Apa Sih Kanker Darah?


Kanker darah atau juga dikenal sebagai kanker hematologi adalah kanker yang memengaruhi produksi dan fungsi sel darah. Sebagian besar kanker darah dimulai dari sumsum tulang di mana darah diproduksi. Sel-sel kanker mencegah sel darah normal untuk menjalankan fungsi mereka.

Pada kondisi normal, sel-sel darah putih akan berkembang secara teratur di saat tubuh membutuhkannya untuk memberantas infeksi yang muncul. Namun berbeda dengan pengidap kanker darah karena sumsum tulang akan memproduksi sel-sel darah putih yang abnormal.

Kelebihan jumlah sel darah putih yang abnormal tersebut mengakibatkan penumpukan dalam sumsum tulang sehingga sel-sel darah yang sehat akan berkurang. Selain menumpuk, sel abnormal tersebut juga dapat menyebar ke organ lain, seperti hati, limfa, paru-paru, ginjal, bahkan hingga ke otak dan tulang belakang.

Apa Sih Kanker Darah?
source: http://www.harnas.co/


 

Kanker Darah Putih


Kanker sel darah putih atau biasa disebut leukimia adalah jenis yang paling umum dari kanker darah. Ketika seseorang memiliki leukemia, sumsum tulangnya tidak mampu memproduksi sel-sel darah merah yang cukup dan trombosit untuk memasok kebutuhan tubuh.

Berdasarkan gejalanya, leukemia memiliki banyak gejala yang dapat membantu mendeteksi penyakit ini ini, seperti:

1. Darah sukar membeku, sehingga penderita sering mengalami pendarahan yang sulit berhenti, seperti mimisan.
2. Sering berdarah dan memar, akibat rendahnya jumlah trombosit dan mengakibatkan keterlambatan pembekuan darah. Tak jarang, muncul bintik-bintik merah atau bahkan keunguan yang disebut petechiae akibat adanya perdarahan minor di dalam kulit.
3. Rentan terkena infeksi dan sering mengalami demam.
4. Nyeri sendi dan tulang bagian belakang.
5. Anemia dengan disertai sesak napas, warna kulit pucat, lemah, letih, dan lesu. 

Kanker Darah Putih
source: https://www.klikdokter.com/


 

baca juga

Kanker Darah Stadium 2


Dalam mendiagnosis kanker, biasanya ada empat tingkatan yang digunakan dokter untuk mendeskripsikan tingkat keparahan dan penyebaran sel kanker. Pada tingkatan kedua atau stadisum 2, artinya sel-sel kanker telah berkembang, namun belum menyebar ke seluruh tubuh.
 
Leukemia pada stadium 2, biasanya ditandai dengan adanya peningkatan jumlah sel darah putih tidak normal dan sekaligus pembengkakan di beberapa area (seperti hati, limpa, atau kelenjar getah bening). Perlu diketahui bahwa usia harapan hidup akan berbeda-beda tergantung dari kondisi kesehatan penderita, kondisi mental, dan sekaligus dukungan serta pola hidup penderita.

Kanker Darah Stadium 2
source: https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/pilihan-pengobatan-kanker-darah/


 

Kanker Darah Stadium 4


Pada kanker darah stadium empat, penderita leukimia akan mengalami kekurangan keping darah. Paru-paru juga akan mengalami kerusakan parah akibat penyakit yang satu ini. Selain itu, pada tahap ini beberapa organ tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik atau sama sekali tidak berfungsi sehingga penderita seakan tidak memiliki tenaga.

Pada stadium 4 ini atau biasanya disebut stadium akhir, kerusakan yang terjadi pada organ vital penderita sudah mencapai taraf yang paling parah dengan harapan hidup rendah.

Kanker Darah Stadium 4
source: https://2017.beritacenter.com/


 

baca juga

Kanker Darah pada Anak


Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi seorang anak terpapar kanker sel darah putih atau leukimia antara lain:

1. Adanya penyakit keturunan seperti Down syndrome.
2. Adanya penyakit keturunan gangguan pada imun tubuh.
3. Memiliki seorang saudara kandung atau kembaran dengan leukemia.
4. Riwayat paparan radiasi, kemoterapi, benzena dengan takaran yang tinggi.
5. Riwayat pada sistem imun seperti transplantasi organ.

Kanker Darah pada Anak

Umumnya, pengobatan medis yang diberikan pada anak yang menderita leukemia adalah kemoterapi. Selain itu, penderita akan menerima obat-obatan anti-kanker dan terapi radiasi untuk membunuh sel kanker dengan radiasi berkekuatan tinggi. Transplantasi sumsum tulang belakang baru dilakukan bila kemoterapi atau terapi radiasi ternyata kurang memberi hasil yang efektif.