Post Power Syndrome
 

Moms, Yuk Ketahui Post Power Syndrome, Apa Itu?
source: https://karier.kompas.id/

Sebagai sebuah syndrome, post power syndrome bukanlah merupakan gangguan atau masalah kejiwaan melainkan hanya gejala yang terlihat dari perubahan pola tingkah laku dan emosi. Secara umum, post power syndrome merupakan gejala-gejala munculnya rasa kaget, bingung, kecewa, kesepian, cemas, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa, kekosongan, dan kehilangan akibat hilangnya peran, jabatan, dan kekuasaan. Biasanya hal ini tidak disadari oleh sang penderita.
 

Ciri-Ciri Post Power Syndrome
 

Moms, Yuk Ketahui Post Power Syndrome, Apa Itu?
source: http://www.radarbogor.id/

Orang-orang sukses yang aktif dengan beragam kegiatan dan peran pentingnya memiliki risiko mengalami post power syndrome saat ia harus keluar baik itu karena resign maupun pensiun. Biasanya, kamu dapat mengamati timbulnya beberapa gejala seperti gejala fisik, emosi, dan perilaku.

Gejala Fisik
Orang dengan post power syndrom mengalami perubahan fisik yang cukup signifikan, mulai dari terlihat lebih kuyu, tua, lemah, dan mudah sakit.

Gejala Emosi
Menjadi lebih mudah tersinggung, sedih, murung, dan relatif lebih menarik diri dari pergaulan. Selain itu, penderita post power syndrome juga akan cepat marah pada hal-hal kecil, khususnya jika tersaingi atau pendapatnya dibantah.

Gejala Perilaku
Terakhir, tingkah lakunya juga akan berubah. Seseorang dengan post power syndrome relatif menjadi lebih pendiam, pemalu, senang bercerita tentang masa lalunya, dan mudah marah dan tersaingi dengan cerita kesuksesan orang lain.

baca juga

Cara Menghadapi Post Power Syndrome
 

Moms, Yuk Ketahui Post Power Syndrome, Apa Itu?
source: https://www.kompas.com/

Gejala ini memang banyak muncul pada orang tua yang baru saja pensiun dari pekerjaannya. Tetapi, tidak jarang pula para wanita yang resign dari pekerjaan setelah menikah dan memiliki anak juga mengalaminya. Untuk itu, kamu perlu mengetahui beberapa cara untuk menghadapi orang dengan post power syndrom. Hal penting yang harus kamu perhatikan adalah tidak menasihati atau melawan orang tersebut.

Sebaliknya, berlakulah sopan dan baik padanya mengingat emosinya yang memang sangat sensitif. Kamu dapat mencoba mengarahkan dengan memberikan buku-buku atau tayangan motivasi serta keagamaan yang menyadarkan bahwa jabatan bukanlah segalanya. Tunjukan padanya bahwa ia masih sangat berarti dan berperan besar meskipun sudah tidak memangku jabatan apapun.