dengan teman seumurannya, jarang bertanya, jarang tersenyum dan memiliki kesulitan berbicara. Tapi jangan salah mengartikan anak yang pemalu sebagai anak yang tidak bahagia ya moms, shyness is not the same as sadness, kalau anda memilik anak yang bersifat pemalu, ini hanya berari anda harus berusaha ekstra dalam membaca emosinya.

Paul C Holinger, telah mengidentifkasi 9 tanda yang biasa dipakai bayi untuk mengekspresikan perasaannya. Dua dari sembilan tanda tersebut juga dapat diaplikasikan kepada anak usia 2 tahun sampai 5 tahun, yaitu “interest” dan “enjoyment” sebagai tanda ekspresi persaan positif dan “distress” dan “anger” sebagai tanda ekspresi perasaan negatif.



Kebanyakan orang tua pasti menyadari bahwa anak yang gampang marah sudah jelas bukan tanda dari anak yang bahagia. Tapi hal yang sering dilupakan oleh para orang tua adalah, bahwa anak yang gampang marah justru seringkali ingin menunjukan bahwa ia sedang merasa sedih. Pada rentang usia berapapun, kemarahan adalah bentuk perwujudan dari rasa sedih yang berlebihan. Ketika anak kita memukul kakaknya yang merusak mainannya, ini berarti ia merasa sedih di luar batas yang mampu ia kendalikan.

Untuk itu sangatlah penting bagi para orang tua untuk dapat mengenali emosi anaknya, karena setiap anak memiliki cara yang berbeda untuk menunjukan perasaannya. Sebagian anak mungkin senang mengasingkan diri saat ia merasa sedih, sebagian lagi mungkin malah menjadi tantrum atau mungkin malah dia menjadi clingy ketika merasa sedih. Semakin baik pemahaman orang tua terhadap temperamen anaknya, kita akan lebih mudah untuk membaca sesuatu yang tidak beres dalam perkembangannya.

Artikel disadur dari sini