Setiap kehidupan rumah tangga, sudah pasti ada kerikil-kerikil kecil yang menjadi penghalang. Pertengkaran baik kecil maupun besar sudah pasti akan berlangsung. Bagaimana tidak, ada 2 kepala yang tinggal bersama, satu atap setiap hari, pasti ada banyak perbedaan.

Menurut saya perbedaan itu adalah hal yang wajar. Suami istri haruslah saling mengisi perbedaan yang ada. Saya dan suami yang memang sangat berbeda cenderung saling melengkapi. 

Untuk berdebat mungkin sudah makanan sehari-hari, bahkan tidak jarang juga bertengkar. Tetapi, setelah adanya anak, kami selalu menahan paling tidak untuk tidak bertengkar di depan anak.

Pernah 1 kali kami bertengkar di depan arsen dan dia terlihat bingung. Ketika kami berteriak, arsen hanya bingung lalu ngomong “apa.. apa.. apa..” and it’s hurt buat saya. Anak sekecil itu seperti ingin mengetahui apa yang terjadi kepada orang tuanya.

Sampailah kami harus introspeksi diri agar bisa menahan sekesal dan semarah apapun terhadap pasangan sampai kami punya waktu berdua untuk berbicara. Kalau saya lebih memilih meluapkan kekesalan via text, setelah itu yaudah lupa. Karena typical wanita yaa, hanya butuh didengar hahhaha..

Pertengkaran orang tua sangat mempengaruhi psikologis anak. Yang saya takutkan, ketika anak sering melihat saya dan suami bertengkar, maka dia tidak akan memiliki respect lagi terhadap orang tuanya. Anak juga bisa mengikuti sikap orang tuanya, misalnya ketika bertengkar melihat orang tua berkata kasar dan berteriak-teriak, kemungkinan besar akan dicontoh oleh anak.

Saya tidak ingin anak melihat bahwa tidak adanya kasih sayang dan cinta didunia ini karena sering melihat orang tuanya bertengkar. 

Bertengkar di depan anak juga bisa menyebabkan anak menjadi trauma, pemarah, anak menjadi TERTUTUP dan tidak betah di rumah. 
sumber : http://sayangianak.com/bertengkar-di-depan-anak-akan-membuatnya-trauma-ini-10-alasan-mengapa-orangtua-tidak-boleh-bertengkar-di-depan-anak/

Ngeri banget kan kalau anak sudah tertutup dengan orang tuanya. Kita sebagai orang tua seharusnya menjadi garda terdepan untuk anak. Biarkan dia cerita apapun dengan kita. 

Anak dan orang tua merupakan “new comer” dibidang masing-masing, jadi masih harus sama-sama belajar. Setelah kejadian pertama kali bertengkar dengan suami didepan arsen. Saya langsung coba introspeksi diri dan ngga mau melakukannya lagi.

I dont want my babylove being depressed and regretted us as his parent