Sebetulnya seperti apa sih hukum soal pernikahan dan juga pernikahan beda agama dilihat dari ketetapan undang-undang, norma maupun agama itu sendiri? Yuk, Moms simak ulasan berikut!

  • Hukum Pernikahan Beda Agama

Banyak orang selama ini mengira menikah beda agama adalah hal terlarang di Indonesia. Padahal dalam UU Perkawinan No 1 tahun 1974, sama sekali tidak disebutkan larangan terkait pernikahan beda agama. Hanya diatur soal bagaimana pernikahan harus dilaksanakan sesuai dengan hukum agama masing-masing.

Hal tersebut juga didukung pernyataan UU Hak Asasi Manusia no 39 tahun 1999, yang menyebutkan 60 hak sipil warga negara yang tidak boleh diintervensi atau dikurangi siapapun. Beberapa di antaranya terkait soal memilih pasangan, menikah, berkeluarga, dan memiliki keturunan.

Secara hukum, menikah beda agama di Indonesia adalah sesuatu yang legal. Namun kadang prakteknya di lapangan cukup sulit karena tidak semua Dinas Kependudukan bersedia mencatat pernikahan dengan kondisi seperti ini. Hal ini disebabkan karena adanya bias ideologi serta ketidaktahuan akan hukum yang berlaku.

Nikah Beda Agama, Gimana Sih Hukumnya di Indonesia?
source: https://blog.serenataflowers.com
  • Hukum Pernikahan Dini

Lantas usia berapa seseorang diperbolehkan menikah menurut standar negara? Pasal 7 ayat 1 UU Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan diizinkan jika pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita mencapai umur 16 tahun. Aturan ini ditetapkan untuk menjaga kesehatan suami-istri dan keturunan.

Namun tidak menutup kemungkinan bagi seorang pria atau wanita untuk menikah sebelum usia tersebut dengan syarat kedua orang tua laki-laki maupun kedua orang tua perempuan harus meminta dispensasi ke Pengadilan Agama atau Pengadilan Negeri yang telah disesuaikan dengan domisili sang pemohon.


 
Nikah Beda Agama, Gimana Sih Hukumnya di Indonesia?
source: https://theascent.pub
  • Hukum Pernikahan di Indonesia

Kehidupan pernikahan tak selalu berjalan mulus bak kisah di negeri dongeng. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia juga menyiapkan undang-undang khusus perkawinan. Segala aturan yang mengatur penyelesaian atas masalah dalam perkawinan tercantum jelas di sana.

Tak hanya mengatur dasar, syarat, pencegahan, pembatalan, dan perjanjian perkawinan, undang-undang ini juga mengatur secara detail mengenai hak dan kewajiban suami istri. Selain itu, dibahas juga perihal status harta benda dalam perkawinan, putusnya perkawinan, kedudukan anak, perwalian, hak dan kewajiban antara orangtua dan anak, serta ketentuan lainnya.


 
baca juga
Nikah Beda Agama, Gimana Sih Hukumnya di Indonesia?
source: https://www.lovinginvitations.ie
  • Hukum Pernikahan Siri

Pernikahan Siri dikenal juga dengan istilah pernikahan agama. Statusnya dianggap sah secara agama dan adat, namun tidak diakui secara resmi oleh negara. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam UU no. 1 Tahun 1974, menyebutkan bahwa perkawinan yang tidak dicatatkan di Catatan Sipil atau KUA dinyatakan tidak sah dan tidak diakui negara.

Pernikahan Siri atau Pernikahan di bawah tangan akan dianggap tak pernah ada. Akibatnya, istri nggak memiliki hak untuk mendapatkan harta gono-gini atau nafkah jika terjadi perceraian. Anak juga hanya dianggap memiliki hubungan perdata dengan sang ibu dan keluarga ibunya.


 
Nikah Beda Agama, Gimana Sih Hukumnya di Indonesia?
source: https://lunchactually.com
  • Hukum Pernikahan dalam Agama Islam

Islam memiliki aturan jelas terkait pernikahan, ada lima prinsip pernikahan yang disesuaikan dengan situasi orang bersangkutan. Pertama, menikah hukumnya wajib bagi orang yang secara jasmani sudah layak, rohaninya sudah dewasa dan matang, serta memiliki biaya untuk menikah dan menghidupi keluarga.

Namun bagi mereka yang belum memiliki kemampuan, hukumnya menjadi sunnah. Justru disarankan untuk berpuasa dan menjaga hawa nafsu agar jangan sampai terjerumus dalam perzinahan. Sementara untuk orang yang tidak punya faktor penghalang, sifatnya mubah (boleh). 

Untuk umat muslim yang sudah siap secara jasmani dan rohani namun tidak memiliki biaya maupun bekal berumah tangga, menikah dianggap makruh. Dianjurkan bagi keduanya untuk menunda pernikahan terlebih dahulu.

Terakhir, menikah bagi seorang muslim hukumnya haram jika dilakukan dengan maksud menyakiti dan mempermainkan sang wanita. Berdosa di hadapan Allah karena dilakukan dengan tujuan yang buruk.