1. Ketahui Material Bahan Popok 

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, popok yang ideal, entah apapun bahannya, harus dapat menjaga kestabilan pH, dan keringnya kulit serta mencegah terjadinya ruam. Untuk menopang fungsi tersebut, popok umumnya disusun menjadi 3 lapisan yaitu lapisan dalam, lapisan inti yang mengandung bahan absorben, dan lapisan luar. Pada popok sekali pakai, lapisan dalam umumnya berpori untuk mengurangi gesekan kulit dan ditambah dengan formula khusus, seperti zinc oxide, aloe vera dan petroleum untuk menjaga agar kulit tetap kering. 

source: https://shopify.com

Bahan absorben lapisan inti yang paling sering digunakan adalah selulosa dan absorbent gelling material (AGM) atau superabsorbent, yang terbuat dari sodium poliakrilat. AGM memiliki keunggulan dapat memisahkan cairan urin dari feses dengan cepat, menahan cairan di matriksnya, dan menjaga kestabilan pH. Lapisan luar popok sekali pakai umumnya bersifat kedap air, tetapi dapat juga terbuat dari bahan yang berpori.
 

2. Pilih Bahan Katun 

Jika Moms menggunakan popok bayi dari kain, ada baiknya memilih bahan katun pada popok kain untuk menjaga ventilasi yang baik dengan kulit, dan perlu disadari bahwa pemakaian popok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya infeksi saluran kemih. 
 

source: https://budayahidupsehat.files.wordpress.com
baca juga

3. Pilih Ukuran yang Pas

Untuk popok bayi sekali pakai, sebaiknya moms membeli dengan ukuran yang pas tidak kebesaran dan juga tidak kekecilan. Hal ini penting karena popok yang kebesaran atau kekecilan akan membuat bayi tidak nyaman. Selain itu jika popok kebesaran, khawatir jika pup Si kecil tercecer keluar. 
 

source: https://hellosehat.com

Pemilihan popok bayi yang tepat sangat penting untuk Moms perhatikan karena kulit bayi masih sangat sensitif dan mudah terkena iritasi misalnya seperti ruam popok. Pemakaian popok yang ketat dan bahan yang tidak tepat dapat meningkatkan gesekan terhadap kulit dan menimbulkan ruam.

 

source: https://huffpost.com

Selain itu, urin dan feses dapat menyebabkan kulit basah dan mempermudah masuknya bahan iritan yang terkandung di dalamnya. pH urin yang bersifat basa turut memperburuk iritasi yang timbul. Hal ini juga mempermudah infeksi jamur Candida albicans berkembang dan menimbulkan ruam yang lebih berat.