Tingkatan Penyakit Difteri

Penyakit difetri terbagi menjadi beberapa tingkatan yaitu :
  • Infeksi ringan, terjadi jika penyerangan hanya ada di daerah hidung atau kelenjar mukosa dengan gejala nyeri saat menelan.
  • Infeksi sedang, menyerang di daerah lebih dalam daripada infeksi ringan. Gejalanya ditandai dengan pembengkakan laring, dan menyerang dibagian dinding belakang rongga mulut. 
  • Infeksi berat, terjadi saat penderita mengalami nafas tersumbat dan terjadi gejala komplikasi seperti radang otot jantung, kelemahan anggota gerak dan radang ginjal.
source: https://www.kompasiana.com/dsuryaatmaja

Gejala Penyakit Difteri

Seperti Virus Flu, bakteri difteri masuk melalui percikan udara ketika orang yang terinfesi bakteri bicara, batuk, atau bersin. Selain itu bakteri juga bisa ditularkan langsung melalui kontak langsung dengan penderita dibagian luka terbuka atau cairan dari pernafasan. Umumnya butuh waktu 2 sampai 5 hari semenjak bakteri masuk dalam tubuh sampai gejala muncul. Gejala-gejala penyakit difteri yang paling umum sebagai berikut :

  1. Sakit tenggorokan sehingga anak akan nyeri saat menelan makanan. 
  2. Terbentuknya lapisan tipis abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, Jika lapisan ini semakin banyak, penderita akan mengalami kesulitan bernafas karena lapisan ini menutupi jalan nafas. Lapisan abu-abu atau pseudomembran terbentuk dari tumpukan sel-sel mati yang rusak karena racun difteri. Selaput ini sangat lekat dengan jaringan di bawahnya. Sehingga apabila diangkat atau dikelupas maka akan berdarah
  3. Kelenjar bengkak (pembesaran kelenjar getah bening di leher anak). Penderita akan mengalami pembengkakan pada bagian leher (bull neck)
  4. Sulit bernafas, bernafas cepat dan suara  serak. Suara anak menjadi serak dan anak akan mengalami kesulitan bernafas karena racun pada bakteri yang terus menghancurkan sel-sel sehat juga merusak saraf pernafasan. Anak yang terkena penyakit difteri juga akan mengeluarkan suara seperti mengorok (stridor) akibat terjadinya penyempitan saluran nafas.
  5. Cairan pada hidung atau mulut. Muncul cairan pada hidung seperti lendir yang encer dan lama kelamaan akan mengental dengan warna kuning atau hijau dan dapat disertai dapat darah.
  6. Demam dan menggigil. Demam pada anak yang terkena difteri sangat khas, yaitu demam dengan suhu rendah (38 derajat) namun kadang disertai menggigil.
  7. Batuk yang keras. Batuk pada difteri menimbulkan rasa nyeri dan kadang disertai sekret yang bercampur darah.
  8. Perasaan tidak nyaman. Penderita difteri akan mengalami kebingungan, sakit kepala dan kehilangan konsentrasi. Selain itu, apabila sudah parah, dia akan mengalami gangguan penglihatan serta gangguan bicara.
  9. Tanda-tanda shock. Kulit menjadi pucat dan dingin, berkeringat dan jantung berdebar cepat
  10. Pada kasus khusus, difteri juga menyerang kulit sehingga menimbulkan ruam pada kulit dan borok (ulkus). Ulkus tersebut akan muncul selama beberapa bulan. 

Pada beberapa orang infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit difteri menyebabkan penyakit ringan atau tidak ada tanda dan gejala jelas sama sekali. Orang yang terinfeksi dan tidak sadar dengan gejala ini kemungkinan akan menjadi pembawa penyakit difteri tanpa menjadi sakit sendiri. 
 
source: http://www.parenting.com
baca juga

Jika kamu menemukan anggota keluarga yang mengalami tanda-tanda diatas, meski belum parah, segera bawa ke dokter agar mendapatkan penanganan sedini mungkin sebelum terjadi komplikasi atau menularkan infeksi ke orang di sekitarnya. 

Sebagai tindakan pencegahan bawalah anak kamu ke pusat kesehatan untuk mendapatkan vaksinasi. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan untuk imunisasi difteri lengkap sesuai usia sebagai berikut:

  • Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
  • Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
  • Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
  • Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.
source: https://www.dcnews.ro

Selain imunisasi, jagalah kebersihan dan kesehatan kamu dan keluarga. Biasakan mandi dan cuci tangan menggunakan sabun. Makanan sehat penuh gizi dan olah raga juga dapat membantu kamu dan keluarga meningkatkan imunitas tubuh sehingga tidak mudah terinfeksi bakteri.