Banyak hal yang di rencanakan jauh sebelum kelahiran anak pertama hingga anak kedua. Mulai dari konsep pendidikan dan pengasuhan, hingga kegiatan sehari-hari saya rancang dalam sebuah planner sederhana.

Tapi nyatanya banyak banget hal diluar dugaan yang menguji idealisme saya sebagai seorang ibu. Berikut cerita idealisme vs realita saya selama jadi ibu.

Idealisme Soal ASI

Sejak di dalam kandungan saya merencanakan untuk memberikan full asi hingga 2 tahun kepada anak saya. Selain itu, saya punya idealisme sendiri untuk tidak menggunakan dot atau empeng sama sekali. Alasan adalah karena saya ingin anak saya bisa merasakan langsung emosi dan harapan-harapan saya saat proses menyusui.

Kenyataannya, di awal masa menyusui tantangan udah mulai bermunculan, mulai dari pelekatan yang susah saat menyusui karena ada tongue tie. Belum lagi kejadian diluar rencana seperti saya yang sempat di rawat inap. Tapi akhirnya Alhamdulillah saya bisa melakukan sesuai rencana, karena support keluarga dan keras kepala untuk mewujudkannya ๐Ÿ˜„. Semua ibu pasti punya cerita dan tantangan masing-masing dalam proses menyusui, jadi nikmati fase ini karena ga bakal terulang lagi.



Source: google.


Idealisme Soal MPASI

Menjelang MPASI dulu saya punya idealisme bahwa anak mesti duduk manis di high chair, dengan durasi makan hanya 30 menit. Kenyataannya sangat berkebalikan! ๐Ÿ˜‚ Sebenarnya karena kami sebagai kedua orangtuanya terbiasa makan di atas karpet, so children see children do. Saya hanya mencoba menerapkan metode sesuai karakter saya dan anak, dengan harapan kita sama-sama happy pada saat makan dan nutrisi tetap terjaga. Caranya? Siapkan selalu makanan padat gizi dan buat mereka lapar. Jangan kebahagiaan kita terkuras hanya karena soal berat badan ๐Ÿ˜„

Idealisme Menjadi Ibu Rumah Tangga

Pertama kali mengasuh anak dari awal kelahiran secara full time handle sendiri, membuat saya berpikir bahwa ga semua ibu siap dan ikhlas menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Kenyataannya, mau jadi stay at home mom atau working mom sama-sama ngerasain CAPEK ๐Ÿ˜‚ Jadi hanya perempuan lah yang paling bisa mengerti dan mendukung penuh sesama perempuan, bukan malah saling merendahkan karena pilihan yang berbeda.



Source: google.

Sejak menjadi ibu pun membuat saya menyadari, bahwa kemampuan fleksibilitas ternyata perlu ketika memiliki anak. Kemampuan menyesuaikan diri dengan kenyataan dan tuntutan yang dihadapi, menerima kemampuan dan kekurangan diri sebagai seorang ibu. 


With love,


โ€‹โ€‹โ€‹โ€‹โ€‹Elvira Chaerunnisa ๐Ÿ’ž