1. Jadilah pelatih emosi

Semua orang memiliki emosi negatif dan dorongan egois. Tapi untuk bersahabat, kita perlu mengendalikan respons ini. Anak-anak mengembangkan kontrol diri emosional yang lebih baik ketika orang tua mereka berbicara kepada mereka tentang perasaan mereka dengan cara yang simpatik dan memecahkan masalah.

1. Jadilah pelatih emosi
source: http://edupost.id/parenting/bagaimana-melatih-anak-mengelola-emosi-simak-tips-ini/

2. Jangan bersikap otoriter pada anak

Anak-anak cenderung ditolak oleh teman sebayanya ketika orangtua mereka mempraktekkan pola asuh otoriter. Otoriter sebuah pendekatan yang ditandai dengan rendahnya tingkat kehangatan dan tingkat kontrol yang tinggi. Anak-anak yang mengalami hukuman berat cenderung menunjukkan lebih banyak permusuhan.

2. Jangan bersikap otoriter pada anak
source: http://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2884177/ini-akibatnya-bila-sering-menghukum-anak
baca juga

3. Ajarkan anak bagaimana berkomunikasi dengan cara yang sopan

Pelajaran paling awal yang dipelajari anak-anak tentang komunikasi terjadi di rumah. Orang tua yang menunjukkan tingkat timbal balik yang tinggi dalam komunikasi mereka dengan anak-anak memiliki anak-anak yang mengembangkan lebih banyak kompetensi sosial dan kemampuan negosiasi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Kamu bisa melakukan lebih dari sekadar melibatkannya dalam dialog keluarga, dan menjadi pendengar yang baik untuknya saat ia ingin menceritakan pengalamannya.

3. Ajarkan anak bagaimana berkomunikasi dengan cara yang sopan
source: http://psikonseling.blogspot.co.id/2012/04/cara-komunikasi-efektif-dengan-anak.html

4. Tingkatkan rasa empati dan kepedulian simpatik terhadap orang lain

Meskipun bayi menunjukkan tanda empati, tapi salah jika membayangkan bahwa anak akan mengembangkan empati penuh saat kamu meninggalkannya. Berikut adalah beberapa tip untuk mendorong empati, pengambilan perspektif, dan simpati pada anak-anak.

4. Tingkatkan rasa empati dan kepedulian simpatik terhadap orang lain
source: http://www.wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&id=17070183
baca juga

5. Bantu anak-anak membaca ekspresi wajah

Mungkin kamu berfikir bahwa menafsirkan ekspresi wajah tidak masuk akal, tapi ketahuilah bahwa ilmu ini sangat bermanfaat bagi anak kamu kelak. Saat besar anak bisa membedakan ekspresi orang dengan baik kapan ia marah, sedih, bahagia dan lainnya. Saat melatih anak, boanding orangtua dan anak akan meningkat sehingga akan lebih mudah bersahabat dengan anak.

5. Bantu anak-anak membaca ekspresi wajah
source: http://www.sigambar.com/2015/03/kumpulan-foto-ekspresi-wajah-bayi-bayi.html

6. Melatih anak menghadapi masalah sosial

Jika kamu melihat beberapa anak bermain dan kamu ingin bergabung dengan mereka, bagaimana kamu melakukannya? Ibu yang memberikan saran terbaik adalah ibu dengan anak-anak yang paling ahli sosial. Apa yang mesti kamu katakan?
- Sebelum melakukan pendekatan, perhatikan apa yang sedang dilakukan anak-anak lain. Apa yang bisa kamu lakukan agar sesuai?
- Cobalah bergabung dengan permainan dengan melakukan sesuatu yang relevan. Misalnya, jika anak bermain game restoran, lihat apakah kamu bisa menjadi pelanggan baru.
- Jangan mengganggu, mengkritik atau mencoba mengubah permainan.
- Jika anak-anak lain tidak ingin kamu bergabung, jangan mencoba memaksanya.

6. Melatih anak menghadapi masalah sosial
source: http://persisalamin.com/artikel/membangun-kemampuan-bersosialisasi-pada-anak/

7. Pantau kehidupan sosial anak-anak

Anak-anak lebih baik saat orang tua mereka memantau aktivitas sosial mereka. Ini tidak berarti melayang-layang di atas anak-anak melainkan mengawasi dimana anak-anak bermain dan membantu anak kamu memilih temannya.

7. Pantau kehidupan sosial anak-anak
source: http://www.nosotras.com/salud/es-importante-que-padres-e-hijos-compartan-tiempo-juntos-4697