Kisah bullying Audrey kini tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial, bahkan tagar #JusticeForAudrey sudah menjadi trending nomor di twitter. Audrey adalah gadis berusia 14 tahun di salah satu SMP Pontianak yang dikeroyok oleh 12 anak SMA hingga organ vitalnya hampir rusak.

Di negara-negara maju kasus bullying sudah banyak terjadi sejak dulu. Seperti di Amerika, tercatat pada tahun 2009 terjadi 20,8% bullying fisik, 53,6% verbal, 51,4% sosial, dan 13,6% cyber bullying. Sementara di Indonesia sendiri pada tahun 2011-2014 berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak kasus bullying berada pada peringkat teratas, dan banyak terjadi di lingkungan pendidikan.  

Bullying sendiri adalah suatu tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau mengontrol orang lain dengan cara yang agresif, baik berupa verbal atau kekerasan. Tindakan ini sengaja dilakukan atas dasar rasa tidak suka terhadap seseorang atau suatu kelompok.

Berakibat Fatal, Moms Wajib Tahu Dampak Bullying Pada Anak!
source: https://www.verywellfamily.com

Bullying Verbal

Bullying terdiri dari beberapa jenis, yang paling umum terjadi di lingkungan pendidikan adalah bullying verbal. Bullying verbal adalah salah satu bullying yang paling sulit untuk dideteksi. Ini karena bentuknya berupa verbal, alias omongan dimana jika tidak terekam pembicaraannya maka bisa hilang begitu saja kecuali ada saksi yang juga ikut mendengarkan.

Selain susah dideteksi bullying verbal juga susah dikenali karena umumnya sudah jadi makanan sehari-hari di lingkungan. Yang paling sepele deh contohnya "Dih, kamu makan terus, sih. Ntar gendut kaya gajah loh.” atau "Eh cebol. Ambilin buku aku dong di meja“.

Ini memang terdengar seperti kalimat candaan, tapi sesungguhnya sudah masuk dalam kategori bullying verbal loh. Atas nama bercanda, bagi korban bully yang merasa kalimat tersebut berlebihan dituduh “terlalu sensitif dan baper nih kamu”. Padahal kadar sensitif setiap anak berbeda-beda.

Apalagi korban bullying verbal ini juga sulit untuk dideteksi karena biasanya mereka merasa malu atau enggan untuk bercerita pada orang lain. Mereka takut kalau-kalau nanti malah makin diejek atau ditertawakan. Alhasil anak-anak ini memilih untuk menerima bullying bahkan ikut tertawa dengan candaan tersebut meski mereka merasa sedih dan tertekan.

Berakibat Fatal, Moms Wajib Tahu Dampak Bullying Pada Anak!
source: https://www.factretriever.com

Bullying di Sekolah

Seperti yang sudah sebelumnya, kasus bullying banyak terjadi di lingkungan pendidikan. KPAI sendiri mencatat ada 369 kasus pengaduan masalah bullying di lingkungan pendidikan atau sekolah. Contoh umum kasus bullying di sekolah seperti kakak kelas melabrak adik kelas karena dinilai sombong.

Masa orientasi siswa yang berakhir buruk karena sikap kakak kelas yang berlebihan terhadap siswa baru. Teman sekelas yang dianggap aneh tidak diajak berteman dan dikucilkan.

Mungkin sekilas kasus tersebut mirip dengan sinetron, tapi moms percaya deh kalau kasus ini nyata dan benar-benar terjadi. Para pelaku bully ini mendapat kepuasan dari menindas orang.

Ia merasa lebih kuat dan berkuasa karena ditakuti banyak orang. Tak jarang juga mereka berpikir bahwa dengan mem-bully maka ia bisa mendapat kepopuleran di sekolah karena ditakuti siswa lain.

baca juga
Berakibat Fatal, Moms Wajib Tahu Dampak Bullying Pada Anak!
source: https://www.workingmother.com

Akibat Bullying Pada Anak

Berdasarkan penelitian dari King’s Collage London, disebutkan bahwa anak-anak yang ketika masa kecilnya mengalami bullying memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan dan depresi. Anak yang dibully juga lebih suka menyendiri karena merasa nggak ada orang yang bisa dipercaya. Mereka juga merasa tidak aman berada di lingkungan sekolah.

Yang lebih buruk lagi, nilai anak bisa turun, mereka cenderung menilai diri sendiri rendah, dan semua akibat ini bisa berujung pada tindakan bunuh diri. Anak merasa tidak dihargai dan tidak diharapkan oleh orang lain, sehingga ia merasa jika lebih baik tidak berada di lingkungan masyarakat. Ngeri banget kan moms?