Pertengkaran orang tua juga seringkali dianggap hal yang wajar terjadi dalam sebuah rumah tangga. Sebagian menganggap melakukan hal tersebut di hadapan anak adalah salah satu keterbukaan. Namun Moms perlu mengetahui dampak dari petengkaran orang tua di depan anak. Saat bertengkar dengan pasangannya, anak akan menjadi korban pelampiasan emosi. Hal tersebutlah yang akan mengganggu psikologi anak dan mempengaruhi perkembangan kondisi mental anak.
source: https://www.momjunction.com/
Sebagian anak yang menyaksikan pertengkaran orang tuanya memberikan reaksi seperti erdiam diri atau menarik diri, namun tak sedikit diantaranya akan menjadi sulit untuk ditangani. Anak mungkin akan bertindak lebih agresif yang kemudian berulah untuk mencari dan mengalihkan pertengkaran orang tuanya. Hal yang dikhawatirkan ketika ia berulah dan berhasil, maka ia akan terus melakukan hal itu.

Moms juga perlu mengetahui bukan hanya seberapa sering orang tua melakukan pertengkaran, namun seberapa jauh efek yang dialami anak ketika menghadapi pertengkaran orang tuanya. Ketika konflik tetap terbuka, anak akan merespon dengan depresi, kecemasan atau masalah perilaku. Setidaknya anak-anak akan sensitif terhadap konflik orang tua pada usia 1 tahun. Apa yang perlu dilakukan orang tua?

Membuat Anak Menemukan Kekuatannya

source: https://wisegeek.com/
Moms, bukan berarti membiarkan semua keinginannya melainkan memeberikan izin untuk bersikap seperti ‘ngambek’ atau menarik diri setelah melihat pertengkaran orang tuanya. Biasanya mereka akan bermanja-manja kepada orang tuanya atau mengekori orang tuanya. Tugas orang tua adalah menemukan jalan tengah untuk tidak membiarkan anak terlalu lama menarik diri, Moms harus menemukan kekuatan dirinya. Beberapa anak akan pulih dari pengalaman yang menyedihkan dalam beberapa hari. Namun, Moms perlu memperhatikan kapasitas anak merespon dorongan orang tuanya ketika memperkuat dirinya sendiri.
baca juga

Bicarakan Perihal Pertengkaran Orang Tuanya

 

source: https://huffingtonpost.com/
Suasana setelah bertengkar tentu akan berbeda, terasa janggal dan canggung. Tidak hanya dengan pasangan saja, tetapi berdiskusilah dengan anak mengenai pertengkarannya. Hal tersebut mencegah imajinasi anak yang dikhawatirkan menjadi liar dan tidak terkendali. Membuatnya khawatir akan menguras waktu dan tenaganya.

Beritahukan kepada anak perihal orang tuanya mengalami argumen yang membuat satu sama lainnya tegang, mereka memerlukan anaknya untuk membahas masalahnya. Jelaskan bahwa kedua orang tuanya telah saling memaafkan. Cobalah untuk berempati dengannya, beritahukan kepedulian terhadap anaknya tentang argumen-argumen yang membuatnya takut, kemudian tanyakanlah apa yang ingin dikatakan atau yang dirasa oleh anak.

Moms juga perlu merencanakan hal tersebut dengan pasangannya. Berdiskusi dengan pasangan untuk datang kepada anak dengan resolusi yang konstruktif. Katakan kepada anak bahwa ia tidak perlu khawatir tentang permasalahan orang tuanya. Katakan bahwa oarng yang saling mencintai akan bersama-sama mencari jalan keluar dan memperbaiki masalahnya. Yakinkan kepada anak bahwa pernikahan orang tuanya baik-baik saja.