source: http://bundanet.com


 

ASI adalah makanan utama bayi yang sangat dianjurkan untuk diberikan hingga bayi memasuki usia 2 tahun. Namun berbagai kondisi yang telah disebutkan di atas tidak memungkinkan bayi untuk mendapatkan ASI yang cukup sehingga bayi membutuhkan donor ASI. Selain kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk menyusui sendiri bayinya, ada juga indikasi dari bayi yang mengharuskan si kecil menerima donasi ASI, salah satunya adalah kelainan metabolisme bawaan berupa galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel (aimi-asi.org).

Ibu yang menjadi pendonor ASI adalah ibu menyusui dengan ASI yang berlebih sehingga dapat memberikannya kepada bayi lain yang membutuhkan ASI. Untuk dapat dikatakan aman, pendonor ASI harus memenuhi syarat-sarat sebagai berikut:
  • Telah dinyatakan bebas dari penyakit yang dapat ditularkan melalui ASI seperti HIV, hepatitis, atau virus lain (dapat dicek rutin 3 bulan sekali selama progrram donasi ASI).
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan yang membahayakan bayi.
  • Memiliki produksi ASI yang berlebih dan memiliki bayi yang berusia kurang dari 6 bulan.

Setelah memenuhi persyaratan diatas, barulah pendonor bisa mendonasikan ASI yang perlu diperah dan disimpan secara higienis. Saat memerah ASI tangan pendonor harus bersih, kemudian simpan ASI di tempat yang tertutup agar terhindar dari bakteri. Wadah yang dapat digunakan seperti botol kaca atau plastik dengan bahan polycarbonate atau polypropylene.
 
baca juga
source: https://authoritynutrition.com
Jadi, jika ada pertanyaan amankah donor ASI untuk bayi? Jawabannya adalah iya, tapi dengan persyaratan yang telah dibahas di atas sehingga ASI yang didonasikan aman untuk bayi yang membutuhkan.

Semoga bermanfaat!