Hola Mommies!

Mom-shaming adalah istilah bagi seorang/sekelompok ibu yang 'mempertanyakan' cara-cara ibu lainnya dalam membesarkan anak mereka. Biasanya dengan cara yang kurang baik sehingga menimbulkan rasa malu bahkan sedih bagi si 'korban'. Banyak sekali moms tipenya (tipeee???!!!). Yang mau saya bahas kali ini tentang BLW dan Spoon Feeding, karena saya mengalaminya. Urusan makan saja kok dijadikan perdebatan ya? Padahal intinya satu: ibu kasi makan anak. 


Image Source: twimg.com

Saya menerapkan BLW untuk anakku Raline sejak memasuki masa MPASI di usia 6 bulan. Lebih jelasnya mengenai BLW bisa dibaca DISINI. Untuk manfaat-manfaatnya yang sudah saya dan Raline rasakan bisa dibaca DISINI. Untuk perjalanan BLW Raline bisa dilihat di IG @raline_blw.

Nah sebelum dan saat menjalaninya, saya dapat beberapa kritikan dari beberapa ibu-ibu lainnya yang lumayan pedas pakai karet 2. Untungnya saya tidak mudah marah/ tersinggung/ sakit hati. Intinya sih gak tau malu?.

Kok tega banget anak disuru makan sendiri, dipaksa mandiri sebelum waktunya.
Sayang sekali si ibu ini kurang paham, karena bukan itu tujuan utama BLW. Bukan untuk melatih kemandirian makan sendiri. Bisa makan sendiri itu hanya salah 1 dari sekian banyak manfaat yang bisa didapat dari BLW.


Usia 11 bulan, lagi menikmati opor ayam dan brokoli kukus.

Ibu-ibu jaman sekarang, ikuti tren, metode konvensional dianggap jelek.
Sebenarnya, BLW ini sudah ada dari jaman purba, hanya baru ramai dibicarakan saja beberapa tahun belakangan ini. Sayapun memilih BLW bukan karena anti dengan menyuapi anak. Sejak usianya 2 tahun saya sering menyuapi Raline tergantung kondisi dan permintaannya. Tidak ada yang salah dengan menyuapi anak, yang salah itu memaksa anak makan. Menyuapi anak itu salah 1 kegiatan yang bisa meningkatkan attachment ibu dan anak loh. Saya pernah menangani kasus seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan kondisi Autisme dengan permasalahan attachment ibu dan anak. Dari serangkaian terapi yang saya berikan kepada ibu dan anak tersebut, saya selipkan 1 kegiatan suap-suapan makan yang harus mereka lakukan setidaknya 1 kali setiap hari. Kenapa saya selipkan kegiatan ini, karena menyuapi anak ini adalah salah 1 bentuk Cinta Tak Bersyarat.


Image Source: istock.com

Lalu kenapa saya tidak memilih Spoon Feeding saja kalau memang metode itu baik? Metodenya memang baik-baik saja, namun saya tidak yakin pada diri sendiri kalau saya bisa berkomitmen tidak memaksa anak. Saya yakin, jika saya memilih Spoon Feeding, saya akan fokus pada berapa banyak suapan anak sekali makan. "Yah masa baru 5 suap udahan", "dikit lagi ya 2 suap lagi deh". "Ayo dong dikiitt lagi nih, masa baru segini udahan". Saya yakin ini yang akan terjadi. Lalu anak nangis karena saya tidak paham keinginannya untuk stop makan. Anak nangis, saya sedih, muram, ayahnya nanti kena dampak juga hahaha. Melalui BLW saya dilatih untuk mempercayakan insting anak, dilatih untuk lebih santai saat mealtimes. Saya merasa cocok dan nyaman dengan metode ini.



Buat ibu-ibu yang lebih nyaman dengan metode Spoon Feeding, berbanggalah. Jalani saja yang paling nyaman dan sesuai dengan kondisi ibu dan anak. Jadi tidak perlu ada Mom-Shaming diantara kita ya. Ketjuupp 😘

Catch up later on my next post :)