Melihat fenomena saat ini dimana banyak ibu-ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan membuat saya berpikir "wah sangat bahaya sekali dampaknya jika baby blues tidak segera ditangani dengan baik". Dampaknya bukan hanya pada psikologis sang ibu, tapi juga pada kondisi rumah, khususnya pada sang bayi itu sendiri dan suami. Beberapa pernyataan ibu yang pernah mengalami depresi pasca melahirkan bahkan sempat terlintas keinginan untuk melukai bayi dan dirinya sendiri. Se-seram itu yaa kondisi psikologis ibu baru melahirkan.
​​​​​​
Hal itu membuat saya flashback dua tahun yang lalu saat Akmal baru lahir.  Meski tidak sampai depresi yang berkelanjutan, tapi saya pernah mengalami baby blues. Saya juga yakin banyak ibu (terlebih ibu baru) yang mengalami hal serupa dengan saya. 

Baby blues saya diawali dari waktu sesaat setelah melahirkan saat dokter katakan saya tidak boleh IMD padahal saya sangat menggebu-gebu ingin meng-IMD-kan Akmal. Tapi karena alasan dokter adalah alasan medis yang dapat saya terima, saya legowo.

Kemudian setelah mencoba menyusui Akmal untuk pertama kali, Akmal belum bisa latch on secara sempurna sehingga belun bisa menghisap. Hancur hati saya 30 jam Akmal belum juga bisa menghisap. Saya pompa ASI saya dan sendokkan sedikit demi sedikit ke mulutnya. Bahkan sekali waktu menyerah pada susu formula karena saya kasihan sekali melihat Akmal kelaparan dan kehausan karena belum juga mampu menyusu. Padahal memang ketika baru lahir, lambung bayi hanya seukuran sangat kecil sehingga kebutuhan susu nya pun masih sangat sedikit. Itulah pentingnya ibu baru dalan memahami hal-hal kecil seperti ini.


Image source: www.neurophysichiatrichospital.net


Saya sangat bersyukur Ibu dan suami saya terus menyemangati saya untuk tetap mencoba menyusui Akmal. Setiap Akmal bangun tidur saya coba susui. Saya juga membisikkan kalimat "ayo nak kita sama-sama belajar ya" ke telinga mungil Akmal waktu itu. Saya ubah posisi perlekatan, terus dicari posisi sampai Akmal bisa.

alhamdulillah setelah 30 jam pasca lahir terlewati, Akmal bisa menyusu. Momen itu benar-benar mengharukan sekali. Saya dan Ibu saya menangis bahagia, bersyukur akhirnya Allah mudahkan Akmal untuk bisa menyusu langsung pada saya.

Drama baby blues selanjutnya adalah ketika saya dapati Akmal "terlihat" kuning di minggu pertama kelahirannya. Saya bertanya pada teman-teman tentang hal ini. Dan lagi-lagi saya harus bersyukur memiliki teman-teman yang sangat mensupport dan menenangkan. Saya hanya perlu menyusui Akmal lebih sering saja.



Tapi sepencaharian saya di dunia maya mengenai penyakit kuning pada bayi memang salah satu tandanya adalah bayi yang "malas" menyusu dan lebih memilih tidur. Inilah drama selanjutnya. Saya berupaya dengan sangat untuk membangunkan Akmal tiap 2 jam sekali untuk menyusu. Mulai dari membelai dengan lembut, mengelitiki telapak kakinya, sampai saya angkat dari tempat tidur. Btw saya memang sejak Akmal lahir ingin membiasakannya tidur di tempat tidur, bukan di gendongan. Awalnya sangat sulit membamgunkan bayi yang sangat nyenyak tidur, tapi saya harus bangunkan untuk dapat asupan cairan ASI demi memulihkan kondisi nya yang "kuning". Tapi "perjuangan saya ini hanya berlangsung di satu atau dua minggu pertama saja, karena setelahnya Akmal mulai mengenal pola menyusu yang akan bangun setiap jam yang biasa saya bangunkan ia menyusu.

Saya mengurusi Akmal sendiri dengan bantuan Ibu saya, juga suami. Awal kelahiran, Ibu saya yang memandikan Akmal. Tapu MAU ATAU TIDAK MAU saya harus bisa mandiri memandikan Akmal karena Ibu saya sebulan lagi akan pulang ke Jakarta. Drama baby blues selanjutnya dimulai.

Saya seringkali menangis pada Ibu saya. Saya bilang, Bu apa saya sanggup mengerjakan semua. Mengurus Akmal sendirian dan mengurus rumah pula. Belum lagi ketika cuti melahirkan saya nanti usai, bagaimana saya mendapatkan pengasuh untuk Akmal. Saya menangis, mempertanyakan kesanggupan saya mengerjakan semua. Ibu saya selalu menyemangati, pasti bisa pasti bisa. Dan alhamdulillah suami saya pun bilang, tidak perlu khawatir tentang memasak karena suami saya setuju kami pesan katering saja. Saya pikir, disitu lah kunci peran orang-orang terdekat dalam mengatasi baby blues sang ibu.

Ketika Ibu saya pulang ke Jakarta, saya benar-benar mengurus Akmal sendirian. Bayangkan saja, saya yang hampir tidak pernah menggendong dan mengurus bayi saat gadis, harus mengurus bayi berusia 2 bulan sendirian. Rahmat dari Allah berupa insting seorang ibu lah yang membuat seorang ibu itu mampu menggendong, memandikan, mengganti popok, membersihkan pup, dan meenyusui bayinya meski sebelumnya tidak pernah dan tidak terlatih. Karena keadaan pula (saat itu saya di perantauan sangat jauh dari keluarga) yang memaksa kami untuk MAMPU mengurusi semuanya.



Drama selanjutnya adalah ketika cuti melahirkan saya hampir habis dan saya belum juga mendapatkan pengasuh Akmal. Di perantauan sangat sulit mendapat pengasuh yang sesuai harapan. Saya sudah cari kesana kesini, meminta tolong tetangga, teman barangkali ada kenalan yang mau jadi pengasuh Akmal. Bahkan saya menanyakan Ibu di Jakarta kalau-kalau ada orang yang mau diajak tinggal di Papua untuk membantu saya mengasuh Akmal ketika saya bekerja.

Alhamdulillah drama pencarian pengasuh Akmal berakhir saat ada tetangga jauh yang bersedia menjadi pengasuh Akmal dan mau ikut ke kantor selama saya bekerja.  Dan bonusnya, penhasuh Akmal ini sayang sekali pada Akmal, bahkan sampai sekarang saya sudah di Jakarta dan beliau di Nabire pun masih sering mebanyakan kabar Akmal dan kangen pada Akmal, masyaa Allaah. Insyaa Allah lain kali di postingan lain saya akan cerita pengalaman membawa bayi ke kantor.