Apakah Hikikomori itu?

Menurut survey yang dilakukan pemerintah Jepang pada tahun 2016, ada lebih dari setengah juta penduduk Jepang menghilang. Jumlah ini meningkat 16.9 persen dibandingkan tahun 2009. Mereka yang menghilang ini bukan karena menjadi korban kriminalitas, melainkan memilih untuk menarik diri dari kehidupan mereka. Mereka tidak bekerja, tidak bermasyarakat bahkan beberapa sengaja mengganti identitasnya agar tidak dapat ditemukan keluarganya. 

Secara harafiah hikikomori berarti menarik atau mengurung diri. Berdasarkan pengertian dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang, hikikomori adalah orang yang menolak keluar dari rumah dan mengisolasi diri mereka secara terus-menerus di dalam rumah. Mereka tidak menjadi bagian dari kehidupan sosial manapun selama 6 bulan atau lebih.

Apakah Hikikomori itu?
source: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSpenNuH3AlaimNZNgKI42ceEYaaCx0SW6qwkd-hC6vPdpOR5UHdfebt2vC

Sebenarnya, orang yang terkena hikikomori tidak lantas sepenuhnya menarik diri. Mereka bisa menjadi pribadi yang berbeda apabila berhubungan dengan orang lain di dunia maya. Hal ini wajar mengingat alasan utama mereka menarik diri adalah rasa ketidakpercayaan diri. Interaksi tanpa tatap muka menjadi pilihan paling mungkin bagi mereka untuk hidup "normal". Selain itu, mereka juga lebih memilih untuk membangun dunia mereka sendiri. Mereka juga tidak berarti ingin hidup tidak normal, tapi mereka menyatakan dirinya tidak mampu menjalankan hidup dengan normal setelah semua kegagalan atau trauma yang terjadi dalam hidupnya.

Hikikomori sendiri masih belum bisa disebut penyakit mental. Hal ini karena tidak tercantum dalam manual mental disorder dari Asosiasi Psikiater Amerika yang menjadi acuan para psikiater dalam mendeteksi gangguan jiwa. Berdasarkan gejalanya, hikikomori lebih tepat disebut sebagai gangguan sosial yang dipicu gangguan mental karena kecemasan, traumatik, pemasungan, kebiasaan perilaku bahkan tren.

baca juga

Penyebab Hikikomori

Seperti yang dijelaskan di atas, sebenarnya tidak ada yang bisa memastikan penyebab hikimomori. Tapi, salah satu pemicunya adalah depresi dan kecemasan. Meski ada pengaruh budaya dan kebiasaan masyarakat Jepang. Seperti diketahui, orang Jepang memiliki kriteria kesuksesan yang teramat ketat. Hikikomori di awali dari keengganan para remaja bersekolah, atau orang dewasa pergi bekerja.

Pemicunya bisa berbagai macam mulai dari bullying, nilai yang jelak, putus cinta, pekerjaan yang tidak menjanjikan, atau bahkan pemecatan. Semakin lama, mereka semakin tidak percaya diri menghadapi lingkungan. Apalagi jika orang tua, keluarga atau masyarakat memiliki ekspektasi yang sangat tinggi terhadap diri mereka. Lebih baik menghilang dari pada harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak berdasi, tidak kuliah ditempat yang bisa dibanggakan dan lain sebagainya. 

Penyebab Hikikomori
source: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTKMcH9AGoTEQRxF30QeczJrHIMjz4rnWH-4IRjqTp1zirXXT36DKocEH2wlQ

Tidak mengherankan apabila sebagian besar remaja yang terkena hikikomori berasal dari kalangan menengah atas dengan tingkat pendidikan orang tua tinggi. Kebanyakan mereka juga laki-laki dengan tuntutan keluarga dan masyarakat yang lebih tinggi dari pada perempuan.

Hikikomori menjadi hal tabu bagi masyarakat Jepang. Hal ini disebabkan perasaan para orang tua yang putus asa menghadapi masa depan anak-anak mereka. Mereka berharap anak-anak mereka memiliki pekerjaan dan melanjutkan hidup layaknya manusia pada umumnya.

Bagaimana Hikikomori di Indonesia?

Memang tidak banyak ditemukan data-data akurat tentang Hikikomori di Indonesia. Tapi dirangkum dari beberapa sumber, ada sedikit perbedaan yang melatarbelakangi hikikomori di Indonesia dan di Jepang. Di Indonesia, beberapa anak yang diketahui memilih hikikomori berasal dari kalangan menengah bawah dengan ekonomi lemah. Mereka memilih untuk tidak melakukan apapun dan menarik diri dari lingkungan sosial. Adapula yang menganggap hikikomori adalah sesuatu yang keren untuk dilakukan. Bagi mereka yang memilih hikikomori sebagai jalan hidup, ada baiknya untuk memompa semangat baru untuk kehidupan yang baru. 

Bagaimana Hikikomori di Indonesia?

Bagi orang tua, pendidikan anak memang sangat penting tapi bukanlah segalanya. Masih banyak hal yang bisa anak lakukan untuk menjadi orang yang berhasil. Respon kita terhadap anak sangatlah mempengaruhi apa yang mereka lakukan, apakah mereka menjalankan hidup dengan semangat atau tidak.