Tanda-Tanda Hyperparenting

Berikut beberapa ciri orang tua yang hyperparenting: 

1. Tidak Memberikan Kebebasan kepada Anak untuk Memilih Sendiri
Tahu nggak Moms, salah satu tanda bahwa kemampuan anak semakin berkembang adalah di dalam dirinya muncul keinginan untuk memilih apa yang ingin dilakukan, dipakai ataupun dimakannya. Bisa mengekspresikan dirinya sendiri melalui pilihan yang dibuatnya merupakan sebuah hal luar biasa bagi anak. Sayangnya, banyak orangtua yang bertindak otoriter dengan memutuskan pilihannya sendiri untuk anak dan menganggap pilihan tersebut adalah hal benar dan terbaik untuk masa depan. Contoh kecilnya bisa dilihat sehari-hari, misalnya ibu tidak memberikan pilihan baju apa yang ingin dipakai anak, pilihan mainan yang disukai anak dan sebagainya. 
 
Tanda-Tanda Hyperparenting
source: https://www.sheknows.com


 

2. Orangtua Terlalu Cemas terhadap Masa Depan Anak
Merasa cemas terhadap masa depan anak memang merupakan hal wajar yang dialami setiap orang tua. Namun, bukan berarti orang tua harus selalu mendikte anak mengenai hal-hal yang perlu dilakukannya. Orangtua juga perlu mendengarkan apa yang ingin dilakukan anak dan berdiskusi bersama. 

3. Membandingan Anak dengan Anak Lain
Saking merasa insecure, orangtua kadang membandingkan prestasi anaknya dengan anak lainnya. Padahal setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Alangkah baiknya jika orangtua memahamil bahwa tak ada anak yang suka dibanding-bandingkan karena bisa merusak kepercayaan dirinya. 

 
Tanda-Tanda Hyperparenting
source: https://integratedlistening.com

4. Prestasi Akademis Di Atas Segalanya
Memiliki anak cerdas memang kebanggaan tersendiri. Banyak orangtua yang hanya menilai anak dari kecerdasan dan nilai prestasi akademiknya sehingga dituntut untuk terus belajar. Karena hanya fokus pada nilai akademik, orangtua menutup mata pada kemampuan anak yang lain misalnya kemampuan seni dan kreativitas. 
 
baca juga

Akibat Hyperparenting

1. Kemampuan Sosial Rendah
Anak-anak yang diasuh oleh orang tua hyperparenting lebih mungkin memiliki kepercayaan diri yang rendah, menjadi kurang mandiri, mudah menyerah, dan merasa cemas dan takut dengan dunia luar mereka atau dengan kata lain merasa canggung saat bersosialisasi dengan orang lain. 

2. Kurang Beraktivitas Fisik
Karena terlalu protektif, orangtua hyperparenting jarang mengizinkan anak-anaknya untuk bermain di luar rumah. Alhasil, ditemukan bahwa anak-anak memiliki aktivitas fisik yang lebih rendah. 
 
Akibat Hyperparenting
source: https://slaterzurz.com

3. Mudah Depresi
Salah satu hal yang berbahaya yang kadang tidak disadari oleh orangtua hyperparenting adalah pola asuh tersebut membuat anak terlalu patuh sehingga sulit menggali potensi mereka sendiri. Efeknya, anak menjadi tertekan dan mengarah kepada depresi karena merasa tidak nyaman dengan keluarga sendiri. 

4. Sasaran Bullying 
Anak hyperparenting mungkin terlalu lemah, patuh dan sulit berkomunikasi dengan teman-temannya di sekolah, sehingga rentan menjadi sasaran empuk bullying