Bullying dan Kekerasan Seksual, Apakah Perbedaannya?

Kekerasan fisik dan seksual yang menimpa Audrey begitu menggemparkan dan membuat miris hati netizen. Perundungan atau bullying yang dilakukan oleh 12 remaja perempuan usia SMA kepada Audrey merupakan teguran keras bagi kita sebagai orangtua, bahwa anak-anak kita sejatinya tengah menghadapi krisis moral dan cinta kasih yang serius terhadap sesamanya. 

Hanya karena dipicu oleh urusan asmara antara salah seorang pelaku perundungan dan kakak sepupu Audrey, para pelaku pun tega melakukan kekerasan fisik dan seksual berupa penjambakan, pemukulan, pemakian, membenturkan kepala Audrey ke aspal hingga yang paling miris adalah dugaan kekerasan seksual yang mengakibatkan syok dan trauma fisik juga psikis pada Audrey.

Dari sini, Moms sebagai orangtua perlu lebih jeli lagi untuk mengetahui apakah perbedaan bullying dan kekerasan seksual? Dan apakah dampak buruk bullying pada anak yang wajib kita waspadai?

Bullying dan Kekerasan Seksual, Apakah Perbedaannya?

Memahami Definisi Bullying dan Kekerasan Seksual, Apa Saja Ciri-Cirinya?


Secara definisi, perundungan atau bullying adalah suatu tindakan di mana terjadi penekanan, aksi menyakiti atau mengontrol dengan kekerasan oleh satu atau sekelompok orang terhadap seseorang yang dianggap lemah atau minoritas. 

Bullying secara fisik bisa berbentuk pemukulan, mendorong, menjambak, menendang dan lain sebagainya. Namun, aksi menjahili seperti menempelkan bekas permen karet, mencoret bagian belakang baju dengan kalimat tidak pantas atau menempelkan tulisan yang mempermalukan anak juga bisa dianggap bullying fisik lho, Moms!

Selain secara fisik, bullying juga bisa hadir dalam bentuk psikis, seperti teror, intimidasi, pengucilan, hingga memaki dan berkata-kata kasar baik secara langsung maupun seperti yang marak terjadi yaitu melalui komentar di sosial media. Biasanya yang menjadi subjek bullying adalah kondisi fisik, ekonomi, akademis maupun psikis dari korban.

Mirisnya, apa yang terjadi pada Audrey diduga tak hanya sebatas bullying, namun juga adanya dugaan kekerasan fisik dan seksual oleh para pelaku yang bertujuan untuk memberikan trauma pada organ vital Audrey. 

Jadi, sebenarnya perbedaan bullying dan kekerasan seksual apakah memang ada?

Secara definisi, kekerasan seksual berarti segala perilaku pemaksaan atau penekanan yang berorientasi pada kegiatan seksual atau yang melibatkan organ-organ seksual korban sebagai objek kekerasan, baik secara fisik maupun verbal.

​​​​​​Melihat hal ini, kekerasan seksual sebagai aksi penekanan atau represi seksual dari pelaku pada korban meski berbeda secara definisi, sebenarnya juga termasuk dalam kegiatan perundungan atau bullying. Tetapi, sebaliknya tidak semua aksi bullying merupakan aksi kekerasan seksual apabila tidak melibatkan aspek-aspek seksual dalam prakteknya.
Memahami Definisi Bullying dan Kekerasan Seksual, Apa Saja Ciri-Cirinya?
baca juga

Mari Cegah Anak dari Dampak Buruk Bullying dan Menjadi Pembully, Bagaimana Caranya?

Moms, jika kita mau menyadari, sebenarnya kasus Justice for Audrey adalah teguran bagi kita semua sebagai orangtua dan significant others dewasa di sekeliling anak-anak kita. Pasalnya, baik korban maupun pelaku sejatinya adalah anak-anak remaja yang masih berada dalam usia pengasuhan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orangtua. Menyikapi kasus ini, kita sebagai orangtua sebaiknya semakin bijak dan jeli dalam mengenali pola pergaulan dan interaksi sosial anak-anak, baik nyata maupun virtual. 

Apa saja yang diakses anak di sosial media? Dengan siapa anak-anak kita bergaul dan mendapatkan informasi-informasi? Dan yang terpenting, apa yang sebenarnya sedang dialami dan dirasakan oleh anak-anak kita dalam kehidupannya ketika berada di luar jangkauan kita? Semuanya masih merupakan tanggung jawab kita sebagai orangtua, Moms.

Dampak buruk bullying pada anak sangat serius. Trauma fisik dan psikis yang dialami oleh korban akan hidup selamanya dan bisa jadi membuat korban tidak bisa mempercayai lingkungannya dengan mudah. Depresi, stress serta gangguan kesehatan mental dan kepribadian juga dapat mengancam anak korban bullying serta pelecehan seksual apabila tidak ditangani dengan baik.

Selain pada korban, sebagai orangtua dan orang dewasa di sekitar anak-anak sebaiknya kita juga tak luput menaruh perhatian pada kondisi psikologis para pelaku. Tanpa membenarkan perbuatan para pelaku, hal ini merupakan momentum yang tepat bagi kita sebagai orangtua atau individu dewasa di sekitar anak untuk melakukan introspeksi terhadap pola asuh dan pola didik terhadap anak-anak.

Sebab, anak tetaplah anak dengan segala gejolak serta keterbatasan pemikiran dan kebijaksanaannya dalam bersikap serta berkeputusan. Maka sudah jadi tugas kita sebagai orangtua untuk selalu ada dan menjadi teman terbaik bagi anak dalam menghadapi gejolak-gejolak emosi yang terjadi dalam diri anak-anak kita.

Semoga Justice for Audrey menjadi gerbang bagi keadilan-keadilan yang lebih besar lagi bagi seluruh anak yang ada di dunia, dimulai dari keadilan dan kebijaksanaan kita dalam berpikir dan bersikap sebagai orangtua serta orang dewasa di sekitar anak-anak dalam lingkungan terdekat kita.

Mari Cegah Anak dari Dampak Buruk Bullying dan Menjadi Pembully, Bagaimana Caranya?